Rupiah Menguat, Tembus 13.711 Per USD – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Rupiah Menguat, Tembus 13.711 Per USD

6351_23719_saham jawapos hl

KENDARINEWS.COM. JAKARTA — Penguatan tajam rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD)  terus berlanjut. Bahkan di pasarspot, Rabu (7/10) rupiah mencatat  penguatan harian terbesar sepanjang enam tahun terakhir.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara  mengatakan, penguatan tajam rupiah dalam tiga hari terakhir tak lepas  dari dorongan kombinasi faktor eksternal dan internal.

”Itu memicu  pembalikan modal dari AS ke emerging markets, termasuk Indonesia,”  ujarnya di Kantor Presiden, Rabu (7/9).

Sebagai gambaran, dalam dua hari terakhir saja, ada USD 82 juta dana  tambahan yang dialokasikan manajer investasi asing ke pasar modal Indonesia. Menurut Mirza, faktor eksternal terkait melemahnya recovery  perekonoian AS yang lantas meredam isu kenaikan suku bunga Bank  Sentral AS atau The Fed, memicu penguatan mata uang global terhadap  USD.

”Investor atau spekulan yang tadinya memegang dolar, sudah mulai  melakukan cut loss (jual rugi),” katanya.

Sementara itu, dari internal, Mirza menyebut rilis paket kebijakan  ekonomi oleh pemerintah mendapat respons positif pasar.

Reformasi  struktural itu, diyakini dalam jangka menengah panjang akan menurunkan inflasi dan meningkatkan suplai valas di dalam negeri.

”Makanya orang  mulai jual dolar yang sebelumnya ditumpuk untuk spekulasi,” ucapnya.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Offered Rate (Jisdor) yang dirilis  BI menunjukkan, kemarin rupiah ditutup di level 14.065 per USD,  menguat signifikan hingga 317 poin dibanding penutupan hari sebelumnya  yang di posisi 14.382 per USD. Level 14.065 per USD tersebut merupakan  yang terkuat sejak 31 Agustus 2015 lalu.

Sementara itu di pasar spot, rupiah sudah menguat lebih tajam. Data  Bloomberg menunjukkan, kemarin rupiah langsung dibuka menguat di level  14.179 per USD dari penutupan sebelumnya di 14.241 per USD. Setelah  itu, rupiah tak sekalipun melemah, hingga mencatat level terkuat di  13.711 per USD, sebelum akhirnya ditutup pada sore kemarin di level  13.821 per USD, atau menguat 2,95 persen.

Penguatan tersebut menempatkan rupiah di posi si ke dua mata uang di  kawasan Asia Pasifik yang berhasil menaklukkan USD. Kemarin, USD  memang babak belur akibat larinya dana investor dari Negeri Paman Sam.  Malaysia mencatat penguatan harian 3,51 persen atau yang terbesar  sepanjang 17 tahun terakhir. Dari 13 mata uang utama di Asia Pasifik,  hanya dolar Australia dan dolar New Zealand yang gagal membukukan  penguatan terhadap USD.

Mirza mengatakan, aliran modal yang kembali ke Indonesia membuat  situasi pasar keuangan dan pasar modal kian kondusif.

Tak hanya rupiah  dan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menguat, namun juga di  pasar Surat Utang Negara (SUN). Dia menyebut, yield atau imbal hasil  SUN yang sebelumnya sempat mendekati level 10 persen, kemarin sudah  turun tajam ke kisaran 8,7 persen. ”Ini sangat bermanfaat karena  berarti biaya utang pemerintah turun,” jelasnya.

Namun, penguatan rupiah ini juga harus dibayar mahal. Sejak tekanan  bertubi-tubi dalam satu bulan terakhir, BI terus berjibaku meredam  anjloknya rupiah dengan melakukan operasi moneter di pasar uang. Akibatnya, cadangan devisa pun langsung terkuras.

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara  mengungkapkan bahwa BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia akhir  September 2015 senilai USD 101,7 miliar. Posisi tersebut lebih rendah  dibandingkan dengan  posisi cadangan devisa akhir Agustus 2015 senilai  USD 105,3 miliar.

“Perkembangan tersebut disebabkan oleh penggunaan cadangan devisa  dalam rangka pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan dalam rangka  stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujarnya di Jakarta, Rabu (7/10).

Tirta menuturkan penurunan tersebut sejalan dengan komitmen Bank  Sentral yang telah dan akan terus berada di pasar untuk melakukan  upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Dengan perkembangan tersebut, lanjutnya, posisi cadangan devisa per  akhir September 2015 masih cukup membiayai 7,0 bulan impor atau 6,8  bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. “Cadangan  devisa saat ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar  3 bulan impor,” tambahnya.

Otoritas moneter menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung  ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan  ekonomi Indonesia ke depan. Penguatan tajam rupiah juga membuat para pelaku usaha di bidang ekspor  impor mulai melakukan kalkulasi ulang. Ketua Umum Asosiasi  Eksportir-Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo) Khafid Sirotuddin mengatakan meski rupiah mulai menguat beberapa hari ini namun belum menjadi momen yang tepat untuk melakukan importasi. “Harga masih tinggi kalau mengimpor sekarang, terakhir kita impor  waktu rupiah masih Rp 13.000 per dolar AS,” tuturnya.

Saat delivery order (DO) importir harus membayar uang muka,  selanjutnya saat buah dan sayuran di negara asal panen dan siap  dikirim dolar malah menguat hingga tembus Rp 14.500 per dolar AS.

“Harga dari penjual memang tetap misal USD 2 per kilo tapi kita  bayarnya pakai rupiah jadi dari harusnya Rp 26.000 jadi Rp 29.000  perkilo. Nah kalau se kontainer?,” keluhnya.

Para importir buah sekarang ini belum berani melakukan delivery order  (DO) lagi khawatir dalam beberapa bulan kedepan dolar akan semakin menguat. Sebab jika kurs masih tinggi maka harga jual ke dalam negeri juga menjadi mahal.”Masalahnya daya beli masyarakat sedang menurun. Akibatnya banyak importir yang pilih jual rugi asal buah cepat laku,  daripada busuk,”tukasnya.

[two_third]

Sementara buah dan sayuran lokal belum bisa diandalkan untuk  menggenjot ekspor. Padahal seharusnya pelemahan rupiah memberi  keuntungan besar bagi eksportir.”Belum banyak yang bisa kita ekspor paling cuma manggis, buah naga, mangga, salak. Itupun masih harus  pakai pesawat karena volume yang diekspor kecil. Harganya mahal karena  ongkosnya tinggi,”tuturnya.

Selain harga mahal, kualitas buah atau barang lain produksi Indonesia  dianggap belum cukup baik di pasar internasional.Akibatnya selama ini  ekspor di dominasi komoditi seperti CPO atau karet. Itu yang membuat ekspor tidak banyak bergerak meski dolar menguat. “Mau dolar Rp 13.000  atau 14.500 kalau negara lain tidak mau terima barang dari kita mau  apa?,”terangnya.

Dia berharap dalam paket kebijakan ekonomi jilid III pemerintah mampu  mendorong daya beli masyarakat, terutama dengan menurunkan harga BBM.  Sebab hal itu berkaitan langsung dengan distribusi barang. “Kita berharap biaya logistik di dalam negeri bisa turun sehingga harga  barang kita bisa murah di luar negeri. Daya saing ekspor kita  meningkat,” jelasnya. (owi/dee/wir/dim/gen)

[/two_third]

[one_third_last][ads1][/one_third_last]


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 982
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top