Tugu Persatuan Berganti Nama Menjadi Tugu Religi Sultra, Setujukah Anda? – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
HEADLINE NEWS

Tugu Persatuan Berganti Nama Menjadi Tugu Religi Sultra, Setujukah Anda?

Tugu Religi Sultra

Tugu Religi Sultra

KENDARINEWS.COM, KENDARI Setelah delapan tahun masyarakat Kota Kendari mengenal tugu yang dibangun di era Gubernur Ali Mazi, di kawasan MTQ Square dengan nama Tugu Persatuan, ikon itu kini sudah berganti, dengan nama baru Tugu Religius. Mereka yang melintas di depan Taman Kota Kendari, pasti sudah melihat perubahan nama itu, dari sebuah plang besar yang dibangun di kawasan tersebut. Sedangkan tugunya masih sama seperti dulu saat ditinggal, belum sempurna dibangun seperti desain awalnya.

Sebenarnya, perubahan nama itu tidak begitu mengejutkan karena sejak pertengahan November 2015, Gubernur Sultra, Nur Alam pernah menyampaikan hal tersebut ke publik. Ketika berpidato dalam acara temu tokoh lintas agama di Hotel Clarion, ia mengajukan usulan agar tugu yang berada di MTQ Square itu dinamai Tugu Religius. Ada beberapa alasan kata peraih penghargaan bintang maha putra ini yang mendasari pemikirannya untuk merekomendasikan nama itu.

Bahwa di lokasi itu pernah di helat ajang Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional tahun 2012, dan pernah pula di gelar MTQ Nasional tahun 2008 lalu. “Makanya saya ingin mengusulkan supaya dinamai Tugu Religius, karena mewakili semua agama di Sultra ini, apalagi sudah menjadi saksi pagelaran even berskala nasional itu, dan rencanannya 1000 tahun Injil juga akan kita selenggarakan di tugu ini tahun 2016,” ungkap Nur Alam saat itu.

Tapi Ketua Komisi I DPRD Sultra, L.M. Taufan Alam kurang sreg dengan alasan perubahan nama tersebut, yang melekatkan embel-embel religi. Masalahnya, nama itu terdengar ironi bila kawasan MTQ Square dimana tugu itu berada justru selama ini malah jadi pusat aktivitas non religi, khususnya di malam hari. Ada yang mengkonsumsi Miras, berhalwat (berdua-duaan antara perempuan dan laki-laki), termasuk tindakan kriminalitas lainnya.

Selain itu, kata mantan anggota DPRD Muna ini, penamaan maupun perubahan aset pemerintah idealnya harus mendapat persetujuan dewan, dalam bentuk peraturan daerah (Perda). Ia mengakui bahwa dirinya tak tahu kalau tugu ikon Sultra itu ternyata sudah berganti nama. “Saya kira ini penting kita ketahui tujuannya dan motivasi pemerintah  seperti apa, ini yang belum kami tahu persis,” ungkapnya, saat ditemui kemarin, (8/1).

Badan Perencaaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sultra menepis jika ada dugaan bahwa perubahan nama itu karena ada tendensi politik. Kepala Bappeda, Nasir Andi Baso menegaskan bahwa pergantian itu dilakukan karena permintaan masyarakat. Ditambah lagi banyak kegiatan keagamaan yang selalu dilaksanakan di kawasan MTQ Square. Mulai dari kegiatan tingkat local hingga nasional.

“Makanya kita sinkronkan semua itu dengan namanya. Saya kini nama ini akan lebih eksis dari nama sebelumnya,” katanya. Kata dia, pergantian nama ini sebagai bentuk pengisyaratan ketakwaan dari banyaknya kegiatan

Kata dia, pergantian nama tersebut tidak perlu dipersoalkan dan dibesar-besarkan karena semua itu dilakukan berdasarkan fakta pemanfaatannya tanpa ada unsur politik. “Ini murni perintah dari Gubernur Sultra Nur Alam. Sama sekali tidak ada tendensi politik didalamnya. Kita hanya inginkan, dengan simbol religi itu maka kedepan bisa mengisyaratkan bahwa kita kuat dengan jalinan religius dalam membangun daerah ini,” ucapnya.

Dia menambahkan, pergantian nama ini tidak perlu dipolemikkan atau dikembangkan dalam perspektif politik. Sebab, semua itu hanya sebatas formalitas tanpa mengubah struktur ataupun fungsinya. “Semua tetap seperti biasa. Hanya nama saja yang berubah. Tetap kita lakukan perawatan seperti biasa,” katanya.

Kata Nasir, untuk anggaran pergantian nama tersebut menggunakan postur APBD yang ditangani langsung oleh Dinas PU Sultra. “Saya tidak tau berapa anggaran yang digunakan. Silahkan dikonfirmasi langsung ke PU. Merekalah yang tahu persis,” pungkasnya.

Sementara itu, anggota DPRD Kota Kendari Umar Bonte mengungkapkan dalam melakukan pergantian nama, pemerintah harus melakukan pengakijan terlebih dahulu apakah semua itu sudah sesuai dengan asas manfaatnya atau tidak. Kalau belum dan hanya akan menimbulkan ketersinggungan masyarakat, sebaiknya tidak perlu dilakukan.

“Jangan sampai pergantian nama ini justru akan mencederai ajaran suatu agama. Karena bicara religi dan MTQ maka berarti Islam. Jangan sampai nama itu sudah diganti tetapi tidak bisa dijamin untuk bebas dari kegiatan maksiat. Tetunya itu akan merusak kita. Tetapi kalau namanya Tugu Persatuan saya kira tidak ada masalah dan itu sudah tepat. Dengan kondisi masyarakat Bumi Anoa yang heterogen ini,” tutupnya politis PDIP itu. (ahi/p4/b)

Komentar

komentar

2 Comments

2 Comments

  1. LA PURO AHSAN

    12 Jan 16 00:28 at 00:28

    Sebaiknya namanya TETAPLAH “Tugu Persatuan” sesuai Ide dari Gubernur Sultra, Ali Mazi pada awal mula didirikan.
    Untuk “Tugu Religi” sebaiknya bangun lagi yang baru, yang lebih megah lagi kalau perlu !

  2. Yat95 Blog

    13 Jan 16 18:48 at 18:48

    Dari pada pemprov sibuk hanya untuk membahas ganti nama tugu ini, mendingan membahas bagaimana kelanjutan pembangunan tugu ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top