Lebih Baik Jangan Pasang Kawat Gigi Kalau Hanya Sekedar Penampilan – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Lebih Baik Jangan Pasang Kawat Gigi Kalau Hanya Sekedar Penampilan

160220_behel

KENDARINEWS.COM Siapa yang tak ingin punya susunan gigi yang rapi. Dunia medis pun telah lama mengakomodasi hal tersebut dengan pemasangan kawat gigi atau populer disebut behel.

Tak hanya kaum hawa, pria pun banyak yang memasang kawat gigi. Meski dari jumlah pemasang, lebih didominasi perempuan. Namun tak sembarang begitu saja dalam pemasangan. Si pasien harus memenuhi syarat dan ketentuan medis.

‘’Gigi harus sehat. Dalam arti tidak banyak yang bolong dan goyang. Terutama tidak menderita penyakit sistemik seperti kencing manis (diabetes),” ujar dokter spesialis ortodonti, Saiful seperti dilansir JPNN (Kendari Pos Group).

Diungkapkan Saiful, dari pasien yang datang kepadanya tak seluruhnya memasang untuk memperbaiki susunan gigi. “Ada beberapa hanya untuk aksesori (demi gaya, red.),” katanya.

Meski begitu kata dia, prosesnya tetap sama, mesti mengikuti seluruh syarat dan ketentuan. Sebab jelasnya, hal tersebut tetap memiliki efek medisnya walaupun hanya untuk aksesori. “Begitu alatnya dipasang, tetap ada gerakan. Makanya walaupun mau gaya-gayaan, tapi kalau menderita kencing manis tetap tidak bisa,” tuturnya.

Makanya, setiap kali ada pasien yang hendak memasang, dia selalu menanyakan tujuannya untuk apa. “Kalau ingin mundur, berarti ada fungsinya,” ujarnya.
Bahkan tak jarang Saiful harus menolak karena calon pemasang memiliki gigi yang tidak sehat dan riwayat penyakit sistemik. “Sampai memaksa, tetap saya tolak,” ucap dia.

Saiful memberi tips bagi pemasang behel. Pertama, jangan memakan jenis makanan yang bertekstur keras. Sebab, dapat melepas lem bracket (karet) di kawat gigi. “Kalau lepas, harus segera dilem kembali. Makan seperti biasa namun tetap hati-hati,” pesan dia.

Untuk sikat gigi bagi pemasang behel jelasnya, tak sembarangan. “Sikat gigi khusus. Kalau pastanya bebas saja,” katanya. Kontrol pun mesti dilakukan rutin sebulan sekali. “Karet warna-warni itu harus diganti. Itu yang aktif bergerak mengencangkan. Kalau tidak kontrol, maka tidak terjadi pergerakan,” ungkapnya.

Untuk rentang waktu pemasangan, biasanya hanya dua tahun. Namun maksimal sampai lima tahun. “Kadang pasien giginya sudah bagus, tapi ada saja permintaan mau terus dipakai,” sebut dia.

Tak diperkenankannya penderita kencing manis karena akan membuat gigi semakin bergoyang. Makanya lanjut dia, sebelum pemasangan kawat gigi, mesti melalui serangkaian pemeriksaan.

“Foto rontgen dulu. Setelah itu diukur untuk cetak kawat gigi. Misal sudah aman, barulah masuk ke tahap pemasangan,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Surabaya.

Jika analisis itu tak tepat, justru membahayakan pasien. “Ingin mundur, eh giginya malah maju. Kan susah,” katanya.

Terbanyak pemasang kawat gigi di tempat praktiknya, rentang usia 11-25 tahun. “95 persen cewek,” jelasnya.

Soal umur, ujarnya, tak ada batasan. Sebab tiga bulan lalu, ada perempuan berusia 55 tahun datang kepadanya untuk konsultasi pemasangan itu. “Umur tidak masalah. Yang penting syarat dan ketentuan berlaku,” terang Saiful.

“Alasannya giginya renggang. Sekarang dia makin cantik,” ujarnya sembari tersenyum. (nhk)

Komentar

komentar


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 1001
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top