Sanksi Menanti Penolak Uang Receh – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Ekonomi & Bisnis

Sanksi Menanti Penolak Uang Receh

Sosialisasi kebangsentralan dan mengenal uang asli di Tongkuno, Muna.

Sosialisasi kebangsentralan dan mengenal uang asli di Tongkuno, Muna.

kendaripos.fajar.co.id,RAHA—Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sultra menegaskan pecahan uang logam rupiah mulai Rp 50-1.000 masih berlaku. Ini sekaligus menepis isu yang beredar di masyarakat bahwa pecahan Rp 50, Rp 100, dan Rp 200 sudah tidak berlaku lagi.

“Sesuai Undang-Undang No.7 tahun 2011 tentang uang disebutkan bahwa pihak-pihak yang menolak pembayaran dengan rupiah yang masih berlaku di wilayah NKRI, dapat dikenakan pidana. Hukuman maksimal satu tahun penjara dan denda maksimal Rp 200 juta,” tukas Humas BI Sultra, Dedy Prasetyo, saat sosialisasi Kebangsentralan dan Ciri Keaslian Uang Rupiah (CIKUR) di Kecamatan Tongkuno, Muna, akhir pekan lalu.

Sosialisasi pihak BI bersama komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI) Sultra melalui edukasi kepada masyarakat itu dilakukan di SMAN 1 Tongkuno dan masyarakat umum di Pasar Wakuru, Tongkuno, Muna, yang dikemas dalam Bazar uang receh.

Hasil identifikasi awal BI menemukan bahwa, uang logam pecahan Rp 1.000 dan Rp 500 masih banyak digunakan. Hanya saja, untuk pecahan di bawahnya sudah sedikit sekali penggunaannya. Padahal, uang pecahan Rp 200 Tahun Emisi (TE) 2003, Rp 100 dan Rp 50 TE 1999 rupiah masih berlaku.

Berdasarkan pengakuan dari beberapa pedagang di pasar, kata dia, sedikitnya penggunaan uang pecahan Rp 200 dan Rp 100 dikarenakan masyarakat sudah jarang menggunakannya untuk pembayaran. Disamping alasan harga barang yang hampir tidak ada lagi dengan satuan harga dimaksud.  “Rata-rata harga barang disini dalam kelipatan Rp 500 dan Rp 1.000. Jadi masyarakat juga jarang pakai itu pecahan 200 dan 100,” ujar salah satu pedagang di Pasar Wakuru, saat ditemui Dedy Prasetyo.

Menyikapi kondisi ini, BI yang didukung oleh Komunitas GenBI Sultra dan Asosiasi Pemuda Pasar Sentral Wakuru (APSW) menyelenggarakan kegiatan “Bazar Uang Receh”. Dalam bazar tersebut masyarakat diberikan pemahaman bahwa uang logam pecahan Rp 200 TE 2003 dan Rp 100 serta Rp 50 TE 1999 masih berlaku. “Pada kesempatan terpisah perbankan di Raha menyatakan kesediaannya untuk melayani penyetoran dan kebutuhan uang logam dari masyarakat,” lanjutnya.

Kasir BI, Dadan Priyoko, menjelaskan, selain edukasi terkait uang logam, BI juga memberikan sosialisasi Ciri Keaslian Uang Rupiah. Harapannya masyarakat di Tongkuno dapat membedakan uang palsu dan asli sehingga terhindar dari kejahatan pemalsuan uang. “Untuk membedakan uang palsu atau asli, masyarakat dapat menggunakan teknik 3 D yakni dilihat, diraba, diterawang,” ujarnya. (yusup)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top