Pentingnya Pendidikan Karakter – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Opini

Pentingnya Pendidikan Karakter

0033e34eca020c42479318060d5412df615d4796_thumb_600_376

[dropcap]Korupsi [/dropcap]menjadi pemandangan jamak di Indonesia saat ini. Pelakunya pun tidak jauh dari penyelenggara negara. Itu fakta empirik yang tak terbantahkan. Harta, tahta dan wanita sudah menjadi “Tuhan” dalam menjalankan kekuasaannya. Kondisi ini sudah mengakar, tidak ada lagi perasaan bersalah ketika menguras uang rakyat. Mereka begitu perkasa mengambil hak masyarakat untuk kepentingan diri dan golongan. Inilah yang diistilah sebagai kuasaan tanpa hati nurani.

Fenomena kekuasaan di negeri ini, biasanya seringkali membawa manusia melupakan aturan kehidupan. Lihatlah para pemegang kekuasaan sekarang, ketika belum menjabat janji manis selalu terucap. Namun setelah menjabat seakan janji-janji manisnya sirna ditelan oleh nafsu ambisi dan keserakahan kekuasaan. Kalau demikian halnya maka pertanyaan yang muncul, dari mana kita memulai pendidikan karakter atau akhlak? Apakah lingkungan keluarga dan sekolah telah gagal memberikan pendidikan karakter pada anak-anak bangsa ini?. Ujian berat yang dialami bangsa, mulai korupsi, ilegal loging, kasus suap di DPR, mafia peradilan, konflik sosial dan kriminalitas, serta kekerasan atau anarkisme adalah bagian dari wajah sosial masyarakat Indonesia yang saat ini telah melupakan tafsir sebuah akhlak.

Mungkin kita sepakat bahwa di bangsa ini telah terjadi human error pada masyarakatnya. Bagaimana tidak budaya korupsi masih terus saja berlangsung dengan berbagai bentuk yang sangat rapi. Banyak pakar menguasai berbagai bidang disiplin ilmu sampai kita terjebak dan silau mengagumi berbagai keahlian mereka. Tetapi KKN, penyelewengan dan penyimpangan lainnya tidak pernah berakhir. Jika bangsa ini ingin bangkit, maka para pengelola bangsa perlu mendapat pelajaran akhlak. Sauqi dalam sebuah syairnya mengatakan yang dinamakan sebuah bangsa adalah moralitas. Jika moralitas suatu bangsa tiada, maka kehancuran bagi bangsa tersebut. Hanya dengan pendidikan karakter baik atau akhlak yang baik bangsa tersebut bisa sejahtera.

Fakta historis mengatakan bahwa kemajuan suatu peradaban bangsa dan negara terletak pada pendidikan karakter atau akhlak suatu bangsa. Sejarah bangsa-bangsa, baik yang diabadikan dalam al-Qur’an seperti kaum Ad, Samud, Madyan dan negeri Saba, maupun yang ada dalam buku sejarah menunjukkan suatu bangsa akan kokoh apabila akhlaknya baik. Demikian halnya dunia pendidikan, khususnya di negeri ini dilanda kegelisahan, karena sistem pendidikan belum mampu sepenuhnya menjawab kebutuhan dan tantangan nasional dan era globalisas. Meminjam istilah Azyumardi Azra “telah gagal” dalam membentuk manusia supaya memiliki akhlak, moral atau budi pekerti yang baik. Sudah tidak asing lagi jika kita menyaksikan orang-orang cerdas yang kebetulan bertengger di “kursi panas”, suka mengambil hak orang lain.

Gunnar Myrdal peraih hadiah Nobel di bidang ekonomi, melalui penelitiannya, menjelaskan bahwa keterpurukan negara-negara terbelakang dalam bidang ekonomi, hal ini disebabkan karena faktor akhlak (Suwendi, 2004: 170). Hal ini diakui juga oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas, bahwa kemuduran umat Islam saat ini karena kelalaian mendesain dan merumuskan konsep pendidikan yang berbasis pendidikan adab dan akhlak atau karakter.  Mengingat begitu urgennya akhlak, maka institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menanamkan melalui proses pembelajaran.

Peran Sekolah

Lembaga pendidikan (sekolah,red) dipandang sebagai elemen penting yang turut berperan dalam mendidik karakter anak bangsa. Fakta empiriknya, dekadensi moral dan karakter buruk yang ditunjukkan siswa merupakan bagian tidak terpisahkan dalam dunia pendidikan. Kekerasan  dilakukan pelajar kian memprihatinkan.

Persoalan akhlak memang tidak sepenuhnya terabaikan oleh lembaga pendidikan. Akan tetapi, dengan fakta-fakta seputar kemerosotan karakter ini menunjukkan bahwa ada kegagalan pada institusi dunia pendidikan. Dalam konteks pendidikan formal di sekolah, bisa jadi salah satu penyebabnya karena pendidikan di Indonesia lebih menitikberatkan pada pengembangan intelektual semata.

Dalam tugasnya sebagai pendidik dan pengajar, guru berinteraksi dengan siswa, sangat penting bagi para guru untuk melayani dan berperan sebagai model pengembang karakter dengan membuat penilaian dan keputusan profesional. Pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya elaborasi, provokatif, dan antisipatif dianggap tidak menghargai guru. Di ruang kelas, peserta didik hampir tak memiliki ruang ekspresi. Para siswa tidak pernah mengerti, mengalami, dan menyadari kebaikan dan kebenaran di saat paket-paket pembelajaran sudah tersedia. Lembaga pendidikan, disadari atau tidak secara sengaja menjerat generasi ke dalam lorong gelap peradaban. Di ujung lorong itu mungkin tersisa harapan, namun banyak yang tak acuh, dan menerima nasibnya sebagai takdir dari sang Ilahi. Hasil dari proses pembelajaran seperti inilah yang dimaksud Fazlur Rahman dengan memorizing, yakni proses pembelajaran yang memakai sistem hafalan daripada sistem pemahaman.

Peran Keluarga

Aktor utama perkembangan anak didik adalah peran keluarga. Meskipun ada sekolah atau guru berhasil memerankan pendidikan yang lebih bersifat afektif namun lebih mendalam diperoleh anak di rumah, melalui orang tua. Di rumah anak belajar tentang perilaku, keteladanan, yang disemangati oleh nilai keagamaan. Makanya,keluarga hendaklah menjadi school of love (sekolah untuk kasih sayang,red). Dalam perspektif Islam disebut madrasah mawaddah wa rahmat, tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang. Lebih lanjut Muhammad Ali Murshafi menambahkan bahwa unsur terpenting nilai pendidikan yang ditanamkan institusi keluarga adalah nilai kejujuran dan amanah.

Dalam usaha pembentukan dan pendidikan karaktermelalui keluarga, setidaknya bisa melalui pendekatan berikut: Pertama, menerapkan pendekatan modeling atau uswatun hasanah yakni mensosialisasikan dan menegakkan nilai-nilai akhlak dan moral melalui model dan teladan. Kedua, menjelaskan atau mengklarifikasi kepada peserta didik secara terus menerus tentang berbagai nilai baik dan buruk. Ketiga, menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (character-based education). Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan character-based approach ke dalam setiap mata pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus untuk pendidikan karakter. Seperti pelajaran agama, sejarah, Pancasila, dan sebagainya. Untuk itu perlu ada metode dan pendekatan, sehingga mereka tidak hanya menjadi verbalisme dan sekadar hafalan, tetapi betul-betul berhasil membantu pembentukan karakter. Supaya berhasil harus ada sinergitas diantara semua.

Lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, menetapkan pelaksanaan pendidikan agama dengan memakai metode dialogis. Selanutnya, mengintegrasikan antara pendidikan dan pengajaran. Tentu harus didukung pula oleh kerjasama ketiga lembaga tersebut secara sungguh-sungguh melakukan penanaman nilai-nilai kejujuran dan amanah, dengan berupaya menciptakan lingkungan yang bernuansa religius. Oleh karena itu, tafsir sebuah akhlak menjadi urgen dan salah satu solusi untuk keluar dari masalah yang menimpa bangsa ini.

penulis

penulis

Mari kepada para pengelola negara, dosen, guru, anggota DPR serta seluruh masyarakat Indonesia harus mampu merealisasikan, mempraktekkan moral dan memberi tauladan  yang baik. Sebab dengan merubah memulai dari diri sendiri merupakan syarat bagi terjadinya transformasi sosial. Sehingga akan melahirkan pribadi-pribadi unggul yakni profil manusia yang mampu mengkombinasikan kecerdesan intelektual emosional, spritual ke dalam realitas kehidupan sosial secara konsekuen. Inilah yang diistilahkan di dalam al-Qura’an dengan ahsani taqwim.(Q.S. 95:4) Wallahu a’lam bishawab. (*)

*Dosen IAIN Kendari. Saat ini menjadi Kandidat Doktor Pendidikan Islam pada Universitas Ibnu Khaldun, Bogor

Komentar

komentar


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 1001
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top