Perayaan HUT Sultra Ditutup, Sukhoi dan Terjun Payung Beraksi – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Perayaan HUT Sultra Ditutup, Sukhoi dan Terjun Payung Beraksi

kendaripos.fajar.co.idKENDARI- Ribuan pasang mata manusia yang kemarin berada di Kolaka mendadak mendongak, melihat ke langit. Kemarin, sekira pukul 10.00 Wita, muncul tiga jet tempur dari arah Teluk Bone, melakukan manuver yang atraktif, menghibur masyarakat yang sedang menikmati penutupan acara perayaan HUT Sultra, ke 52. Setelah lebih 10 menit mempertontonkan kehebatannya, pesawat jenis sukhoi itu terbang kembali ke pangkalan udara (Lanud) Hasanuddin Makassar.

kembang api

Tak hanya itu, sebuah pesawat Hercules juga muncul. Dari perutnya, keluar setidaknya 30 orang penerjun payung. Dari atas ketinggian 7.000 kaki, prajurit-prajurit penerbang AU itu melompat, mengembangkan parasut dan mendarat mulus di area pusat acara, dengan membawa bendera lambang seluruh kabupaten/kota se Sultra, bendera lambang propinsi, bendera lambang sponsor kegiatan Halo Sultra, dan bendera lambang kesatuan TNI dan Polri. Semua penerjun mendapat aplaus dari penonton karena mendarat dengan baik.

pesawat

Tidak hanya atraksi terjun payung, atraksi tiga sukhoi yang menyedot perhatian warga Kolaka, pada malam sebelumnya warga Kolaka juga telah dihibur dengan letusan kembang api selama 10 menit. Dimana pesta kembang api itu diklaim oleh Nur Alam sebagai letusan kembang api terbesar yang pernah ada di Indonesia.

BACA JUGA :  Gubernur : Semua Baju Adat Boleh di HUT Sultra, Asal Menutup Aurat

Usai menyambut kehadiran para penerjun itu, Gubernur Sultra Nur Alam menjelaskan bahwa perayaan HUT Sultra dilakukan bergilir di seluruh kabupaten/kota se Sultra dengan tujuan seluruh masyarakat dapat  merasakan dan menikmati perayaannya. “Jangan membandingkan kegiatan secara langsung antara manfaat kegiatan perayaan dengan kegiatan perayaan fisik semata. Sebab kegiatan ini memberikan manfaat yang besar. Tidak hanya manfaat finansial, tetapi juga manfaat ekonomi, sosial budaya serta percepatan pembangunan infrastruktur,” imbuhnya.

terjun

Kemarin, sebelum atraksi Sukhoi dan terjun payung, puncak HUT Sultra dilakukan dengan upacara yang diawali marching band dari Satpol PP Sultra disusul oleh barisan TNI, Polri, hinggga pawai 12 kecamatan se Kabupaten Kolaka. Upacara itu dipimpin langsung Gubernur Nur Alam. Turut hadir beberapa kepala daerah se Sultra dan pimpinan SKPD dan Muspida Propinsi.

Dalam amanatnya, Nur Alam membeberkan program-program gubernur Sultra dari gubernur Pertama, J Wayong pada periode 1964-1965, hingga dirinya bersama Saleh Lasata pada periode sekarang. Dimana pasangan dengan dengan akronim NUSA itu terkenal dengan program Bahteramas yang memprioritaskan pendidikan, kesehatan, serta dana block grand sebesar Rp 100 juta per desa/kelurahan.

BACA JUGA :  Gubernur : Semua Baju Adat Boleh di HUT Sultra, Asal Menutup Aurat

Dalam kesempatan itu, mantan Wakil Ketua DPRD Sultra itu kembali mengingatkan para kepala daerah agar menjaga hubungannya dengan baik dengan berbagai pihak dan melahirkan program yang bermanfaat bagi masyarakat dalam waktu panjang. “Pemimpin boleh silih berganti, tapi arah pembangunan harus konsisten, berkesinambungan dan terukur. Marilah kita berhenti berpikir secara kotak-kotak, membangun secara sporadis dan menetapkan kebijakan dengan manfaat sesaat,” pintanya.

Nur Alam juga mengajak kepada seluruh kepala daerah untuk meniru kesuksesan yang telah dilakukan oleh daerah lain. Sebab hal itu merupakan salah satu cara yang baik dalam membangun daerah. “Kita perlu belajar dan mengakui kesuksesan yang telah diraih daerah lain. Kita harus berusaha mengikuti jejaknya demi membangun daerah,” katanya.

Pasangan Saleh Lasata itu meminta kepada kepala daerah yang baru menduduki jabatan untuk mempersiapkan administrasi dan perencanaan kegiatan dengan sebaik-baiknya. Sedangkan bagi yang akan mengakhiri masa jabatannya, ia juga mmeinta agar membenahi administrasi kegiatan dengan sebaik-sebaiknya agar segala sesuatunya dapat dipertanggungjawabkan.

Ketua DPW PAN tiga periode itu menambahkan, agar para kepala daerah tidak mengumbar kekuasaan. Sebab tanpa adanya dukungan dari pemerintah propinsi atau kabupaten/kota, maka pembangunan di daerah itu akan terhambat. Olehnya itu ia meminta bupati/walikota untuk tetap menjaga hubungannya agar pembangunan dapat berjalan lancar, berkesinambungan, dan terukur.

BACA JUGA :  Gubernur : Semua Baju Adat Boleh di HUT Sultra, Asal Menutup Aurat

“Tidak sejengkal wilayah di propinsi ini menjadi wilayah gubernur. Tetapi tidak sejengkal pun wilayah yang tidak bisa diurus oleh gubernur di propinsi ini,” pesannya. Setelah upacara, suami Tina Nur Alam itu melakukan penandatanganan batas wilayah antara Propinsi Sultra dan Kepulauan Buton (Kepton). Dimana pada perayaan HUT ke 51 yang dirayakan di Koltim pada tahun lalu di lakukan pengusulan pembentukan Propinsi Kepton.

Lanjut Nur Alam, persiapan Kepton telah dicanangkan menjadi syarat dalam pembentukan DOB. Saat ini, perjuangan pembentukan Kepton terus menunjukkan progres. “Proses konsultasi dan pemenuhan syarat administrasi yang diminta oleh  lembaga negara maupun pemerintahan yang ada di pusat. Sebagai salah satu pilar dalam pembentukan Sultra. Maka masyarakat dan pemerintah Buton tetap tercatat dalam sejarah bahwa Propinsi Kepton pernah menjadi bagian dari Sultra dan kita tetap bersaudara,” tambahnya. (fad)

Komentar

komentar


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 1001
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top