Ambon “Hujan” Abu – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Ambon “Hujan” Abu

LUTFI HELUT/AMEKS KEBAKARAN HUTAN Kebakaran yang menghanguskan Ribuan pohon cengkeh di daerah perbatasan Desa Halong- Soya, Kota Ambon, Senin (11/1). Petugas tidak bisa memadamkan api karena lokasi kebakaran berada diatas pegunungan yang tidak bisa akses masuk.

LUTFI HELUT/AMEKS_KEBAKARAN HUTAN Kebakaran yang menghanguskan Ribuan pohon cengkeh di daerah perbatasan Desa Halong- Soya, Kota Ambon, Senin (11/1). Petugas tidak bisa memadamkan api karena lokasi kebakaran berada diatas pegunungan yang tidak bisa akses masuk.

KENDARINEWS.COM, AMBON – Belum tuntas masalah krisis air, kini warga Ambon diperhadapkan dengan musibah kebakaran hutan lagi akibat kemarau panjang. Sekitar 1000 pohon cengkih habis terbakar, akibatnya hampir seluruh wilayah udara Kota Ambon ditutupi dengan asap dan sisa-sisa kebakaran. Masyarakat dibuat kaget sekira pukul 09.30 akibat berterbangan sisa-sisa terbakarnya pohon cengkih.

Kebakaran terjadi di wilayah perbatasan negeri Halong kecamatan Baguala dengan negeri Soya, Kecamatan Sirimau, kota Ambon. Api membakar sekitar 5 hektar lahan hutan. Ribuan pohon cengkih milik warga ikut terbakar. Medan yang sulit membuat api sulit dipadamkan. Diduga kebakaran terjadi akibat musim kemarau.

Sejumlah warga Halong menyebutkan, kebakaran diketahui terjadi sejak Minggu (10/1), sekira pukul 19 : 00 Wit. Itu setelah warga melihat ada cahaya api di hutan serta asap yang mengepul di udara.

Mengetahui hal itu, beberapa warga memutuskan untuk mencari lokasi kebakaran. Mereka mencoba memadamkan api, namun tidak berhasil tuntas. Beberapa diantaranya bahkan rela bermalam di tengah hutan untuk mengantisipasi api menjalar lebih jauh.

Pada pagi hari, api yang awalnya membakar kawasan lembah itu mulai menjalar, menanjak naik di beberapa gunung. Kebakaran terjadi di beberapa titik berbeda di kawasan hutan itu. menyebabkan seluruh Kota Ambon dipenuhi asap sejak malam hingga siang kemarin. Kondisi ini membuat api sulit dijinakkan. Kawasan itu pun dipenuhi api dan asap.

“Yang terbakar itu, namanya lahan seribu cengkih. Jadi ada sekitar seribu pohon cengkih di dalam sana, sepertinya sudah terbakar semua, itu milik warga Soya. Karena di sini adalah perbatasan Halong dengan Soya, “ ungkap Deni Alfons, salah satu warga Halong di lokasi kebakaran, kemarin sembari menunjuk ke arah api yang terus menjalar diterpa angin, Senin (11/1).

Petugas dari dinas Kehutanan provinsi Maluku dan Badan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Ambon dan Provinsi juga telah berada di lokasi kebakaran sejak puklul 09 : 00 wit. Namun, jarak lokasi kebakaran yang jauh serta medan yang sulit, membuat petugas tidak dapat berbuat banyak.

Untuk menuju lokasi kebakaran, harus menempuh perjalanan sejauh sekitar 3 kilometer dari jalan raya ( melalui jalur menuju kampus STAKPN) Halong menggunakan kendaraan, baik roda empat maupun roda dua.

Dan untuk sampai ke lokasi kebakaran, baik warga maupun petugas pemerintah harus menempuh jarak sekitar 2 kilometer lagi dengan berjalan kaki. Karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui dengan kendaraan.

“Kita terus pantau dan bersama warga berusaha untuk padamkan api secara manual, karena mobil pemadam kebakaran tidak masuk. Sulit juga padamkan api karena di sini banyak pohon kering dan pohon bambu,” kata kepala bidang Pembinaan Hutan dinas Kehutanan provinsi Maluku, Sandhy Luhulima, seusai memimpin petugas yang turun ke lapangan.

Kebakaran terus meluas, namun petugas dari kantor Pemadam kota Ambon tidak dapat menyiram api, karena sulit menjangkau lokasi kebakaran dengan mobil tangki air untuk memadamkan api. “Kita hanya pakai pompa mortebel dan pompa api, “ kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran kota Ambon Edwin Pattikawa, kemarin.

Pihaknya belum bisa menjangkau daerah kebakaran karena dianggap terlalu rawan. namun mereka akan terus memantau lokasi titik api itu dan melakukan upaya antisipasi agar api tidak merembet kemana-mana.

“Sejak pukul 12.00 WIT siang tadi, saya bersama-sama dengan Sekretaris Kota Ambon turun ke beberapa tempat mulai dari Lateri atas dan Halong untuk memantau perkembangan kebakaran, dan terlihat memang sangat sulit untuk menjangkau” katanya.

Untuk menjangkau lokasi kebakaran itu sangat sulit karena harus melewati beberapa gunung sebelum sampai pada lokasi kebakaran. Dia menyebutkan yang menyulitkan adalah medannya, dan juga sumber air untuk proses pemadaman.

olehnya itu pihaknya terus memantau hingga api berada pada posisi yang bisa dijangkau baru kemudian mereka melakukan penanganan. dan sebelumnya team dari kehutanan provinsi yang sudah turun membantu.

Pihaknya, kata Pattikawa menerjunkan personil untuk memback up dan siaga di sumber air PDAM di bagian atas lokasi kebakaran sebagai antisipasi jika api akan merambat. Jumlah personil yang diterjunkan sebanyak 30 orang yang terdiri dari 15 anggota Satpol Pamong Praja (PP) dan 15 petugas pemadam kebakaran.

Tindakan yang dilakukan masih berupa siaga dan antisipasi di beberapa tempat sambil menunggu api sampai pada posisi bisa dijangkau karena memang sangat sulit. Kebakaran terjadi di lokasi yang terjal.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon, Riko Matitaputty yang dikonfirmasi mengatakan, kebakaran tersebut terjadi di tiga titik untuk daerah perbatasan negeri Soya dan Desa Halong.

Dan pihak pemadam kebakaran (damkar) terus melakukan upaya pemadaman yang dibantu warga sekitar, Kepolisian Hutan (Polhut) dan jajaran pemerintah kota Ambon lainnya.

“Kebakaran hutan di tiga titik di Halong Atas. Saat ini sementara dilakukan pemadaman oleh warga, Polhut dan Damkar Pol PP beserta aparat Pemkot. Satu titik sudah berhasil dipadamkan sementara dua lainnya masih diusahakan,” singkat Riko, via SMS.

Kepala Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, George Mahubessy menjelaskan, kebakaran hutan di daerah sekitar Baguala ini, akibat kekeringan pada pepohonan sekitar. Namun ini, kata dia, merupakan bagian dari berlangsungnya gejala El Nino yang berkepanjangan, membuat sejumlah pepohonan menjadi rawan terbakar.

“Pepohonan kita sudah semakin kering, walaupun dibawahnya hijau tapi diatasnya sudah kering, akibatnya mudah terbakar,” kata Mahubessy.

Menurutnya, suhu di kota Ambon masih berada pada 35 derajat celcius, sehingga dari dampak kebakaran hutan tersebut tidak terlalu berpengaruh kepada cuaca maupun suhu yang ada. Karena masih bersifat lokal, dan asapnya bertiup keatas.

“Dengan kebakaran hutan tersebut, tidak meningkat suhunya. Karena sifatnya tidak besar hanya sepotong-sepotong. Ini sifatnya terlalu lokal, jadi tidak berpengaruh pada cuaca. Karena asapnya lari keatas dan angin cukup kuat. Anginnya sekarang dari utara dan mengarah dari luar Ambon,” terangnya.

Mahubessy menilai, kebakaran yang sementara terjadi di daerah perbatasan desa Halong dan Negeri Soya ini berbeda dengan yang terjadi di Merauke Papua. Karena di Merauke sangat besar hingga berdampak pada kabut asap.

Untuk itu, dia menghimbau agar masyarakat bisa bersama-sama menjaga kelestarian hutan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarang, maupun tidak melakukan pembakaran sampah dan sebagainya yang dapat menyebabkan terjadinya kebakaran hutan.

“Kalau sudah terjadi kebakaran maka pertanda bahwa hutan kita rentan terhadap kebakaran. Maka jangan membuang sampah di hutan maupun mengadakan pembakaran sampah sembarangan. Karena nantinya dapat memicu kebakaran hutan,” pesannya. (MAN/MG3/ISL)

Komentar

komentar


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 1001
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top