13 Bulan Tinggalkan Keluarga, Prajurit Woroagi ini Kembali … – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Metro Kendari

13 Bulan Tinggalkan Keluarga, Prajurit Woroagi ini Kembali …

kendaripos.fajar.co.id, KENDARI– Setelah 13 bulan bertugas melaksanakan misi kemanusiaan di Sudan (salah satu negara di Benua Afrika), 7 prajurit Yonif 725 Woroagi kembali ke Kendari dengan selamat. Pasukan pengamanan yang dipimpin Serka Martinus selaku prajurit tertua. Kedatangan mereka disambut di Korem 143 Halu Oleo (HO), Selasa (19/4), pukul 15.00 Wita yang dipimpin langsung Kasrem 143 HO Letkol Inf Drs. Alamsyah, M.Si.

Pengalungan bunga dan penyambutan prajurit Yonif 725 Woroagi yang baru saja melaksanakan pengamanan di Sudan. egi (4)

Menurut Letkol Inf Alamsyah, para personil tersebut baru saja menjalankan misi kemanusiaan yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Yon Komposit TNI Kongo XXXV-A/Unamid Darfur Sudan. Menurutnya, kegiatan itu mewakili Indonesia berangkat ke negeri konflik bersamaan dengan ratusan prajurit dari TNI AD, AU dan AL. “Pasukan ini baru saja melaksanakan misi kemanusiaan dan ikut serta menjaga perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri,” ujar Alamsyah.

Alamsyah tak lupa mengucapkan selamat datang serta mengungkapkan kebanggaannya kepada para prajurit tangguh tersebut karena telah membawa nama harum satuannya dan bangsa. Selain itu, ada penghargaan yang diberikan kepada mereka. Menurutnya, acara penyambutan itu juga merupakan penghargaan. “Ini adalah prajurit pilihan bangsa. Ini adalah prajurit terbaik kita. Kami bangga mereka kembali usai membawa nama besar bangsa kita. Kami harap prajurit kita ini dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan lingkungan satuan Yonif 725 Woroagi,” paparnya.

Sementara Serka Martinus mewakili enam orang rekannya (Sertu Keiston, Sertu Risfan Rante, Sertu Remon, Serda Gilang, Kopda Amirulla dan Praka Arfan. B) mengungkap, dalam melaksanakan tugas negara itu mereka tidak mempunyai keahlian khusus. Mereka hanya mampu menguasai bahasa asing sebagai keahlian di tempat tugas. Namun di Sudan katanya, banyak hal yang dilakukannya. Di antaranya pengamanan VVIP. “Kami juga melakukan penjagaan terhadap masyarakat yang tidak jarang mendapat gangguan dari pemberontak. Untungnya dalam pengamanan yang kami lakukan, tidak ada kontak senjata dan semuanya aman,” ungkap Martinus.

Suka dukanya, kata pria asal Ambon ini, jika di Kendari khususnya Sultra merasakan suhu panas dan dingin mampu dihadapinya. Akan tetapi jika di Sudan menghadapi suhu panas sangat sulit karena cuacanya sangat ekstrem. “Kalau panas, ya panas sekali. Kita bergerak juga tidak keluar keringat. Inilah duka kami dalam bertugas. Sukanya, ya paling kita bisa membawa nama baik negara, mampu menjaga masyarakat Sudan dari pemberontak dan bisa bertemu prajurit seluruh dunia. Kami di sana paling sering memberikan pelajaran terhadap masyarakat, membaca dan berhitung. Membangun masjid dan menyiapkan air bersih masyarakat itu juga bagian tugas kami dalam bertugas,” kenangnya.

Sementara untuk menjaga hubungan harmonis dengan istri tercinta, mereka hanya menggunakan handphone untuk berkomunikasi. Barulah kemarin mereka sangat senang bisa bertemu langsung. “Alhamdulilah ini suatu pengalaman terbaik kami. Paling kita komunikasi saja lewat HP dengan istri kami. Iya ini sebentar istri-istri kami juga akan datang kesini,” katanya. (egy/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top