Pariwara
Opini

Pemimpin Anti Mainstream (Setitik Harapan Untuk Kepala Daerah Baru)

[dropcap]B[/dropcap]angsa Indonesia baru saja mengukir sejarah baru dalam pelaksanaan sistem demokrasi. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak 9 Desember 2015 lalu merupakan fenomena baru dalam sebuah pesta demokrasi. Makanya tidak sedikit bangsa lain “berkiblat” ke Indonesia terkait pelaksanaan sistem demokrasi.

ilustrasi

ilustrasi

Pilkada serentak semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan hari anti korupsi internasional. Ada 269 daerah yang ikut Pilkada serentak tahun ini. Dari jumlah itu, tujuh diantaranya ada di Sulawesi Tenggara (Sultra). Tujuh daerah itu adalah Konawe Selatan, Konawe Kepulauan, Konawe Utara, Kolaka Timur, Muna, Buton Utara, dan Wakatobi. Aparat Kepolisian dibantu pihak TNI dinilai cekatan dan disiplin dalam mengawal pelaksanaan Pilkada sehingga dapat berjalan aman, lancar dan kondusif. Bila merujuk hasil quick count (hitung cepat), data C1 yang diunggah di website KPU maupun hasil pleno PPK masing-masing daerah Pilkada sudah ada gambaran kandidat pemenang. Secara umum tak ada sesuatu yang mengejutkan dari hasil Pilkada serentak kali ini. Kecuali, tumbangnya beberapa calon petahana di beberapa daerah. Misal Konawe Utara dan Buton Utara. Itupun sebenarnya, jauh hari publik sudah memperkirakan hal ini. Tapi, mari lupakan dulu sejenak soal petahana dan para kandidat calon pemenang. Mari tinjau dulu pelaksanaan Pilkada secara keseluruhan. Sebab, hakikatnya Pilkada merupakan bagian sistem demokrasi untuk mencari seorang pemimpin pilihan rakyat. Karena ini sistem, maka ruang untuk muncul masalah juga terbuka lebar. Terutama pada aspek penyelenggaraannya. Tetapi apapun itu, kita tidatetap saja Pilkada endingnya adalah menghasilkan pemimpin baru. Lalu apa makna dari istilah pemimpin baru? Sebuah pertanyaan yang cukup sederhana namun penuh makna terutama dalam konteks kebutuhan masyarakat saat ini.

“Leviathan”

Istilah “leviathan” dilukiskan sebagai monster raksasa. Dalam studi politik diartikan sebagai sosok yang selalu berupaya memperluas dan memperbesar kekuasaannya. Nah, lalu apa kaitannya dengan Pilkada dan pemimpin baru? Begini ceritanya: Ada banyak sifat dan bentuk dalam memilih pemimpin. Pada masyarakat modern, para ilmuwan politik barat bersepakat bahwa sistem demokrasi melalui pemilihan langsung merupakan formulasi terbaik dalam melegitimasi seseorang sebagai pemimpin. Demokrasi yang dicontohkan pada proses Pilkada adalah klaim kaum mayoritas terhadap minoritas. Kehendak umum mengalahkan kehendak pribadi. Namun faktanya, dukungan atau klaim mayoritas tak selamanya menghasilkan pilihan terbaik. Bisa jadi partai politik sebagai pintu gerbang dalam sistem politik, gagal menyalurkan dan menafsirkan aspirasi politik masyarakat sehingga kita hanya melahirkan pemimpin-pemimpin yang “leviathan”. Yaitu, pemimpin yang hanya berorientasi pada kekuasaan demi pemenuhan kebutuhan dan keuntungan pribadi.

Anti Mainstream

Mainstream menurut Netizen (warga dunia maya) didefinisikan sebagai kebiasaan umum. Sedangkan anti-mainstream adalah kemauan melakukan pembedaan dari kebiasaan orang-orang pada lazimnya. Mainstream, dalam bahasa inggris termasuk kata benda (noun), memiliki makna ide-ide, sikap-sikap atau aktifitas yang dianggap normal atau konvensional. Bisa diartikan juga tren yang umum dalam pendapat, fashion, atau seni. Secara ringkasnya, pengertian mainstream adalah biasa, wajar, hal lumrah atau menjadi kebiasaan umum. Anti mainstream juga termasuk istilah gaul  yang memiliki arti kebalikan dari mainstream. Orang anti mainstream memiliki inovasi dan selalu ingin tampil beda dengan orang lain. Kaitannya dengan pemimpin anti mainstream? Kalau dicermati sampai saat ini banyak pemimpin lebih memetingkan dirinya dibanding masyarakat. Lihat saja, banyak pemimpin daerah (bupati/wali kota) lebih mendukung investor daripada mempertimbangkan nasib rakyat karena dampak kerusakan hutan oleh pengusaha tambang. Intinya, sampai saat ini, di Sultra belum ada sosok pemimpin  bersikap anti mainstream.  Belum ada sosok kepala daerah seperti Risma di Surabaya, Ridwan Kamil di Bandung, Yoyok di Kabupaten Batang, Ganjar Pranomo di Jawa Tengah dan lain sebagainya. Mereka itu adalah sosok para kepala daerah anti mainstream. Berbuat tidak biasa (berbeda dengan para pendahulu), baik menyangkut penataan birokrasi, lingkungan, pemberantasan korupsi maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat. Nah, tahun ini tujuh daerah di Sultra telah memilih pemimpin baru. Semoga saja, akan lahir para pemimpin anti mainstream tersebut. Sebab, dalam kondisi seperti sekarang, pemimpin seperti itu menjadi kebutuhan untuk bisa keluar dari sistem pemerintahan patologik. Yakin saja, kalau satu saja diantara tujuh pemimpin baru itu mampu berbuat anti mainstream, maka nama Sultra akan dikenal di kancah nasional. Tentunya, akan berkorelasi dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Jangan lagi, hanya karena persoalan sakit hati karena kalah sehingga menghalalkan segala cara. Ingat, menang dan kalah dalam sistem demokrasi merupakan keniscayaan. Makanya, para kandidat perlu memperlihatkan ke publik bahwa Pilkada bukan hanya soal kekuasaan tapi ada misi besar untuk membawa masyarakat pada kesejahteraan. Pilkada bukan seperti sebuah pertandingan sepakbola dengan selebrasi kemenangan. Pilkada secara fungsional dapat dijadikan sebagai landasan pacu bagi pemimpin baru dalam berkompetisi dengan pemimpin daerah lain di seluruh Indonesia. Pemimpin anti mainstream bukanlah pencitraan tapi berlomba melakukan hal terbaik bagi masyarakat. (*)

*Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Ilmu Politik di Universitas Padjadjaran, dan Dosen Universitas Lakidende Unaaha


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 982
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top