Musa La Ode Ali Hanafi, Dikagumi Media dan Pejabat di Mesir – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Musa La Ode Ali Hanafi, Dikagumi Media dan Pejabat di Mesir

Musa La Ode Ali Hanafi

Musa La Ode Ali Hanafi

kendaripos.fajar.co.id,JAKARTA—-Musa La Ode Abu Hanafi, sang hafiz (penghapal Alquran) itu, telah memoncerkan nama Indonesia di kancah dunia. Bocah 7 tahun 10 bulan itu meraih peringkat ketiga pada ajang MHQ Internasional di Sharm El-Sheikh, Mesir, 10-14 April lalu. Seperti apa perjuangannya?

MEDIA sosial belakangan ramai memperbincangkan prestasi Musa. Di akun facebook-nya, Ayah Musa, La Ode Abu Hanafi selalu memposting tahap demi tahap bagaimana Musa mengikuti Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) Internasional 2016, kelas 30 juz di Mesir.

Sampai pada 14 April lalu, dia menulis di dinding facebook-nya, “Juara 3 MHQ Internasional Mesir, Musa.”

La Ode juga mengucapkan terimakasih kepada ibu kandungnya atas doa untuk cucu tercinta. Lalu istrinya, Yulianti Ummu Musa yang senantiasa menunggu dirinya.  Ada lagi, terimakasih kepada Bupati  Bangka Barat Farhan Ali. Kemenang Pusat, KBRI Mesir, dan Kesra Bangka. “Alhamdulillah,” tulisnya.

Postingan itu mendapat 8.800 tanda like dan 460 komentar pujian dan ucapan selamat dari netizen. Seperti akun Sami Lestari menulis “Selamat ya Kak Musa, kebanggaan bangsa Indonesia. Masya Allah, luar biasa,” kata dia.

Ucapan selamat juga datang dari beberapa akun lain, seperti Imay Ciie Adillah, “Alhamdulillah ya Allah, masih kecil sudah harumkan nama Indonesia,” tulisnya.

Lalu akun Rina Hasan mendoakan Musa agar selalu sukses. “Barokalloh fiik Musa. Umi bangga sama kamu, Nak. Sukses sukses suksesss.”

Di waktu yang sama, La Ode juga memperbarui foto profilnya, yakni foto dia bersama Musa mengenakan peci putih, baju batik khas Nusantara, dan celana panjang hitam saat berada di Mesir.

Musa dan ayahnya sendiri berangkat ke Kairo pada 8 April lalu. Dia menjadi wakil Indonesia di MHQ Internasional setelah memenangkan STQ nasional dan Tingkat Provinsi Bangka Belitung pada 2015 lalu.

La Ode menjelaskan, pada saat pertama kali mengikuti MHQ, Musa berhasil tampil percaya diri, meskipun dia menjadi peserta yang termuda.  “Anak saya mengikuti lomba Hafiz Al Quraan 30 juz untuk golongan anak-anak. Yang mengikuti lomba ini umur peserta maksimal 12 tahun, tapi anak saya termuda baru berumur 7 tahun 10 bulan. Peserta lainnya rata-rata 8 tahun ke atas,” kata dia, yang menambahkan Musa lahir di Mentok, Bangka Barat, pada 26 Juli 2008.

Mungkin karena masih bocah ini, Musa menjadi daya tarik. Tak heran bila jurnalis Kantor Berita MENA mewawancarai Musa dan orangtuanya pada hari pertama kedatangan mereka.

Keesok harinya, hasil wawancara sudah dimuat di sejumlah media Mesir dengan judul, “Indonesia Berpartisipasi pada MTQ Internasional Sharm El-Sheikh dengan Peserta Paling Kecil”.

Dia sendiri tak menyangka bisa menang mengingat hafiz pesaing juga banyak. Ajang ini diikuti peserta dari 60 negara, di antaranya tuan rumah Mesir, Sudan, Arab Saudi, Kuwait, Maroko, Chad, Aljazair, Mauritania, Yaman, Bahrain, Nigeria, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Australia, Ukraina, Indonesia, dan negara lainnya.

Waktu datang ke Mesir malam hari. “Musa langsung ikut tes tahap pertama. Karena datang telat saya tidak tahu berapa pastinya peserta kelas 30 juz untuk anak-anak,” sebutnya. Ternyata, Musa lulus ke tahap kedua. “Di tahap 2 setahu saya tinggal 6 peserta,” tambahnya.

Seperti peserta lomba cabang Hifzil Quran golongan anak-anak lainnya, Musa diminta menuntaskan 6 soal. Itu berhasil dilalui Musa dengan tenang, tanpa ada salah maupun lupa.

Hal itu berbeda dengan peserta lomba lainnya yang rata-rata mengalami lupa. Bahkan diingatkan dan dibetulkan oleh dewan juri.

Penampilan Musa di final direkamnya ayahnya, La Ode Abu Hanafi. Video itu pun sudah diunggah di facebook. Dalam video itu tampak Musa menjawab tantangan yang diberikan dewan juri dengan lancar.

“Semua lancar. Enam pertanyaan biiznillah lancar,” tulis dia. “Alhmadulillah Allah memberikan kemudahan kepada Abang Musa untuk menjawab pertanyaan tanpa salah,” tambah dia.

Namun bukan tanpa kekurangan. Menurut La Ode, putranya itu masih belum sempurna saat melafalkan huruf “ra” dan “ain”.

“Meski itu tidak ditegur juri, tapi itu mengurangi penilaian,” ujar Laode. Dikutip dalam laman iqna.ir disiarkan menggunakan bahasa Arab dan diterjemahkan Facebook Al-Faqir dalam laman komentar status La Ode, Rabu (13/4/2016) pukul 22.55 WIB, Musa memperoleh nilai 91,17.

Duduk di peringkat pertama Ala Muhammad (9 tahun) dari Provinsi Buhairah dengan nilai 98,58. Sementara peringkat kedua adalah Bilal Muhammad Sayyid (10 tahun).

Lancarnya bacaan dan ketenangan Musa dalam membawakan ayat-ayat Alquran yang ditanyakan membuat Ketua Dewan Juri Sheikh Helmy Gamal, Wakil Ketua Persatuan Quraa Mesir dan sejumlah hadirin meneteskan air mata.

Decak kagum terhadap penampilan hafiz cilik Indonesia itu tak hanya ditunjukkan dewan juri dan para hadirin. Para peserta yang menjadi saingan Musa pun demikian.

Setelah tampil, Musa langsung diserbu hadirin. Mereka minta foto bersama dan mencium kepala Musa sebagai bentuk takzim sesuai budaya masyarakat Arab. Tak mau ketinggalan, dewan juri dan panitia dari Kementerian Wakaf Mesir ikut pula meminta Musa untuk berfoto dengan mereka.

Hal itu tidak mereka lakukan pada peserta MTQ lainnya. Meskipun usianya masih kecil dan lidahnya masih cadel, Musa dinilai telah menjadi juara di hati dewan juri dan para hadirin.

Hal itu karena menurut Syeikh Helmy Gamal bacaan Alquran diatur dengan kaedah dan hukum yang jelas dan tidak bisa dikesampingkan antara lain terkait makharijul huruf.

Di acara penutupan, Menteri Wakaf Mesir Prof Dr Mohamed Mochtar Gomaa memanggil Musa dan Abu Hanafi secara khusus. Di kesempatan itu Menteri Gomaa atas nama pemerintah Mesir mengundang Musa dan Hanafi pada peringatan Malam Lailatul Qadar pada Ramadan mendatang.

Presiden Mesir akan memberi penghargaan secara langsung kepada Musa dan menanggung biaya tiket dan akomodasi selama mereka berada di Mesir.

Menteri Gomaa menyampaikan takjubnya kepada Musa yang berusia paling kecil itu dan tak bisa berbahasa Arab, tapi menghafal Al-Quran dengan sempurna. (jpnn)

 

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top