Dinilai Meraup Keuntungan Besar, PT Pertamina Tidak Terbuka – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Nasional

Dinilai Meraup Keuntungan Besar, PT Pertamina Tidak Terbuka

Ilustrasi Pertamina

Ilustrasi Pertamina

KENDARINEWS.COM, JAKARTA – PT Pertamina (Persero) dikritik. Perusahaan minyak plat merah itu dinilai meraup keuntungan sangat besar dari penjualan BBM bersubsidi baik jenis premium maupun solar.

“Masalah utama penjualan BBM oleh Pertamina yang lebih mahal ini karena Pertamina sendiri tidak pernah terbuka. Berapa cost-nya dan berapa untungnya. Jadi ini keterlaluan, Pertamina jual BBM di SPBU malah mahal, sementara yang dijual di perusahaan harga BBM-nya ada potensi untuk dijual lebih murah,” kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati dalam keterangannya, Rabu (20/1).

Menurut dia, harga murah yang diterima oleh perusahaan terjadi lantaran tidak dikenai bea masuk lagi dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Semua produk dari negara ASEAN lain termasuk minyak tidak lagi dikenai bea masuk.

“Juga sekarang ketika harga minyak dunia anjlok, potensi kebocoran minyak di tengah jalan untuk dikirim ke luar juga kecil karena memang harganya sedang turun,” tambah dia.

Nah, untuk solar sendiri, lanjut Enny, tidak lagi disubsidi karena harganya terus menurun. Tapi terkadang Pertamina dan juga pemerintah lambat melakukan penurunan ketika harga minyak dunia terus menurun. Parahnya, hal itu berbeda jika harga minyak dunia naik, Pemerintah malah cepat merespon untuk segera menaikan harga.

“Pemerintah dan Pertamina tidak tegas mengatur penurunan harga. Padahal kita sudah tidak lagi disubsidi. Apalagi minyak terus melorot di bawah US$ 40. Angka itu kan jadi patokan asumsi pemerintah, jika di atas US$40 baru disubsidi,” terang Enny.

Sebelumnya, harga minyak dunia yang terus merosot di bawah USD30 per barel akhir-akhir ini, sudah semestinya berimbas pada menurunnya harga jual bensin maupun solar. Bahkan harga Means of Platts Singapore (MOPS) untuk jenis solar saat ini sudah menyentuh harga USD40 per barel, yang artinya jika dirupiah dan diliterkan, harga keekonomian solar berdasarkan MOPS adalah Rp3.500/liter (belum termasuk biaya pengangkutan dan pajak).

Jika dihitung ongkos kirim katakanlah USD3 per barel (Rp300/liter) dan PPN 10 persen (Rp380/liter) ditambah PBBKB 5 persen (Rp190/liter) maka semestinya harga solar non subsidi di Indonesia berkisar di harga Rp4.370-Rp4.500 per liter.

Tapi kenyataannya harga Solar subsidi sampai saat ini Rp5.750 per liternya (Harga keekonomian: Rp6.750 per liter) ada selisih harga Rp2.380 dari harga keekonomian (selisih Rp1.380 dari harga subsidi).

Keuntungan yang sangat besar tentunya yang diraih oleh Pertamina dari masyarakat. Maka sangat tidak menutup kemungkinan ada pihak yang berani menjual harga solar non subsidi di bawah harga solar subsidi.

Informasinya ada permainan di lapangan soal harga jual beli solar dimana harga solar non subsidi (untuk Industri) lebih murah daripada harga Solar subsidi yang dijual di SPBU.
Hal ini karena pergerakan harga minyak yang cepat berubah setiap hari, sedangkan pemerintah mengevaluasi harga jual BBM setiap 3 bulan.

Seperti yang pernah terjadi pada bulan Agustus 2015 lalu yang saat itu harga solar subsidi di SPBU dijual dengan harga Rp6.900 per liter, PT AKR Corporindo Tbk, justru menjual solar industri di level Rp 6.400 per liter, lebih murah Rp 500 per liter. [sam]

Komentar

komentar


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 1001
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top