Banjir di Kolut, Jembatan Trans Sulawesi Rusak – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Banjir di Kolut, Jembatan Trans Sulawesi Rusak

kendaripos.fajar.co.id, LASUSUA- Hujan yang mengguyur Kolaka Utara (Kolut) menyebabkan Sungai Lapai, Kecamatan Tiwu meluap, kemarin malam (19/4) sekira pukul 02.00 Wita. Akibatnya, tiga desa terendam. Rumah yang tergenang air dari tiga desa tersebut diperkirakan mencapai 213 unit. Banjir tersebut juga merusak jembatan Trans Sulawesi dan tak bisa dilewati kendaraan.

jembatan alternatif putus dan proses pengerukan sungai (4)

Tiga desa yang dilanda banjir yakni Desa Watunohu, Desa Tahibua dan Desa Lapai. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun, kerugian masyarakat ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Jembatan Trans Sulawesi di Desa Lametuna miring akibat tanggul penahan jembatan terkikis arus sungai. Di Desa Lametuna, banjir tidak masuk ke pemukiman warga.

Untungnya, masih ada jalan alternatif yang bisa digunakan yakni melewati Desa Sawangaoha menuju Desa Jabal Nur. Namun, kendaraan yang bisa melintasi jalur tersebut hanya mobil kecil dan kendaraan roda dua. Sementara, truk dan mobil ekspedisi memilih tetap bertahan di sekitar jembatan menunggu proses normalisasi sungai tuntas.
Warga Lapai, Hj. Fatmawati mengungkapkan, air mulai naik ke pemukiman sekira pukul 02.00 Wita. “Saya sedang tidur. Lalu banyak orang berteriak, banjir. Saya keluar dari rumah, airnya sudah sampai lutut. Jalanan pun sudah tertutup air. Saya buru-buru selamatkan barang-barang dan menyimpannya di tempat lebih tinggi,” ungkap Hj Fatmawati.

Di Desa Lapai, diperkirakan rumah warga yang tergenang air mencapai 53 unit. Lokasinya cukup jauh dari sungai, namun luapan air mencapai pemukiman warga. Hingga pukul 14.00 wita, kemarin, masih ada beberapa rumah yang tergenang. Sebagian warga sedang membersihkan rumahnya setelah air surut. Sementara, di Desa Tahibua, diperkirakan ada sekitar 65 unit rumah warga yang dilanda banjir.

Pipa PDAM juga rusak. sebagian pipa hanyut dibawa arus sungai. Aliran listrik di desa tersebut juga sempat dipadamkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun saat Kendari Pos meninggalkan lokasi, listrik sudah berfungsi dengan baik.

Desa yang paling merasakan musibah tersebut yakni Desa Watunohu. Sebanyak 95 unit rumah tergenang air. Sebuah jembatan di desa ini terputus akibat derasnya air sungai. Salah seorang warga Desa Watunohu, Supangat mengungkapkan, hujan memang deras. Arus sungai cukup deras. Luapan sungai sudah terjadi dua kali. Namun, banjir yang terjadi kemarin, paling parah.

Kades Watunohu, Rusli mengatakan, aktivitas sekolah, pelayanan kesehatan dan perkantoran diliburkan. Luapan sungai dikhawatirkan semakin tinggi. “Tadi pagi tidak hujan di sini sebenarnya. Pagi-pagi sekali masih normal. Tapi tidak cukup setengah jam sungai meluap. Hujan yang terjadi di gunung, airnya baru sampai ke desa kami,” ujarnya.
Sejumlah alat berat dikerahkan untuk melakukan normalisasi. Termasuk memindahkan material tanah yang menghalangi jalan. Meski demikian, jalan trans sulawesi tersebut belum bisa dilewati kendaraan.

Atas musibah itu, BPBD Kolut juga telah menyerahkan bantuan minuman, makan dan  lainnya kepada korban banjir. Rencananya, bantuan dari Dinsos Kolut hari ini akan disalurkan kepada korban banjir.
Pelaksana Harian BPBD Kolut, Hardi mengatakan, untuk sementara belum diketahui secara pasti jumlah rumah yang terendam banjir. Yang jelas, kata dia, ketiga desa yang ada di tempat berbeda itu semua rumah tergenang. “Laporan dari aparat desa masih sementara ditunggu,” ujarnya. (rus/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top