Pariwara
Xpresi

Banggalah Pakai Bahasa Daerahmu …

Xpressi

[dropcap]Bahasa[/dropcap] daerah merupakan salah satu aspek kebudayaan. Karena itu bahasa daerah juga adalah budaya daerah yang turut memperkaya khazanah budaya nasional. Namun sayangnya, remaja masa kini cenderung enggan menggunakan bahasa daerah dalam aktivitasnya. Mereka lebih bangga mengaplikasikan bahasa gaul (alay) biar dituduh keren gitu.

Dalam lingkungan pergaulan anak muda saat ini, terkadang seseorang yang berbahasa Indonesia namun kental aksen bahasa daerahnya justru jadi bahan tertawaan. Bahkan dicibir, “kentaranya”mi logatnya.
Dituding kampunganlah. Tak heran, saat ini bahasa daerah cenderung memudar dikalangan remaja. Ada ketakutan diklaim kampungan, tidak keren dan beragam tuduhan lain sehingga cenderung menghindari bahasa daerah.

Argumen bahwa tidak dapat menyalurkan bahasa daerah karena lingkungan pergaulan sudah heterogen mungkin bisa diterima namun ketika kembali dalam lingkungan keluarga maka bahasa daerah dapat diaplikasikan sebagai alat komunikasi sehari-hari . Sejatinya, remaja yang kerap menggunakan bahasa daerah, minimal dalam lingkungan keluarga, patut diapresiasi karena tanpa sadar telah ikut melestarikan dan mengenalkan bahasa daerah.

Tahu tidak sobat, pakai bahasa daerah dalam komunitas tertentu mencirikan identitas dan upaya melestarikan kekayaan budaya kalian.

[two_third]
Toh kalian tidak merugi kalau menggunakan bahasa daerah. So, banggalah pakai bahasa daerah. Setidaknya, banggalah dengan aksen daerahmu dalam komunikasi bahasan Indonesia.

Anik Meyliani, salah satu siswi SMAN 5 Kendari mengatakan banyak remaja yang malas dan malu jika mempelajari bahasa daerah, karena sekarang sudah era modern. “Benar sekali, banyak remaja yang malas belajar bahasa daerah. Tentu ini yang harus dibenahi agar kaum remaja mencintai budaya daerah,” ujarnya, Selasa (6/10).

Tak hanya malas, metode belajar bahasa daerah dianggap membosankan, sehingga Taslimah Ahmad, mahasiswa akuntansi STIE 66 Kendari ini beranggapan kondisi itu diperparah dengan minimnya peran orang tua membiasakan anaknya belajar atau berbahasa daerah juga. “But selepas dari itu, harus ada kesadaran diri sendiri jika ingin menguasai bahasa daerah, sebab jika belajar dengan paksaan pasti tidak akan maksimal hasilnya,” jelasnya.

Senada dengan Taslimah, Indah Permatasari menegaskan minimnya minat remaja terhadap bahasa daerah karena orang tua tidak mengenalkan dan membiasakan si anak. Sejak kecil hanya dikenalkan bahasa Indonesia. “Di rumah sudah biasa bahasa Indonesia, jadi kebiasaan ini sulit diubah,” tambah mahasiswi Fakultas Kedokteran UHO ini.

Komentar Ismoyo Ndosam lain lagi sobat. Menurutnya, wajar jika remaja di kota tidak fasih berbahasa daerah, karena mereka lahir, tumbuh dan berkembang di wilayah perkotaan yang penduduknya tidak homogen. Berlatar belakang suku bangsa berbeda sehingga dianggap tidak efektif berkomunikasi pakai bahasa daerah. “Tapi itu sebenarnya bukan alasan, saya sendiri fasih berbahasa daerah, tapi penggunaannya yang saya kontrol,” jelas mahasiswa Pend. Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah UHO ini.  (Kak Sarah)

[/two_third]

[one_third_last][ads1][/one_third_last]


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 982
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top