BLPK Imbau Nelayan Waspadai Cuaca Buruk – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
HEADLINE NEWS

BLPK Imbau Nelayan Waspadai Cuaca Buruk

KENDARINEWS.COM, KENDARI– Balai Lokal Perekayasaan Kelautan (BLPK) Kabupaten Wakatobi mengimbau nelayan untuk waspada cuaca buruk. Koordinator Sistem Pemantauan Laut (Simla) BLPK Wakatobi, Arief Rahman mengatakan, cuaca di Wakatobi, kemarin, suhu udara 28 derajat celcius, kecepatan rata-rata arah angin utara 1,5 not dan kelembapan udara 75 persen dengan tekanan udara 800 hidropaskal.

grafis kapal ombak

Dibandingkan bulan Desember 2015, ada peningkatan intensitas kekuatan angin. Yang sebelumnya rata-rata 5 knot hingga 10 knot sekarang bisa mencapai 15-20 knot. Tentunya angin akan mempengaruhi tinggi gelombang. Khususnya daerah barat pulau Wakatobi kecenderungan akan terdampak angin kencang. Kekuatan angin 15 knot diperkirakan tinggi gelombang 1,5 meter. Untuk itu, kondisi ini masih fluktuatif atau masih aman untuk pelayaran. Artinya tidak menutup kemungkinan tinggi gelombang beberapa hari kedepan bisa capai 2 hingga 3 meter. Olehnya itu, kepada nelayan-nelayan kecil sangat diimbau untuk berhati-hati.

BACA JUGA :  Pesta Kuliner Warnai HUT Kolut ke12

“Bukan hanya nelayan, tapi yang ingin melakukan aktivitas di laut sebaiknya informasi kepada kami dulu. Agar cuaca buruk bisa dihindari. Apalagi saat ini cuaca bisa kapan saja berubah. Meski kondisinya saat ini masih normal namun kami mengkhawatirkan ketika ada kekuatan angin yang cukup tinggi pasti akan berdampak pada tinggi gelombang,” katanya.

BACA JUGA :  Bulog Sultra Jamin Stok Beras Aman

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) RI, Andi Eka Sakya menjelaskan, ekstrimistis yang terjadi di sejumlah belahan dunia disebabkan adanya fenomena polar vortex. Fenomena ini, menurut dia, semacam tekanan udara yang mengitari Kutub Utara yang berbentuk seperti gelombang. Wilayah Asia sendiri turut merasakan dampak fenomena yang dikenal dengan cold surge atau seruak dingin ini. Daerah yang terpapar adalah wilayah Tiongkok, Hongkong hingga Vietnam Utara.

”Ini menjelaskan mengapa di USA pantai timur mengalami badai salju. Sementara, di Eropa saat ini hangat. Saya sedang di Jenewa, suhu 7-10 derajat. Padahal musim dingin di sini biasanya malah sampai -1 derajat Celsius,” jelasnya saat dihubungi, kemarin (25/1).

BACA JUGA :  Irawan Laliasa Resmi Nahkodai Konsel

Lalu, bagaimana dampaknya pada Indonesia? Andi menuturkan, dampak yang dialami Indonesia tidak akan seekstrim Hongkong. Untuk Indonesia, fenomena tersebut berpengaruh pada peningkatan intensitas hujan hingga dua kali lipat dari yang terjadi saat ini. ”Di Indonesia, yang harus diwaspadai adalah potensi hujan deras dan lebat. Apalagi saat ini kan mulai memasuki puncak musim hujan,” ungkapnya.(p1/had/JP/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top