Ir Yesna Suwarni MSc: Keamanan Pangan Masih Perlu Perhatian Serius – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
UHO Cup Iklan Iklan 10 Iklan 23
BKP

Ir Yesna Suwarni MSc: Keamanan Pangan Masih Perlu Perhatian Serius

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mendapat penjelasan dari Kepala BKP Sultra, Ir Yesna Suwarni MSc terkait Model Pengembangan Pangan Pokok Lokal (MP3L) pada kegiatan Promosi Pangan Nusantara di Padang.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mendapat penjelasan dari Kepala BKP Sultra, Ir Yesna Suwarni MSc terkait Model Pengembangan Pangan Pokok Lokal (MP3L) pada kegiatan Promosi Pangan Nusantara di Padang.

Badan Ketahanan Pangan (BKP) Sultra terus meningkatkan kinerja dalam rangka terwujudnya ketahanan pangan pangan di daerah sebagaimana yang diamanahkan dalam Undang Undang no. 18 tentang Pangan. Koordinasi, pengawasan dan sosialisasi pun terus digencarkan. Lantas, bagaimana kondisi ketahanan pangan di daerah ini? Berikut penjelasan Kepala BKP Sultra, Ir Yesna Suwarni MSc;

Apa arti penting ketahanan pangan di daerah?
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama. Undang-Undang nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan menyebutkan ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif secara berkelanjutan. Ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas utama pembangunan daerah maupun nasional. Ada tiga alasan utama yang melandasi adanya kesadaran dari semua komponen masyarakat atas pentingnya ketahanan pangan yakni : (1) Akses atas pangan yang cukup dan bergizi bagi setiap penduduk merupakan salah satu pemenuhan hak azasi manusia ; (2) Konsumsi pangan dan gizi yang cukup merupakan basis bagi pembentukan sumber daya manusia berkwalitas dan; (3) Ketahanan pangan merupakan basis bagi ketahanan ekonomi suatu daerah. Dengan demikian ketahanan pangan memegang peranan penting bagi kehidupan suatu daerah, karena itu Pemda bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup secara kwantitas maupun kwalitas bagi penduduknya secara adil, merata dan berkelanjutan.

Bagaimana kondisi ketahanan pangan di daerah ini?
Pembangunan ketahanan pangan dapat diwujudkan melalui tiga aspek utama yang sekaligus dapat menggambarkan kondisi ketahanan pangan suatu daerah/wilayah yakni, ketersediaan pangan dalam jumlah dan jenis yang cukup bagi seluruh penduduknya, distribusi pangan yang lancar dan merata, dan konsumsi pangan setiap individu yang memenuhi kecukupan gizi dan kaidah kesehatan. Dengan demikian, pembangunan ketahanan pangan suatu daerah merupakan tugas dan tanggung jawab bersama lintas SKPD teknis terkait. Dari aspek ketersediaan terkait dengan Dinas Pertanian dan Peternakan, aspek distribusi terkait dengan Dinas Perhubungan dan Dinas Peridustrian dan Perdagangan dan dari aspek konsumsi terkait dengan Dinas Kesehatan. Terhadap ketiga aspek ini BKP Sultra terus melakukan analisis secara regular, sehingga dapat dipastikan bahwa perkembangan ketahanan pangan daerah kita dalam kondisi yang aman.

Terkait ketersediaan pangan, apakah ada kemungkinan terjadi rawan pangan di daerah ini?
Wilayah Sultra memiliki sumber daya alam yang sangat potensial dalam penyediaan kebutuhan pangan masyarakat baik pangan pokok sumber energi, sumber protein maupun pangan sumber vitamin dan mineral. Selaras dengan itu, pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten senantiasa menjadikan peningkatan produksi sebagai fokus program dan kegiatan setiap tahun anggaran pembangunannya dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.Berdasarkan angka ramalan II Badan Pusat Statistik Nasional, produksi beras Sultra tahun 2015 mencapai 359.000 ton. dengan kebutuhan konsumsi beras 96 kg/kapita/thn maka untuk jumlah penduduk Sultra 2,5 juta jiwa dibutuhkan 240.600 ton selama satu tahun ini, dengan demikian masih terdapat stock (surplus) beras sebesar +106 ton. Dari jumlah stock tersebut, maka kondisi ketahanan pangan kita aman hingga Mei 2016. Keadaan surplus produksi beras seperti ini sudah terjadi setiap tahun. Demikian halnya dengan beberapa jenis komoditi pangan pokok lokal lainnya yang juga mengalami surplus. Untuk jagung terdapat stock +28.000 ton, Ubi kayu 100.000 ton dan sagu +4.005 ton. Sedangkan untuk bahan pangan daging ayam memiliki stock +5.900 ton dan daging sapi +1.900 ton, kecuali telur ayam mengalami defisit disebabkan oleh suplai dari Sulsel memang berkurang sementara peternak ayam petelur di Sulawesi Tenggara kurang bergairah karena harga pakan yang cukup mahal.

BACA JUGA :  Demapan Berhasil, Tahun 2016 Diganjar Rp.200 Juta

Bagaimana dengan keamanan pangan yang keseharian dikonsumsi masyarakat Sultra?
Keamanan pangan merupakan salah satu aspek yang penting dalam pembangunan ketahanan pangan. Keamanan pangan diarahkan untuk mencegah pangan yang beredar di pasar dari kemungkinan cemaran mikroorganisme, kimia dan benda fisik lainnya yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. Secara umum, aspek keamanan pangan di Sultra masih perlu mendapatkan perhatian serius. Masyarakat baik produsen maupun konsumen belum banyak memahami akan pentingnya keamanan pangan. Bahkan sebagian masyarakat masih menganut prinsip yang penting makan dan kenyang dan belum sama sekali memperhatikan aspek keamanan pangannya. Dari hasil pengawasan menunjukkan bahwa masih ada bahan pangan terutama bahan pangan segar yang beredar dan menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari dengan kondisi tidak aman. Hasil pengujian laboratorium maupun rapid test terhadap beberapa jenis sayur dan buah terdeteksi mengandung residu pestisida dan formalin yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Karena itu masih perlu terus ditingkatkan pengawasan pada setiap rantai pangan mulai dari petani sampai pada pengolahan di tingkat rumah tangga (from farm to table) agar pangan yang dikonsumsi masyarakat benar-benar tidak tercemar dan aman untuk dikonsumsi. Pengawasan keamanan pangan ini juga dilakukan secara terpadu dengan instansi teknis lainnya yang tergabung dalam struktur Jejaring Keamanan Pangan Daerah (JKPD). Untuk pengawasan dalam proses produksi pangan segar sayur dan buah dilakukan oleh UPTB- OKKPD Badan Ketahatan Pangan bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan dan Dinas Perkebunan dan Hortikultura. Untuk pengawasan di tingkat pasar dilakukan terpadu dengan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Sultra dan Balai Karantina kelas II Kendari.

BACA JUGA :  BKP Uji Laboratorium Dan Rapid Test Kit Pangan Segar

BKP Sultra mewujudkan ketahanan pangan berbasis sumberdaya lokal, maksudnya?
Undang-undang Pangan nomor 12 tahun 2012 mengamanatkan Pemerintah Daerah untuk bertanggung jawab atas ketersediaan dan produksi pangan lokal di daerah. Berdasar hal tersebut, maka BKP Sultra memiliki visi “Mewujudkan Ketahanan Pangan Masyarakat Sulawesi Tenggara Berbasis Sumber Daya Lokal”. Visi ini juga didasari oleh kenyataan bahwa selain untuk komoditas beras, di Sultra juga sangat potensial untuk program diversifikasi pangan. Pengembangan pangan pokok lokal selain beras memiliki prospek cukup strategis di daerah ini, selain karena potensi lahan untuk prodduksi sagu dan pengembangan jagung dan berbagai jenis umbi cukup tersedia, juga karena masyarakat Sultra masih tetap mempertahankan budaya dan kearifan lokal dalam mengkonsumsi pangan pokok lokal itu sebagai menu makanan sehari-hari.Potensi ini merupakan kekuatan yang sangat baik dan dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan dalam rangka memperkuat ketahanan pangan daerah ini.

Sumberdaya lokal dimaksud ternyata belum bisa diandalkan sebagai konsumsi utama, mengapa?
Meski potensi pangan pokok lokal selain beras cukup tinggi, namun harus diakui bahwa memang pangan pokok lokal ini belum menjadi makanan utama. Hal ini disebabkan oleh adanya kebiasaan masyarakat yang sangat tergantung pada beras sebagai makanan pokok utamanya, dan menganggap pangan pokok lokal lain dengan bahan sagu, jagung dan umbi sebagai makanan inferior atau makanan kelas dua. Masih sangat kental image di masyarakat bahwa belum kenyang kalau belum makan nasi. Selain itu, program Pemerintah melalui penyediaan “beras miskin” telah banyak mempengaruhi pola konsumsi masyarakat yang sebelumnya sudah mengkonsumsi pangan pokok lokal non beras kembali beralih ke beras.

Lantas upaya apa yang dilakukan dalam meningkatkan pemanfaatan sumberdaya lokal dimaksud?
Berbagai upaya telah dilakukan dalam pengembangan pangan pokok lokal di Sultra. Upaya ini dimaksudkan untuk mengubah mindset masyarakat ke arah pola konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) dan menurunkan rata-rata konsumsi beras per kapita sebesar 1,5 persen/tahun. Upaya pengembangan dimaksud antara lain :
1. Pemerintah Provinsi telah mengeluarkan Peraturan Gubernur nomor 13 tahun 2010 tentang Aksi Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) Berbasis Sumber Daya Lokal, dan telah ditindaklanjuti oleh seluruh kabupaten melalui Peraturan Bupati/Walikota untuk lebih mengoperasinalkan di daerah masing-masing. Kita mendengar program “one day no rice” (sehari tanpa nasi) dari Pemerintah Provinsi Sultra dan Kota Kendari. Ada pula program Sikkato dari Pemerintah Kota Kendari. Bahkan, Walikota Kendari telah beberapa kali menerima penghargaan nasional atas prestasi mengembangkan pangan lokal di Kota Kendari. Tentu saja hal ini adalah sesuatu yang patut dibanggakan. Begitu juga di kabupaten-kabupaten lain telah memiliki gerakan-gerakan untuk meningkatkan konsumsi pangan lokal daerahnya.

BACA JUGA :  Kementan dan FAO Dukung Pengembangan Sagu

2. Sosialisasi dan promosi melalui pameran di tingkat nasional. Di tingkat provinsi, bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK tingkat Provinsi diselenggarakan lomba cipta menu berbahan baku non beras pada setiap tahun. Selain itu, juga dilakukan kampanye kreatif dengan melibatkan anak sekolah, tokoh masyarakat formal dan non formal

3. Mengembangkan produk pangan pokok lokal melalui Model Pengembangan Pangan Pokok Lokal (MP3L). Kegiatan ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras dan mengembalikan pola konsumsi masyarakat kepada budaya dan potensi pangan local setempat. Kelompok sasaran MP3L difasilitasi dengan mesin dan peralatan dan diberikan pembinaan untuk menghasilkan produk olahan baku (intermediate product) dalam bentuk tepung sagu kering dan tepung kaopi sebagai bahan sinonggi dan kasoami.

4. Bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Universitas Halu Oleo Kendari dalam rangka meningkatkan kwalitas dan nilai gizi produk tepung sagu dan tepung kaopi sehingga menarik untuk digunakan sebagai bahan pangan pokok.

Bagaimana hasilnya?
Dari berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan dalam upaya pengembangan pangan lokal menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di Kota Kendari telah terdapat 23 rumah makan yang menyajikan paket sinonggi sebagai menunya, juga di beberapa hotel memilki paket kuliner sinonggi pada hari-hari tertentu. Di Wakatobi, makanan khas lokal kasoami menjadi menu pada acara-acara pertemuan yang bertaraf internasional sekalipun. Demikian pula halnya di beberapa kabupaten lainnya telah memiliki rumah makan dengan menu pangan khas daerah masing-masing. Hal yang menggembirakan lainnya adalah kelompok-kelompok binaan telah meghasilkan produk bahan baku berupa tepung sagu dengan kwalitas yang sangat baik sebagai bahan sinonggi dan mie sagu. Begitu juga dengan produk tepung ubi kayu dalam bentuk tepung kaopi kering sebagai bahan baku kasoami. Dengan kemasan dan daya simpan yang lebih lama, produk olahan baku kedua jenis pangan lokal ini sudah menjadi oleh-oleh bagi tamu dari luar yang berkunjung ke daerah ini.

Dengan kondisi yang ada apa bisa daerah ini mewujudkan kedaulatan dalam pangan?
Kita memiliki sumber daya alam yang potensial untuk diusahakan dengan berbagai komoditas pangan. Kita juga memiliki kearifan budaya lokal yang masih terus dipertahankan. Kedua hal ini merupakan potensi yang sangat mendukung untuk dikembangkan dalam memantapkan kemandirian pangan daerah kita. Pada saat yang sama, Pemda baik provinsi maupun kabupaten senantiasa menjadikan prioritas berbagai program dan kegiatan peningkatan produksi untuk mendukung terwujudnya kedaulatan pangan di daerah masing-masing. Oleh karena itu, Saya sangat yakin ke depan kita pasti bisa mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan dalam rangka peningkatan ketahanan pangan daerah Sulawesi Tenggara. (***)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top