Taklukkan Barca, Ini Pembuktian Zidane – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Olahraga

Taklukkan Barca, Ini Pembuktian Zidane

Selebrasi Ronaldo usai mencetak gol penentu dalam laga El clasico

Selebrasi Ronaldo usai mencetak gol penentu dalam laga El clasico

KENDARINEWS.COM, BARCELONA – Di luar dugaan banyak orang, El Clasico jilid II musim ini dimenangi Real Madrid justru saat bertarung di kandang Barcelona. Kemenangan 2-1 malam tadi, memberikan banyak catatan bagi kedua klub tersebut. Dalam pertandingan pertama di Santiago Bernabeu, Madrid mendapat malu ketika kalah telak 0-4 yang membuat posisi entrenador Rafael Benitez oleng sebelum akhirnya benar-benar dipecat.

Dalam pertandingan tersebut, dua gol Madrid dicetak Karim Benzema (62) dan Cristiano Ronaldo (85) setelah ketinggalan gol sundulan Gerard Pique (56). Yang menarik, gol kedua yang dicetak Ronaldo, terjadi setelah sang kapten Sergio Ramos diusir ke luar lapangan setelah mendapatkan kartu kuning keduanya menit ke-83.

Bagi Madrid, kemenangan ini membangkitkan lagi semangat lagi. Sebagian masih optimis Madrid bisa juara di La Liga. Dengan selisih 8 poin, hitung-hitungan amat sulit Madrid bisa juara. Tetapi dalam sepakbola, apapun bisa terjadi. Optimisme para pendukung Madrid juga boleh-boleh saja.

Namun yang lebih pasti, kemenangan ini bisa menjadi modal baik bagi Madrid untuk meraih gelar Liga Champions, satu-satunya gelar paling realistis yang bisa diraih Madrid. Garett Bale dkk akan bertarung melawan jagoan Jerman, Wolfsbrug, di perempatfinal. Dibanding Madrid, klub yang saham mayoritasnya dimiliki oleh raksasa otomotif dunia, VW, ini, memang tidak ada “apa-apanya”. Namun, sekali lagi, dalam sepakbola, semuanya bisa saja terjadi.

Dalam pertandingan malam tadi, banyak pengamat yang heran, mengapa pertahanan Barcelona begitu buruk? Madrid yang mengandalkan serangan balik yang sering diawali oleh Toni Kroos yang memberikan servis untuk Ronaldo, Benzema, dan Bale, dengan mudah sering langsung masuk ke pertahanan Pique-Mascherano dan malah beberapa kali tinggal berhadapan dengan kiper Claudio Bravo.

BACA JUGA :  Pedayung Sultra Dilarang Pindah Daerah

Barcelona terakhir kali merasakan kekalahan pada 3 Oktober silam. Artinya, sudah genap enam bulan Barca tak tersentuh hasil negatif di semua kompetisi. Catatan tak terkalahkan barca ini pun sudah mencapai 39 pertandingan. Madrid membuktikan bahwa Barca bisa dikalahkan.

Madrid memang harus menghadapi gempuran Barca pada babak pertama, namun pertahanan mereka mampu meredam semua ancaman Barca. Pada 30 menit akhir pertandingan, Madrid seperti meledak dan menunjukkan daya dobrak mereka yang eksplosif. Tak kurang dari lima peluang emas sukses diciptakan Los Blancos di setengah jam terakhir laga.

Barca tentu berharap pesan ini tak terbaca oleh klub lain, utamanya di kancah Eropa yang persaingannya mengerikan. Selama ini ada semacam argumen generik yang digunakan untuk mengkritik  Ronaldo. Yang pertama, Ronaldo disebut hanya bisa mencetak gol dengan cara yang mudah seperti tap-in atau penalti. Yang kedua, Ronaldo disebut hanya bisa mencetak gol melawan tim kecil saat timnya sudah unggul jauh.

Laga kontra Barcelona ini menjadi ajang Ronaldo untuk membungkam semua kritikan yang datang padanya. Ronaldo mencetak gol penentu kemenangan Madrid dalam partai penuh gengsi dan terbesar di Spanyol ini.  Proses penciptaan gol itu pun tidak mudah. Ronaldo menerima umpan silang Garet Bale dengan dadanya, melewati gangguan lawan dan melepas tembakan yang melewati dua kaki Bravo.

Ronaldo saat ini sudah mengemas 29 gol dalam 31 pertandingan La Liga. Ronaldo juga sudah menciptakan 13 gol di ajang Liga Champions. Masih kurang subur?

Di kubu Barcelona, Luis Enrique adalah pelatih yang sangat piawai dalam mengatur rotasi permainan Barcelona. Ia berusaha untuk sebisa mungkin menurunkan pemain yang berbeda agar semua pemainnya bisa mendapatkan istirahat yang cukup. Namun upaya Enrique ini bisa jadi belum cukup.

BACA JUGA :  Madrid Siapkan Dana Rekrut Neymar sebagai Pengganti CR7

Trio MSN (Messi, Suarez dan Neymar) nampak tidak segarang biasanya saat bertemu Madrid. Bukan kebetulan karena mereka bertiga baru saja kembali dari membela negara masing-asing di ajang Kualifikasi Piala Dunia Zona CONMEBOL. Selain harus menjalani pertandingan, tiga pemain itu juga harus menjalani perjalanan yang sangat panjang.

Andres Iniesta sebelumnya sudah membantah bahwa faktor fisik bukan penentu dalam laga El Clasico ini. Iniesta tidak yakin bahwa Madrid lebih bugar dari Barca. Iniesta menganggap bahwa Madrid hanya lebih cerdas dan disiplin dalam aspek positioning mereka. Namun Barca terlihat sudah kalah berlari pada 30 menit terakhir pertandingan. Nampak bahwa lini depan Madrid memang lebih segar dibanding Barca.

Selain itu, Barca juga sudah bermain 13 pertandingan lebih banyak dibanding Real Madrid musim ini. Faktor kelelahan juga harus benar-benar diperhitungkan jika Barca ingin meraih target mempertahankan gelar treble winners mereka. Barca mungkin sudah nyaris menggapai gelar juara La Liga, namun Liga Champions akan menghadirkan tantangan yang jauh berbeda.

Pembuktian Zidane

Sejatinya, Barcelona ingin memberikan penghormatan untuk seorang jenius, seorang legenda; Johan Cruyff, dalam pertandingan ini. Sosok asal Belanda itu dikenal bukan saja karena hebat sebagai pemain, tapi juga visioner sebagai pelatih.

Uniknya, laga yang sama juga bisa menjadi awal bagi sosok yang sama bagi Real Madrid; Zinedine Zidane. Kemampuan Zidane sebagai pemain sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Kini yang banyak diperdebatkan adalah apakah sosok sehebat Zidane akan mampu melanjutkan kesuksesannya sebagai pemain ketika sudah pindah profesi menjadi pelatih.

BACA JUGA :  Satu Lagi, Bupati Pakai Rompi KPK

Zidane sudah menunjukkan kemampuan taktisnya dalam pertandingan paling sulit yang mungkin didapat Madrid. Zidane berani mencadangkan Isco dan James Rodriguez untuk memberikan tempat kepada Casemiro yang lebih bisa membawa keseimbangan permainan di lini tengah Madrid. Hasilnya pun terlihat. Meski sering angin-anginan, pemain yang musim lalu dipinjamkan ke FC Porto ini bisa bermain baik. Dia menjadi flank di antara Kroos dan Luka Modric yang bergantian menyerang. Dengan posisi Casemiro yang tetap berada di depan Ramos-Pepe, Madrid sangat fleksibel dalam menyerang balik dengan Kroos dan Modric sebagai poros awalnya.

Zidane juga pandai membaca permainan dan menerjemahkannya dalam pergantian pemain. Masuknya Jese Rodriguez untuk menggantikan Karim Benzema benar-benar menghidupkan serangan Madrid di fase akhir pertandingan. Madrid secara umum memang tampil defensif, tapi mereka pulang dengan kemenangan yang mereka inginkan.

“Saya hanya berupaya agar Barcelona tak mencetak gol lagi setelah sundulan Pique. Jika itu terjadi, saya tak yakin Benzema atau Ronaldo bisa mencetak gol. Saya ingin para gelandang bermain lebih ke dalam dan menyerang ketika ada kesempatan secara cepat. Dan itu terjadi. Saya berterima kasih untuk seluruh perjuangan pemain,” ujar Zidane yang wajahnya terlihat cerah usai pertandingan seperti dilansir Goal.

Ditambah tendangan Ronaldo yang menerpa mistar dan gol Bale yang dianulir –karena dianggap dia melakukan pelanggaran terhadap Jordi Alba, padahal dalam tayangan ulang, sentuhan yang terjadi terlihat sangat wajar– Madrid memang layak menang. Dan meskipun gelar tetap akan menjadi milik Barcelona, paling tidak Zidane sudah menjelaskan bahwa pelan tapi pasti, dia mampu mengeluarkan Madrid dari masalah akut seperti saat ditangani Benitez. (Berbagai Sumber/rpg)

Komentar

komentar


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 1001
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top