Fenomena Unik Massa di Lokasi Ledakan Bom – Kendari Pos –
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Opini

Fenomena Unik Massa di Lokasi Ledakan Bom

359595_ledakan-bom-di-sarinah_788_454

Peristiwa ledakan bom dan tembak-menembak di Starbuck Café, Jalan Thamrin, Jakarta dua hari lalu, mengejutkan pemerintah Indonesia dan dunia internasional. Di Australia misalnya, hampir semua media cetak maupun online ternama, langsung menempatkan kejadian ini sebagai headline. Fokus pemberitaan beragam, mulai dari nominal korban meninggal dan luka-luka sampai dengan dugaan siapa dalang dibalik pengeboman.  Didalam setiap artikel yang dipublikasi tersebut, selalu terselip pesan bagi warga Australia yang sedang berada di Jakarta untuk tidak mendekati lokasi kejadian, untuk alasan keselamatan. Tentu tidak semua warga Australia benar-benar mengikuti saran ini.

Tapi bagaimana kalau pesan ini diarahkan kepada warga Jakarta? nampaknya tidak akan diindahkan. Salah seorang kawan saya di Jerman, dengan menariknya, mengkompilasi dan mengunggah beberapa foto lokasi kejadian di akun facebook-nya.  Foto pertama menunjukkan momen dimana beberapa anggota polisi berlindung di balik mobil, dan bersiap melepaskan tembakan balasan. Di bagian belakang polisi, nampak jelas kerumunan warga sedang menyaksikan kejadian itu. Seolah-olah, adegan ini hanya simulasi penumpasan teroris yang biasa dilakukan di acara-acara kenegaraan.

Di foto lain, seorang pedagang kaki lima menjajakan minuman dan makanan ringan di tengah-tengah kerumunan yang sibuk menyaksikan adegan tembak-menembak. Di kolom timeline nya, kawan saya ini menulis satu paragraf berisi kesimpulan ihwal foto-foto yang diunggahnya tersebut. Berikut tulisannya: Well, this is Indonesia. We are bit different on handling terrorist attack”. Artinya kira-kira seperti ini: yah, inilah Indonesia. Kami sedikit unik dalam menanggapi serangan teroris.

Apa yang disimpulkan kawan saya itu, sejalan dengan pemikiranku. Bahwa kebiasaan “ngumpul” di lokasi-lokasi kejadian, seperti ledakan bom atau bunyi tembakan, sekalipun membahayakan diri-sendiri, sudah menjadi hal biasa. Bandingkan, dengan peristiwa penyekapan puluhan orang di Kafe Lindst, Sydney pertengahan Desember tahun 2014 lalu, atau penembakan di Paris, November tahun lalu, hampir tidak ada kerumunan massa yang datang untuk menonton.

Lantas bagaimana menjelaskan kecendrungan ngumpul di lokasi berbahaya tersebut? Tinjauan psikologis mungkin bisa menjadi jawabannya. Secara umum manusia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dalam bahasa Inggris artinya Curiosity. Keingintahuan manusia (Human Curiosity) telah diteorikan sejak tahun 1954 oleh Daniel Ellis Berlyn, seorang psikolog dan filsuf  berkebangsaan Inggris-Canada.

Seiring berjalannya waktu, para psikolog masa kini juga mempelajarinya lebih detail. Hanya saja, satu pertanyaan mendasar belum bisa terungkap, apakah keingintahuan ini berasal dari dalam diri kita, ataukah merupakan respon atas peristiwa-peristiwa dunia diluar kita? Sebagian psikolog yang menganut teori pendorong (Drive) meyakini bahwa rasa ingin tahu adalah dorongan dari dalam diri manusia, sebagaimana rasa haus dan lapar. Ketika tubuh kita memberikan rangsangan (arousal) berupa produksi asam lambung yang berlebih, misalnya, maka secara alami merespon rangsangan ini dengan makan dan minum.

Ketika rasa ingin tahu dirangsang, kita merasakan keperluan yang mendesak untuk ingin tahu. Dari itu kemudian mencari informasi apapun, sekalipun tidak dibutuhkan, meskipun untuk mendapatkan itu harus berada pada kondisi yang membahayakan jiwa. Contoh lain rasa ingin tahu ini, kita cenderung untuk mencoba memainkan alat musik, sekalipun tidak tahu cara memainkannya. Kita tertarik untuk mengisi teka-teki silang yang rumit dan banyak, sekalipun kita tahu ada kemungkinan gagal untuk mengisi semuanya. Tetapi karena rasa keingintahuan, gagal kita justifikasi sebagai “makanan” untuk rasa keingintahuan.

Tapi apakah teori pendorong (Drive) ini bisa menjawab pertanyaan awal kita? Kalau obyeknya alat musik atau permainan, mungkin saja ya. Tapi bagaimana jika obyeknya adalah bom atau aksi baku tembak? Apakah kita tetap ingin memuaskan keingintahuan kita atas obyek-obyek yang dapat mengakibatkan resiko fatal? Apakah kita akan mengutak-atik bom jika tidak tahu cara menanganinya? Tentu tidak.  Kelemahan teori Drive adalah karena ia tidak dapat menjelaskan keterkaitan keingintahuan kita atas obyek-obyek spesifik. Atas gap ini, muncul teori baru yang namanya teori keganjilan (incongruity).

Teori keganjilan mengasumsikan bahwa manusia cenderung untuk melihat kejadian-kejadian di alam semesta sebagai sesuatu yang dapat diprediksi dan teratur. Pemahaman keduniaan kita didasari atas pola-pola yang dapat diprediksi dan keteraturan. Ketika kita disajikan dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan pemahaman tentang dunia, rasa ingin tahu kita tertantang. Misalnya, saat melihat jarum jam bergerak dari kanan ke kiri, kita merasa bahwa pola ini tidak sesuai dengan pemahaman dimiliki, bahwa semestinya dari kiri ke kanan. Dalam hal ini, peristiwa eksternal yang tidak sesuai dengan pemahaman keduniaan kita lah, yang merangsang rasa ingin tahu.

Apakah teori keganjilan (incongruity) ini bisa menjelaskan kenapa warga Jakarta berbondong menyaksikan baku tembak antara polisi dengan kelompok terorisme, sekalipun warga ini tahu persis, peluru bisa nyasar kearah mereka? Jawabannya adalah ya. Dalam konteks kontemporer Indonesia, aksi bom bunuh diri, apa lagi dilakukan di dalam negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, kemungkinan tidak sesuai dengan pemahaman keduniaan mereka.

Ada beberapa hal menurut hemat saya bisa menjelaskan ketidaksesuaian ini. Yang paling mungkin adalah aksi martyr (bom bunuh diri) dan jihad. Jihad dalam pengertian berjuang di jalan Allah dengan harta dan nyawa sendiri bukan konsep baru. Jihad dengan berkorban nyawa bagi sebagian komunitas muslim di Indonesia dipahami sebagai tindakan yang disesuaikan dengan konteksnya. Dalam konteks perang dengan penjajah Jepang atau Belanda, peluang jihad dengan berkorban nyawa untuk kemerdekaan menjadi relevan.

Dalam konteks pasca-kemerdekaan, Jihad lebih dipahami sebagai tindak saling membantu saudara muslim yang berada di dalam kesusahan. Aksi martyr sebagai manifestasi dari konsep jihad sebagaimana yang diperkenalkan dalam peristiwa bom Bali di tahun 2002 adalah sesuatu yang sukar dipahami. Terutama sebagian besar komunitas muslim di Indonesia yang cenderung moderat atau bahkan sekuler. Tindakan bunur diri semakin terasa ganjil karena sebagian besar yang jadi korban orang muslin sendiri. Penjelasan lain adalah terkait dengan tembak menembak. Di Indonesia, memiliki senjata merupakan kenyamanan. Dan beberapa kalangan tertentu diluar anggoat Polri bisa memilikinya. Pada umumnya, orang mengasosiasikan senjata identik dengan polisi atau tentara, bukan masyarakat sipil.

Perisitiwa baku tembak yang melibatkan warga sipil, apalagi kontra polisi, tentu tidak lazim. Orang akan bertanya-tanya, kenapa si A yang sipil bisa punya senjata, atau apakah ada konspirasi atau rekayasa di balik peristiwa ini. Atau bisa juga mencul pertanyaan, siapa si A sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mengusik rasa ingin tahu warga Jakarta, umumnya Indonesia ketika terjadi tragedi seperti itu. Kita bisa saja menganggap bahwa kebiasaan orang-orang Indonesia untuk selalu berkumpul di lokasi-lokasi berbahaya sebagai sesuatu yang lucu. Tapi dengan menggunakan teori curiosity ini, kita juga bisa memberikan penjelasan kepada orang lain bahwa aksi martyr atau kekerasan bersenjata adalah sesuatu yang ganjil dan tidak biasa. Dan pastinya, aksi seperti itu bukan kultur Islam dan bukan pula kebiasaan masyarakat  Indonesia secara umum. Sebab, sejak dulu masyarakat Indonesia dikenal sangat moderat. (*)

Oleh: Omar Pidani*
*Dosen Universitas Halu Oleo (UHO) dan jurnalis independen. Saat ini tengah menempuh pendidikan doktor di Australian National University, Canberra

Komentar

komentar


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 1001
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top