Pariwara
Opini

Menakar Peluang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015

[dropcap]A[/dropcap]khir tahun 2015 ASEAN akan tergabung dalam suatu komunitas yang terdiri dari tiga pilar yaitu Masyarakat Politik dan Keamanan ASEAN, Masyarakat Ekonomi ASEAN, dan Masyarakat Sosial Budaya ASEAN. Salah satu yang menjadi poin penekanan dalam tulisan ini yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Gagasan untuk membentuk MEA dapat ditelusuri kembali saat pembentukan wilayah perdagangan Bebas ASEAN (AFTA) di tahun 1992, walaupun jauh sebelumnya telah ada inisiatif dengan terbentuknya Prefential Trade Arrangement PTA tahun 1977 di sektor barang dan ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) pada tahun 1995 yang merupakan awal upaya mengurangi hambatan perdagangan jasa serta ASEAN Investment Agreement (AIA) pada tahun 1998 di bidang Investasi.

MEA 2015 merupakan perwujudan integrasi ekonomi di kawasan ASEAN yang dinamis kompetitif di mana kesenjangan ekonomi antar negara semakin diperkecil. Sebagaimana yang tertuang dalam AEC blueprint yang disusun tahun 2007 perwujudan MEA 2015 sendiri disangga oleh 4 pilar yaitu Pertama, menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan Basis Produksi, Kedua, ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing ekonomi tinggi. Ketiga, ASEAN sebagai kawasan pengembangan ekonomi merata dan berimbang, dan Keempat, ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global. Dari empat pilar tersebut Indonesia diharapkan mengambil peluang dan dapat turut bersaing dalam integrasi ini, namun hal itu tidaklah mudah mengingat beberapa tantangan yang hadir baik dari kondisi regional ASEAN sendiri dan kondisi domestik.

Tantangan Regional

Tantangan yang hadir dari kondisi regional selain dapat dilihat dari kesenjangan antara negara-negara ASEAN sendiri seperti tingkat pertumbuhan ekonomi (2013) antara Indonesia (3,500 US$) dengan Singapore (54,775 US$), Malaysia (10,547 US$) dengan Thailand (5,674 US$) serta negara-negara CLMV (Cambodia, Malaysia, Laos, Myanmar, Vietnam) tantangan juga eksis pada sektor daya saing. Secara umum tingkat daya saing Indonesia dapat diamati dari publikasi yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF) dalam Global Competitiveness Report 2014 di mana posisi Indonesia berada diurutan ke 34 dari 144 negara, berada di bawah Singapore (2), Malaysia (20), Thailand (31) di kawasan ASEAN. Daya saing ini dapat ditinjau dari kualitas institusi, infrastruktur, ekonomi makro, kualitas sumber daya manusia, kesiapan teknologi, efisiensi barang dan jasa dan lain-lain.

Dari laju peningkatan impor yang apabila kondisi daya saing Indonesia tidak segera diperbaiki maka nilai defisit perdagangan dengan negara angota ASEAN akan semakin meningkat. Kita masih ingat pemberlakuan kesepakatan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN – China (CAFTA) pada tahun 2010. Sesuai dengan perjanjian sebanyak 1516 pos tarif sektor industri manufaktur menjadi 0 persen yang sebelumnya 5 persen. Kesepakatan ini merupakan hal yang paling berat bagi Indonesia dan sangat dilematis mengingat kondisi dalam negeri Indonesia belum siap tetapi harus mengikuti perdagangan bebas supaya tidak tertinggal dengan negara ASEAN lainnya. Implementasi CAFTA telah berdampak pada perdagangan produk pertanian nasional karena kelembagaan perdagangan produk pertanian dalam negeri belum tertata secara baik. Masih banyak hambatan bagi komoditas pertanian lokal yang mau masuk ke pasar modern maupun tradisional. Sejak CAFTA ditandatangani, industri dalam negeri Indonesia rentan terhadap pemberlakuan CAFTA karena Indonesia tidak melakukan persiapan untuk bisa bersaing, masih banyak Industri nasional yang belum kompetitif. Disamping kualitas produknya belum memadai, harganya juga lebih mahal atau produk yang ada masih bersifat hilir.

Walaupun dari sisi daya saing sektor integrasi prioritas Indonesia memiliki keunggulan di sektor komoditi seperti produk berbasis kayu, pertanian, minyak sawit, perikanan, produk karet dan elektronik, Indonesia jangan mudah puas dengan hanya menjual bahan mentah seperti produk berbasis kayu dan CPO. Produk ini akan menjadi sangat kompetitif jika melalui proses nilai tambah.

Tantangan yang kedua terkait perdagangan intra ASEAN, di mana data ASEAN Trade Data Base merilis dari tahun 2005-2008 bahwa perdagangan antar negara ASEAN tidak menunjukkan performa yang signifikan, ini terlihat Data sejak 2005-2012 perdagangan intra ASEAN relatif tidak berubah sekitar 25 persen yang berbanding terbalik dengan aktivitas perdagangan barang di luar negara ASEAN sekitar 75 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan transaksi perdagangan di ASEAN masih lemah.

Kondisi domestik

Walaupun Indonesia mencatat trend positif pertumbuhan ekonomi selama beberapa tahun terakhir (per 2012 sebesar 6,1 persen atau 3,588 US$). Namun, saat ini Indonesia masih berkutat dengan melemahnya mata uang Indonesia terhadap dollar Amerika yang menembus level 14.763.00 (BI 25/09) yang kemudian berimplikasi pada harga barang-barang impor. Sebagian besar perdagangan luar negeri melalui perantaraan dollar AS, sehingga tingginya nilai dolar AS berimplikasi pada mahalnya harga barang impor. Walapun terdepresiasinya nilai rupiah menjadi peluang terhadap harga produk eskpor menjadi lebih kompetitif sehingga dapat meningkatkan pendapatan dari sisi ekspor. Namun, teori tersebut belum berlaku bagi kondisi ekspor Indonesia mengingat permintaan harga barang komoditas yang juga lesu.

Selain itu infrastruktur menjadi tantang utama yang lain. Disparitas pembangunan infrastruktur jelas akan mempengaruhi nilai harga jual suatu produk. Tidak dapat dipungkiri harga suatu barang di wilayah timur Indonesia lebih mahal ketimbang di wilayah barat Indonesia. Ini disebabkan masih terbatasnya infrastruktur pendukung seperti transportasi, listrik, pelabuhan, Akses infrastruktur misalnya seperti international cargo air loaded di mana Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Mengambil Peluang

Di samping tantangan yang mesti dihadapi, kita harus optimis dengan manfaat dan peluang yang bisa dicapai dengan berbagai potensi yang negara kita miliki untuk MEA 2015, mengingat integrasi ini didasarkan pada keyakinan akan meningkatan pertumbuhan ekonomi kawasan ASEAN pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, maka integrasi ekonomi ini juga diharapkan akan banyak membuka lapangan pekerjaan, menurunkan tingkat pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat ASEAN.

Pemerintah harus bisa mengambil peluang dari MEA 2015 mengingat jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 224 Juta jiwa merupakan yang terbesar di kawasan ASEAN dan ini adalah peluang yang sangat besar untuk menjadi negara ekonomi yang produktif dan dinamis yang dapat memimpin pasar ASEAN di masa yang akan datang.

[two_third]

Selain itu memajukan industri dalam negeri patut menjadi prioritas dan harus diperjuangkan agar industri dalam negeri punya daya saing yang kuat. Pemerintah mesti mengamankan pasar domestik untuk meningkatkan daya saing produk nasional, memperbaiki infrastruktur fisik, meningkatkan iklim usaha yang kondusif, pengembangan industri prioritas. Hal-hal yang lain seperti memperkuat pengendalian inflasi, dan kembali memperkuat stabilitas nila tukar rupiah.

Upaya mempersiapkan datangnya MEA 2015 merupakan upaya yang mesti disadari seluruh pihak. Para pelaku usaha perlu proaktif meningkatkan efisiensi usaha dan kualitas produk, tidak hanya itu tenaga kerja perlu meningkatkan keterampilan beserta penguasaan bahasa asing terutama bahasa Inggris, sehingga secara simultan meningkatkan kontribusi positif terhadap MEA.

Mengingat MEA 2015 menawarkan banyak peluang bagi produk-produk maupun sumber daya manusia Indonesia yang memiliki daya saing tinggi. Kesempatan produk Indonesia untuk memasuki pasar ASEAN yang luas sangat terbuka bebas. Peluang yang besar juga terbuka bagi sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Dalam mengatasi kondisi domestik pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi untuk semakin meningkatkan daya saing serta menjaga stabilitas perekonomian. Namun, dukungan dari seluruh elemen masyarakat Indonesia mutlak diperlukan demi menjadikan Indonesia negara yang berdaya saing tinggi,berkualitas, dan mampu menghadapi MEA 2015.

* Penulis adalah Dosen Ilmu Hubungan Internasional, FISIP,Universitas Halu Oleo

[/two_third]

[one_third_last][ads1][/one_third_last]


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 982
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top