Gerhana Matahari Boleh Dilihat, Jangan Ditatap – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
HEADLINE NEWS

Gerhana Matahari Boleh Dilihat, Jangan Ditatap

lintasan gerhana matahari di Indonesia

lintasan gerhana matahari di Indonesia

KENDARINEWS.COM, KENDARI – Gerhana matahari, fenomena alam yang langka akan terjadi Rabu (9 Maret 2016) lusa. Gerhana matahari total pernah melintasi Sulawesi Tenggara 33 tahun silam tepatnya 11 Juni 1983. Ketika itu, masyarakat dilarang menyaksikan fenomena langka itu karena masih terbatasnya ilmu pengetahuan. Butuh siklus waktu 350 tahun untuk gerhana matahari total (100 persen) melintasi daerah yang sama. Hanya beberapa daerah tertentu saja yang berada di posisi garis khatulistiwa bisa dilintasi gerhana matahari total dalam kurun waktu lebih singkat.

Pada momentum itu, Rabu mendatang, BMKG Sultra memprakirakan gerhana matahari di Sultra dengan magnitudo tertinggi hanya 0,942 atau 94 persen yang melintasi Wanggudu (Konawe Utara) dan Lasusua (Kolaka Utara). Sementara, di Kota Kendari dengan magnitudo 0,921 atau hanya tertutup 92 persen. Sedang, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memprakirakan gerhana matahari di Kendari hanya 80 persen saja.

Gerhana matahari parsial ini akan berlangsung sekitar 1,5 hingga 3 menit. Sementara daerah lainnya, hanya bisa menyaksikan sebagian matahari tertutup bulan termasuk Sultra. Totalitas gerhana terlama terjadi pada satu titik di atas Samudra Pasifik, bagian utara Papua Nugini selama 4 menit 9 detik. Yang lebih istimewanya lagi adalah gerhana matahari bersamaan dengan Hari Raya Nyepi.

Meskipun gerhana matahari total tidak bisa terlihat di wilayah Sultra, namun suasana gelap tetap akan menyelimuti Bumi Anoa selama beberapa menit. Gerhana yang teramati dari Sultra dengan magnitudo terentang antara 0,942 hingga 0,871. Konawe Utara (Konut) dan Kolaka Utara (Kolut) merupakan daerah yang status gerhananya cukup besar. Pasalnya, status gerhananya hampir mencapai angka 1 magnitudo (penuh).

Posisinya yang berbatasan dengan Sulawesi Tengah, menyebabkan gerhana cukup terasa. Di Wanggudu dan Lasusua, posisi gerhana mencapai 0,942 magnitudo. Begitupun dengan daerah daratan dan Konawe Kepulauan (Konkep), sebab status gerhananya antara 0,916 s.d 0,928 magnitudo. Sementara wilayah kepulauan 0,865 s.d 0,898 magnitudo.

BACA JUGA :  Fasilitas Kecamatan Dirusak, Pj Bupati Muna Kirim Satpol

Di Sultra, fenomena alam ini berlangsung sekitar 2,32 jam hingga 2,35 jam. Namun karena tidak terjadi gerhana matahari total, hanya ada tiga tahapan yang bisa disaksikan. Hanya pada saat kontak pertama saat piringan matahari mulai tampak tertutupi bulan, puncak gerhana dan ketika moment terakhir kali matahari tertutup bulan. Sementara daerah gerhana matahari parsial bisa menyaksikan detik-detik seluruh piringan matahari mulai tertutup bulan dan saat matahari menampakan cahayanya.

Kepala Stasiun Geofisika Kendari, Rosa Amelia mengatakan peristiwa alam ini bisa disaksikan warga Kendari mulai pukul 07.28 Wita atau saat kontak pertama matahari mulai tertutup bulan. Namun puncak gerhana baru terjadi pada pukul 08.40 Wita dengan posisi gerhana mencapai 0,921 magnitudo. Hanya sebagian kecil matahari akan terlihat. Setelah berlangsung beberapa menit, posisi matahari perlahan-lahan akan terlihat. Pada pukul 10.02 Wita, matahari akan bersinar normal kembali.

Karena berbatasan dengan daerah gerhana matahari total, lanjut Rosa, fenomena alam ini lebih terasa. Apalagi status gerhananya mencapai 0,942 magnitudo. Berdasarkan pengamatan satelit, gerhana mulai terlihat pada pukul 07.27 Wita. Namun warga Lasusua, bisa menyaksikan puncak gerhananya lebih duluan satu menit. Sebab posisi maksimum matahari tertutup bulan pada pukul 08.38 Wita sementara di Wanggudu baru pada pukul 08.39 Wita. Sedangkan moment terakhir matahari tertutup bula pada pukul 09.59 Wita di Lasusua dan pukul 10.02 Wita di Wanggudu.

Rosa Amelia

Rosa Amelia

“Untuk kegiatan pemantauan gerhana matahari, hanya dilakukan di kantor (Stasiun Geofisika Kendari, red). Sebab proses pemantauan gerhana memang telah dipusatkan di Palu. Makanya, kami tidak melakukan kegiatan khusus. Kami hanya melakukan pemantauan di Kantor dan merecord gerhana matahari di Kendari dan daerah lainnya di Sultra,” kata Rosa Amelia.

BACA JUGA :  KPK Mulai Pelajari Dokumen Investigasi Panama Papers

Gerhana matahari total merupakan sebuah fenomena langka yang tidak hanya ditunggu-tunggu oleh para ilmuwan, tapi juga masyarakat di seluruh dunia. Fenomena ini tidak terjadi setahun sekali, tapi belasan atau bahkan ratusan tahun lagi baru akan terlihat. Tak heran jika banyak orang yang kini bersiap-siap menyambut datangnya gerhana matahari total, 9 Maret 2016. Hanya saja, ia menyarankan warga yang ingin memantau gerhana harus menggunakan kacamata khusus. Sebab bila ditatap terlalu lama, bisa berimplikasi pada penglihatan. Sinar ultraviolet yang dipancarkan akan berpengaruh retina mata. “Mengamati gerhana matahari, memerlukan cara tertentu agar aman. Kalau bisa saya, sarankan untuk menggunakan kacamata matahari yang dilapisi filter khusus. Hal ini untuk mencegah kerusakan mata jika mengamati secara langsung tanpa alat bantuan. Apalagi lebar jejak gerhana ke muka bumi sepanjang 155 kilometer,” jelasnya.

Meski demikian, kata dia, gerhana matahari tidak harus ditakuti. Menurutnya, masyarakat bisa melihat langsung gerhana dengan mata telanjang. Hanya saja, tidak bisa lama-lama. Apalagi saat peralihan fase total ke fase sebagian, saat bulan mulai bergeser, cahaya matahari yang walau baru muncul sedikit sudah sangat kuat. “Kalau hanya sesaat dilihat dengan mata telanjang, tidak ada masalah. Namun kalau dipantau cukup lama bisa berpotensi kebutaan. Makanya, masyarakat diimbau untuk tidak melihat matahari terlalu lama terkecuali menggunakan kacamata khusus. Bukan kacamata riben ya? Soalnya tidak bisa melindungi mata,” katanya.

Berbeda dengan pendapat Kabag Humas Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Jakarta, Jasyanto mengungkapkan gerhana matahari setengah yang akan melintas di Kota Kendari masyarakat dapat menatapnya langsung dengan menggunakan mata telanjang tanpa harus menggunakan kacamata gerhana. Menurutnya, cahaya ultraviolet tak akan menyebabkan kebutaan jika tak terlalu lama ditatap dengan rentang waktu dua detik sekali menatap saat gerhana berlangsung. “Tak perlu ditakuti masyarkat bahwa menatap gerhana matahari itu dapat menyebabkan kebutaan. Gerhana matahari ini sangat langka. Sangat disayangkan kalau diabaikan,” ujar Jasyanto saat dihubungi melalui telepon selulernya, Minggu malam (6/3/2016).

BACA JUGA :  Resmi!! Dandim "Nyabu" Dicopot

Jasyanto juga menjelaskan, daerah yang ada di Indonesia mengalami gerhana matahari rata-rata 60 persen. Untuk Kendari, kata dia, akan mengalami gerhana matahari setengah dengan prakiraan 80 persen bulan akan menutupi cahaya matahari. “Sebenarnya cahaya matahari saat gerhana tidak berbahaya. Hanya saja harus tetap berhati-hati. Yang dikhawatirkan adalah ketika bulan sudah mulai meninggalkan matahari. Sehingga cahaya matahari mendadak keluar dan retina mata saat itu tak mampu menahan cahaya ultraviolet dengan waktu yang lama. Boleh ditatap dengan rentang waktu satu atau dua detik saja dalam sekali menatap,” katanya.

Kabar gembira bagi warga Kendari yang ingin menyaksikan fenomena langka ini. Berdasarkan prakiraan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), cuaca pada pukul 07.00 Wita hingga pukul 10.00 Wita diperkirakan tidak terjadi hujan. Sebab hujan baru akan turun pada pukul 14.00 Wita. Meskipun agak mendung, warga bisa menyaksikan saat sebagian besar matahari akan tertutup bulan. “Pada tanggal 9 Maret, kondisi cuaca di Kendari hujan. Namun pada pagi hari, cuaca cukup cerah. Jadi kita akan merasakan fenomena gerhana matahari nanti. Beberapa daerah pun demikian, cuaca cenderung berawan dan berpeluang hujan ringan,” kata Aris Yunatas, Kasie Observasi dan Informasi Kantor Stasiun Metereologi Maritim Kendari, kemarin.

Pakar Astronom Sultra, Dr Zamrun mengatakan, fenomena gerhana matahari tidak akan dilewatkan oleh para ilmuwan. Indonesia, khususnya Sulteng akan dibanjiri para ilmuwan mancanegara dalam menyaksikan gerhana total di daerah tersebut untuk keperluan riset. “Bulan yang kecil dapat menutupi cahaya matahari yang besar karena jarak bulan lebih dekat dengan bumi yaitu 384.400 kilometer. Sedangkan jarak bumi ke matahari adalah 149.680.000 kilometer,” ujar alumni Fisika Tohoku University Jepang ini. (had/mal/kendaripos.fajar.co.id)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top