Tahun 2016, Pertumbuhan Ekonomi Sultra Bisa 7,3 Persen – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Ekonomi & Bisnis

Tahun 2016, Pertumbuhan Ekonomi Sultra Bisa 7,3 Persen

KENDARINEWS.COM,KENDARI—Pertumbuhan ekonomi Sultra diprediksi akan mencapai 7,3 persen di tahun 2016. Pertumbuhan ini lebih tinggi dari tahun tahun 2016 yang hingga triwulan ketiga ini baru mencatatkan 6,3 persen. Sektor yang paling diandalkan yakni pertanian dan pertambangan.

Kepala Perwakilan Bidang Ekonomi Moneter BI Sultra, Harisuddin mengatakan, penetapan skala prioritas di sektor pertanian sangat menjanjikan karena akan memasuki musim penghujan. “Pemda harus fokus pada pengembangan program pertanian. Bisa melalui penambahan luas lahan, jaminan ketersediaan bibit dan pupuk maupun peningkatan irigasi. Sektor pertanian ditargetkan bisa menyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan target Rp.4 triliun per triwulan atau minimal Rp.16 triliun sepanjang 2016,” ungkap Hasiruddin. PDRB merupakan nilai tambah jasa dan barang yang dihasilkan suatu daerah secara keseluruhan.

Ia menambahkan, perekonomian global diperkirakan akan pulih meskipun tidak signifikan. Secara umum, perekonomian global masih akan mengalami perlambatan seperti di China penurunan harga komoditas, potensi kenaikan suku bunga di AS, serta ancaman keluarnya modal dari negara berkembang. Selain sektor pertanian dan membaiknya perekonomian global, pertumbuhan ekonomi Sultra juga akan ditunjang oleh sektor pertambangan. Pertambangan ditarget dapat menyumbang PDRB Rp 3 triliun per triwulan atau Rp 12 triliun selama setahun. “Sudah ada beberapa smelter yang saat ini sementara dibangun siap dioperasikan pada 2016. Pembangunan smelter akan mendorong perekonomian pada sektor konstruksi,” jelasnya.

Senada dengan itu, Pakar Ekonomi Sultra, Prof. Yusuf Abadi mengungkapkan Sultra memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang beragam, terutama pada sektor pertanian dan perkebunan dalam arti luas, serta pertambangan. “Pemprov Sultra mestinya mulai memikirkan pemanfaatan potensi sumber daya alam kelautan mengingat potensi sektor kelautan cukup besar bahkan melimpah,” terang Guru Besar Universitas Halu Oleo ini.

Dari sektor ini pemerintah dapat mengembangkan banyak program budidaya, mulai dari rumput laut, teripang, pohon bakau, udang windu, serta yang paling terkenal ikan kerapu dan udang. Pengembangan budidaya ini menghasilkan miliaran rupiah dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Tidak dapat dipungkiri potensi sumber daya kelautan Sultra cukup besar, bukan hanya bisa memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan, melainkan juga bisa mewujudkan kedaulatan pangan nasional,” terangnya.

Sementara Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik, Surianti Tahor mengungkapkan, proyeksi ekonomi Sultra memang dapat mengandalkan sektor pertanian. Di antaranya, komoditas padi, jagung, kedelai, dan ubi kayu. Padi memiliki potensial diperkirakan naik 0,02 persen atau sebesar 657.734 ton Gabah Kering Giling (GKG) dibanding tahun lalu yang hanya mencapai 657.617 ton GKG. Sementara jagung, diperkirakan naik 65.790 ton pipilan kering (PK) atau naik 5.190 ton atau 8,56 persen tahun ini dibandingkan tahun 2015 sebesar 60.578 ton.

Untuk produksi kedelai, diproyeksikan meningkat menjadi 8.136 ton biji kering (BK) atau naik 2.445 ton atau 42,96 ton ditahun 2016 mendatang. “Peningkatan produksi kedelai diperkirakan terjadi kenaikan luas panen 956 hektar atau 18,82 persen. Produktivitas juga diperkirakan naik 2,28 kuintal per hektar atau 20,36 persen,” ungkap Surianti Tahor.

Sektor perkebunan yang menjadi sektor unggulan yakni Kakao memiliki potensi yang cukup menjanjikan mengingat, telah beroperasinya industri Kakao oleh Kalla Kakao Industri di Kabupaten Kolaka. Produksi tanaman kakao tahun di 2016 diperkirakan mencapai angka 157.537 ton. Secara keseluruhan padi, jagung, kedelai, dan ubi kayu serta komoditi kakao dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi Sultra di 2016 Rp 4 triliuan per triwulan. “Potensi komoditi unggulan tersebut sangat strategis untuk dikembangkan dalam rangka peningkatan nilai tambah dan daya saing daerah dalam menghadapi persaingan global terutama dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ,” terangnya.

Demikian pula pada sektor pertambangan, komoditas yang cukup strategis antara lain nikel dengan potensi 97,4 miliar wmt, (nilainya sekitar Rp 23 ribu triliun) juga emas dengan deposit 1,125 juta ton (nilainya mencapai Rp 450 ribu triliun) dan aspal dengan deposit sekitar 3,8 miliar ton (nilainya mencapai Rp 2.301 triliun) di tahun 2016 ini. “Membangun industri berbasis nilai tambah, saat ini telah beroperasi 1 (satu) pabrik pengolahan nikel di Puriala Kabupaten Konawe dan terdapat 10 (sepuluh) smelter pengolahan nikel dalam tahapan proses pembangunan di Kabupaten Bombana, Konawe Selatan dan Konawe Utara,” urainya. (had)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top