Pariwara
Opini

Pemasaran Politik Kandidat, Masihkah “Sexy” Seperti Dulu?

url[dropcap]D[/dropcap]ua bulan lagi pertarungan politik (baca:pesta demokrasi) pada tujuh kabupaten di Sultra digelar. Pilkada serentak di tujuh daerah itu menjadi tranding topik di berbagai media massa (cetak maupun elektronik), termasuk warung-warung kopi juga, seolah tak pernah habis dibahas. Mulai dari kalangan pejabat hingga tukang becak, turut memberikan pandangan tentang berbagai spekulasi politik. Utamanya soal figur mana yang berpeluang memenangkan Pilkada.

Hanya persoalannya, sudut pandang dalam diskusi itu hanya sebatas menilai kandidat dan partai politik saja. Tidak sekalipun muncul gagasan tentang strategi melakukan pemasaran politik yang mumpuni untuk memenangkan pertarungan tersebut. Kebanyakan hanya berkutat pada hitungan diatas kertas dan melakukan serangan fajar. Atas fenomena ini memunculkan dugaan kalau gagasan pemasaran politik Pilkada di daerah ini tidak lagi “sexy” seperti ketika pertama kali muncul.

Perlu dipahami bahwa pemasaran politik merupakan perkawinan campuran antara pemasaran dan politik. Perjodohan ini secara brilian dapat terjadi karena pemikiran ahli pemasaran dan politik. Kalau diibaratkan, kedua hal ini seperti pemuda tampan yang jatuh hati pada seorang gadis seksi nan cantik. Pelaku pemasaran (lelaki tampan tadi) melakukan transfer berupa kerangka pikir, teori-teori dan teknik pemasaran produk dan jasa. Informasi itu masuk ke sukma si gadis untuk memasarkan atau menawarkan produk intangible, yaitu janji-janji kebijakan politik. Kalau ini berjalan dengan baik, sudah pasti hasilnya akan luar biasa. Prinsipnya, tolok ukur kemenangan para kandidat salah satunya ditentukan oleh strategi yang tepat dalam melakukan pemasaran politik.

Namun untuk memaksimalkan potensi pemenangan para kandidat, ada beberapa hal yang mungkin harus diperhatikan. Sebab, pemasaran politik di Pilkada berbeda dengan pemasaran produk pada umumnya. Makanya perlu diperhatikan hal berikut: Pertama, semua pembeli (pemilih) melakukan pembelian secara serempak pada hari yang sama. Sehingga mesti menyatukan pilihannya secara kolektif meskipun bisa saja mereka sesungguhnya tidak menyukai produk yang sama. Kedua, produk yang ditawarkan harus intangible (tidak benar-benar dapat dilihat), sehingga pembelinya tidak dapat memeriksa dengan teliti lebih dahulu. Dengan begitu sulit untuk memberikan penilaian sebelum memutuskan membeli produk yang ditawarkan. Istilah beli kucing dalam karung, kebanyakan terpaksa dilakukan.

Adanya perbedaan itulah yang harus diperhatikan para kandidat dan partai politik.  Dalam pemasaran politik penuh dengan ide-ide, konflik, emosi, gagasan juga kemitraan. Itulah yang membedakan dengan pemasaran produk secara umum. Karena didalamnya tidak ada kampanye negatife. Sementara dalam pemasaran politik sudah biasa terjadi terutama ketika proses kampanye berlangsung. Perlu juga dipahami para pembeli bahwa produk politik baru sampai ditangan pembelinya ketika pesta perebutan kekuasaan atau pencoblosan telah usai dilakukan.

Tepatnya ketika kandidat yang jadi pemenang mulai efektif memerintah atau berkuasa. Para pencoblos atau pembelipun baru mengetahui bahwa pilihannya bagus atau buruk. Maka janji-janji politik menjadi bagian yang sangat penting dalam pemasaran politik. Untuk itu, penting kiranya masyarakat menilai janji politik yang ditawarkan. Apakah janji itu bisa dilaksanakan, bisa dipenuhi dan seder pertanyaan lain, sebagai bentuk masyarakat yang skeptis. Kadangkala masyarakat puas dengan pilihan produknya, namun tak jarang mengeluh ketika sudah memerintah. Parahnya lagi, keluhan itu disampaikan di mana-mana, mulai tempat kerja hingga media sosial.

Kasus Jokowi-JK mungkin bisa menjadi contoh, dimana masyarakat menjadi kecewa karena banyak janji politik tidak terpenuhi. Pasangan ini menjadi kesayangan media hasil pemasaran politik, namun belakangan belum bisa memenuhi ekspektasi publik. Memang baru setahun, tapi melihat kondisinya belum memenuhi harapan sebagaimana janji mereka dulu.

Money Politik Kendala Utama

Kampanye negatif (black campaign/negative campaign) sering dilakukan para kandidat jika merasa kalah langkah dengan sang rival. Namun, bukan hanya itu saja menjadi ancaman Pilkada, politik uang (money potic) juga tetap menjadi isu panas yang tidak bisa dihindari dalam melaksanakan marketing politik. Politik uang ini menjadi musuh paling teratas dalam menyukseskan kegiatan para pemasar, untuk mempromosikan jagoannya. Politik uang punya makna beragam bagi semua kalangan. Dari kaum elit partai (pengusaha), cara ini berupa kesengajaan menghambur-hamburkan uang untuk masyarakat dalam rangka memenangkan Pilkada. Dilakukan mulai dari proses kampanye hingga pencoblosan. Para pelaku politik uang ini tak lagi mau repot memikirkan strategi normatif untuk memasarkan kandidat jagoannya. Mereka hanya mengandalkan uang untuk mengambil alih semua keinginan untuk meraih suara dari para pemilih.

Praktek politik uang ini sesungguhnya tidak hanya menjadi masalah soal suap menyuap dengan sasaran memenangkan salah satu kandidat. Lebih dari itu, ada juga kaitannya dengan pelanggaran pidana. Sebab, tidak sedikit dana yang digunakan berasal dari sumber tidak jelas dan parahnya lagi tidak dilaporkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Padahal, aturan secara jelas dan tegas melarang praktek seperti itu.

Politik uang memang sulit dihindari di Pilkada. Dari dulu hingga detik ini belum ada cara ampuh untuk membendung kehadirannya. Hal itu karena disebabkan beberapa alasan: Pertama, minimnya jumlah pengawas lokal dan asing. Secara teknis juga terlalu singkat waktu kerjanya. Beda dengan Pilpres yang lembaga pengawasnya dibentuk jauh hari. Disisi lain, para penyelenggara juga kurang dibekali pengetahuan mumpuni sehingga praktek seperti itu kian marak terjadi. Kedua, persaingan yang cukup ketat diantara para kontestan Pilkada. Para tim kampanye, biasanya bukannya bantu mengawasi politik uang yang terjadi, mereka malah ikut serta. Ketiga, kurangnya partisipasi media lokal dalam mengungkap kasus seperti ini, sehingga mereka makin berani.

Bisakah se Sexy Dulu?

[two_third]

Pertanyaan diatas menjadi pekerjaan rumah bagi banyak kalangan. Teori pemasaran politik mengajarkan dan mendidik masyarakat agar bijak dalam menentukan pilihannya di Pilkada. Kelemahan mendasar dalam proses Pilkada terletak pada kehidupan masyarakat secara umum. Maksudnya, terkadang masyarakat menganggap Pilkada hanya sebuah formalitas semata. Disisi lain Pilkada juga dianggap sebagai sesuatu yang bisa mendatangkan kejenuhan dan menyita waktu. Bukan hanya itu, akibat tahapan yang terlalu lama, kadangkala rentan dengan konflik daerah dan birokrasi. Mulai dari mutasi (istilah bersih-bersih di birokrasi jadi populer) tiba-tiba, hingga regulasi dadakan dari penguasa yang membingungkan masyarakat.

Saat ini pelaksanaan kampanye Pilkada serentak masih berlangsung. Dalam situasi seperti sekarang, mestinya dimanfaatkan para kandidat untuk menawarkan pasaran politiknya. Jika pada akhirnya slogan “beli kucing dalam karung” bisa diminimalisir, maka itu berarti pemasaran politik kandidat berhasil. Dengan kata lain, masyarakat semakin cerdas dalam menentukan calon pemimpinnya.

Secara umum, masyakat menengah kebawah hanya berharap disediakan pendidikan gratis, kesehatan dan perumahan yang layak. Bagi mereka, kalau penguasa bisa memenuhi kebutuhan itu, sudah sangat disyukuri. Makanya, momentum ini harus dimanfaatkan para kandidat. Tidak perlu menawarkan sesuatu program yang bombastis, pada akhirnya tidak bisa direalisasikan, sehingga membuat kecewa masyarakat. Akan lebih baik, menwarkan janji politik yang realistis dan mencerdaskan dan hal itu bisa direalisasikan nantinya. Inilah yang kita maksudkan pemasaran politik yang seksi, sehingga membuat pembeli jatuh cinta. (*)

Penulis adalah mantan Ketua Panwaslukada Sultra 2012 dan mahasiswa Program Doktor Manajeman Pemasaran UHO

[/two_third]

[one_third_last][ads1][/one_third_last]


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 982
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top