Menjadi Kelompok Pemberi Bukan Peminta – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Opini

Menjadi Kelompok Pemberi Bukan Peminta

sedekah3

[dropcap]Di[/dropcap] awal  tahun sekarang ini, bangsa dihadapkan pada persoalan yang sebenarnya amat berat untuk diselesaikan. Disebut berat karena menyangkut kehidupan manusia yang sangat mendasar. Disebut mendasar karena menyangkut hubungan antar manusia yang tidak mudah diselesaikan. Yaitu, terjadi saling menyalahkan, curiga mencurigai, dendam, dan berebut merasa paling benar sendiri.

Keadaan itu tidak berhenti, tetapi berkembang menjadi saling memfitnah, mengadu domba, menghasut, dan menghancurkan. Jika suasana demikian tersebut berlanjut, maka keadaan itu akan sangat berbahaya. Apapun usaha-usaha yang selama ini dihasilkan, manakala orang-orangnya terjerembab pada permusuhan dan saling menghancurkan, maka prestasi itu tidak akan ada artinya lagi.

Kedamaian, ketenangan, ketenteraman, hubungan harmoni adalah segala-galanya. Apa saja yang diusahakan, baik berupa peningkatan ekonomi, politik, hukum, dan seterusnya adalah untuk membangun kehidupan yang penuh dengan kedamaian itu. Islam adalah agama yang mengajak untuk melahirkan kedamaian. Apa yang dibangun oleh Islam adalah terkait manusianya itu sendiri. Membangun sarana dan prasarana kehidupan adalah penting, tetapi membangun kualitas manusia, baik dari aspek lahiriyahnya, ucapannya, maupun hatinya adalah yang terpenting. Bahkan hati dianggap paling utama, oleh karena perilaku manusia itu sebenarnya bersumber dari hati. Manakala hati seseorang sehat, maka semua aspek pada diri manusia itu akan menjadi sehat pula.

BACA JUGA :  Demokrasi Kita

Berbeda dengan konsep Islam, adalah pendekatan pembangunan yang dilakukan oleh banyak pemimpin bangsa pada umumnya. Pandangan mereka itu mengatakan bahwa, manakala manusia telah terpenuhi kebutuhan dasarnya, yaitu pangan, sandang, dan perumahan, maka persoalannya akan selesai. Manusia akan berperilaku baik dengan sendirinya, manakala kebutuhan dasarnya terpenuhi. Atas dasar pandangan itu maka semua potensi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar dimaksud. Selain itu diciptakan ukuran-ukuran yang digunakan untuk mengetahui capaian yang seharusnya diraih. Lagi-lagi, capaian yang dimaksudkan itu adalah bersifat fisik dan sayangnya, mengabaikan hal yang bersifat non fisik. Akibatnya, manusia hanya dilihat bagaikan makhluk lainnya, yaitu yang terpenting bisa makan, tidur, dan sejenisnya.

Pandangan Islam mengatakan bahwa, manakala organ manusia, yakni hatinya baik, maka semua yang lain akan mengikut menjadi baik. Sebaliknya, manakala hatinya buruk, maka semua hal yang dihasilkan akan menjadi buruk. Terjadinya kesenjangan, kebodohan, kemiskinan, banyak orang terlantar, permusuhan, saling memfitnah, mengadu domba, dan seterusnya yang sedemikian bahayanya itu adalah sebagai akibat dari hati manusianya sedang sakit.

BACA JUGA :  Pentingnya Pendidikan Karakter

Penyakit hati itu, menumbuhkan sifat kikir, tidak peduli sesama, tamak, terlalu mencintai harta, dan lain-lain, yang semua itu mengakibatkan kedamaian semakin jauh. Umpama saja ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad berhasil ditangkap dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka umatnya akan menjadi ungggul. Bermodalkan hati yang bersih dan sehat, maka berbagai aspek, baik pengembangan ilmu pengetahuan atau intelektualnya, sosial dan spiritualnya, profesionalitas atau amal shaleh akan terbangun dengan sendirinya. Namun sayangnya, ajaran yang sedemikian indah itu tidak semua berhasil ditangkap oleh umatnya sendiri secara sempurna, dan apalagi diimplementasikannya.

Bahkan umat Islam di mana-mana tertinggal. Akibatnya, umat Islam yang seharusnya berposisi sebagai pemberi atau berada di atas, sebagai umat terbaik, maka pada kenyataannya justru berada di belakang atau di bawah dan masih diberi. Selain itu, umat Islam di berbagai belahan dunia bukan menjadi penentu, melainkan ditentukan. Lebih parah lagi, kekayaan mereka diambil, tanpa disadari mereka sedang diadu domba, seolah-olah dibantu sekalipun pada hakekatnya dilemahkan, dan seterusnya. Umat Islam belum menjadi kekuatan solutif, melainkan justru menjadi bagian dari problem yang harus diselesaikan. Padahal, mereka seharusnya selalu berada di depan, di atas, sebagai pemberi, atau menjadi umat terbaik.

Penulis

Peran strategis itu belum berhasil diraih, oleh karena misi Islam yang sebenarnya, yakni memperbaiki hati dan akal budi hingga berbuah ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyelamatkan belum berhasil dikembangkan. Diingatkan melalui kitab suci bahwa, Allah akan mengangkat derajad orang yang beriman dan berilmu pengetahuan, beberapa derajad lebih tinggi. Akhirnya, agar umat Islam menjadi pemberi bukan peminta, maka masih harus berjuang, tidak saja keras dan bersungguh-sungguh, tetapi juga memilih strategi yang tepat. Wallahu a’lam. (*)

BACA JUGA :  Jalan Cinta untuk Negeri

Oleh: Moh. Safrudin, S.Ag., M.PdI
*Pengasuh Ma’had Ilmi MAN 1 Kendari

Komentar

komentar


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 1001
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top