Pariwara
HEADLINE NEWS

15 Negara Bahas Kemiskinan di Wakatobi

KENDARINEWS.COM, WANGI-WANGI- Sebanyak 15 negara dengan 217 kepala daerah yang tergabung dalam United Cities and Local Goverment (UCLG) Asia Pacific (Aspac) berkumpul di Wakatobi, 5-7 Sepember 2015. Negara-negara yang hadir dalam kegiatan tersebut adalah mereka yang tergabung dalam Unesco (PBB), di antaranya Korea Selatan, Australia, Rusia, India, Singapore, Kamboja, Nepal, Taipe, dan beberapa negara Amerika Latin.

7- ilustrasi hugua wakatobi ganti

Dengan mengusung tema “Local Goverment Voices Towards Habitat III On A New Urban Agenda” atau pandangan pemerintah daerah terkait pembentukan kota baru mengupas berbagai persoalan. 215 kepala daerah yang menjadi perwakilan 15 negara di dunia itu membahas tentang kemiskinan, sanitasi, polusi, dampak urban (perkotaan) dan masalah perumahan.

Agenda internasional itu sedianya dibuka oleh Presiden RI, Joko Widodo. Namun, kehadiran Jokowi tak kunjung datang dan membuat masyarakat Wakatobi kecewa. Tak hanya Presiden RI, Gubernur Sultra Nur Alam pun tidak muncul dalam kegiatan tersebut. Bupati Wakatobi, Hugua sempat menyindir ketidakhadiran Nur Alam dalam agenda besar itu. “Saya memaklumi ketidakhadiran Presiden Jokowi, tapi saya sangat menyayangkan ketidakhadiran Gubernur Sultra, pak Nur Alam,” kesal Hugua.

Hugua menilai, UCLG-Aspac yang melibatkan 15 negara seharusnya dimanfaatkan oleh gubernur dalam mempromosikan Sultra di level internasional. Selain tamu dari negara lain, kepala daerah di Indonesia juga banyak yang hadir di Wakatobi. “Saya pun tidak tahu. Saya berharap pak gubernur ada di sini. Ini kan kesempatan juga memperkenalkan Sultra. Jangan hanya Wakatobi saja yang dikenal di dunia,” ujar Hugua usai melakukan pertemuan UCLG-ASPAC.

Dalam mengatasi persoalan tersebut, Hugua mengaku selain menjadi tuan rumah dengan posisi Bupati Wakatobi, ia pun harus mewakili Gubernur Sultra dalam forum tersebut. “Pada akhirnya saya juga bertindak sebagai Gubernur Sultra (mewakili gubernur, red), bukan cuma bupati saja. Saya juga tidak tahu soal konfirmasinya, tapi saya kira seharusnya beliau ada,” kesal Hugua. Ia berharap, Pemprov dan pemerintah pusat dapat memberikan suppor dalam pelaksanaan event berskala internasional di Wakatobi untuk memacu sektor pariwisata Indonesia.

Sindiran Bupati Wakatobi tersebut dibantah oleh Karo Humas Pemprov Sultra, Kusnadi. Ia menilai, kepedulian Gubernur Sultra terhadap kehadiran tamu dari 15 negara di Wakatobi tetap ada. Namun, pada waktu yang bersamaan, ada agenda gubernur terkait tugas-tugas pemerintahan yang juga urgen dan tak bisa ditinggalkan.

“Gubernur mendisposisi surat tersebut ke Wagub. Namun Wagub juga punya agenda penting di saat bersamaan. Makanya Asisten I, Syarifuddin Safaa yang direkomendasi mewakili gubernur hadir di Wakatobi. Apalagi pak Syarifuddin Safaa saat ini menjadi pelaksana harian Sekda Sultra. Jadi tidak benar jika dianggap gubernur tidak hadir, meskipun tidak mesti harus raga pak Nur Alam yang harus ada di sana,” jelas Kusnadi, tadi malam.

Terkait dengan tema “Local Goverment Voices Towards Habitat III On A New Urban Agenda”, berbagai persoalan pengembangan daerah dibahas di Wakatobi. Bupati Wakatobi, Hugua mengatakan, berbagai persoalan tentang perumahan, impilkasi urban, sanitasi, kemiskinan dan polusi menjadi topik pembahasan. Dalam pertemuan tersebut dilahirkan sebuah “Deklarasi Habitan III” sebagai referensi bagi bupati/wali kota serta gubernur se Asia Pasifik dan akan diterapkan di negara masing-masing. “Kesepakatan itu akan dibahas dan dikaji lebih mendalam dalam pertemuan selanjutnya yang akan dilaksanakan di Quito, Ekuador, Amerika Latin, Okteober 2016. Temanya, House and Sustainable Urban Development,” ujar Hugua.

Dalam pertemuan tersebut, sebanyak 217 bupati/wali kota dari 15 negara di dunia yang hadir. Mereka menggelar acara di Patuno Resort, Wakatobi. Pemprov DKI Jakarta diwakili oleh Wagub DKI Jakarta, Djarot syaiful Hidayat. Hadir pula Gubernur Jeju dan Wali Kota Hamamatsu dari Korea Selatan. Dari dalam negeri, ada juga dari Surakarta, Tangerang, dan masih banyaklagi. Selain kepala daerah, seluruh undangan mencapai seribuan orang.

Konferensi Asia Pasific tersebut dibuka oleh Presiden United Cities an Local Goverments (UCLG), Won Hee-Ryong, Sabtu (5/9) di Patuno Resort Wakatobi. Usai pertemuan regional section terbesar UCLG itu, enam peserta langsung dianugerahi gelar bangsawan ‘La Ode’ oleh Sultan Buton ke-40, H. La Ode Muh. Izat Manafa, Kaimudin Khalifatul Hamis. Pemberian kehormatan tersebut juga disaksikan oleh puluhan ribu masyarakat Wakatobi di Lapangan Merdeka, Wangiwangi, Wakatobi. Sebelum memulai prosesi penobatan gelar, suguhan pawai budaya akbar dari Wangiwangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko menyemarakkan agenda tersebut. Tak hanya itu, penampian puluhan penari Kolosa menjadi jamuan hangat bagi seluruh tamu dan masyarakat yang ada.

[two_third]

Gubernur Jeju, Won Hee-Ryong takjub. Tak hanya keindahan alam dan karangnya yang menawan, namun budaya masyarakat Wakatobi dianggap cukup luar biasa. Gelar kehormatan adat diberikan kepada pimpinan negara, gubernur, wali kota dan bupati sebagai penghargaan yang memiliki kepedulian terhadap pembinaan, pengembangan, pemeliharaan, pelestarian, promosi budaya dan lingkungan hidup diwilayah eks Kesultanan Buton. Gelar tersebut diberikan kepada, Gubernur Jeju (Korea Selatan) sekaligus Presiden UCLG-ASPAC, Won Hee-Ryong, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Syaiful Hidayat, Wakil wali kota Kazan (Rusia), Ilsur Metsin, Perwakilan India, Jatin V Mode, Peter Woods dari Australia dan Wakil Menteri pekerjaan Umum, Hermanto Dardak.

Menurut juru tulis Kesultanan Buton, La Ode Mustafa, anugerah kehormatan adat tidak diberikan kepada sembarangan orang. Pasalnya harus dilihat dari karakter dan perilaku yang berefek kepada seluruh masyarakat. “Anugerah kehormatan adat diberikan kepada keenam peserta ini karena mereka memiliki karakter dan perilaku yang terpuji dan patut dicontoh. Sehingga hal ini akan menjadi teladan di masyarakat,” terang La Ode Mustafa.

Prosesi adat pemberian bangsawan yang langsung disematkan oleh Sultan Buton kepada keenam peserta tersebut dimulai dengan pemasangan sarung tenun Buton. Lalu pemasangan ikat pinggang atau yang biasa disebut Supele. Setelah itu mereka yang mendapat gelar dipasangkan jubah berwana hitam. Lalu proses terakhir dilanjutkan dengan penyematan keris dan topi bangswan (Kampurui). Presiden UCLG, Won Hee-Ryong mengucapkan rasa terima kasih dan bangga atas penyambutan dirinya dan seluruh peserta Konferensi ASPAC. Dirinya mengaku takjub akan keramahan masyarakat Wakatobi.

“Terima kasih atas penyambutannya. Kalian adalah orang-orang yang sangat hangat dan ramah. Kami berkumpul di sini, dari berbagai negara atas nama UCLG untuk berbagi mimpi. Saya cinta Wakatobi, saya cinta kalian semua. Terima kasih Wakatobi dan Indonesia,” ujar calon Presiden Korea Selatan ini dalam sambutannya. (asti)

[/two_third]

[one_third_last][ads1][/one_third_last]


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 982
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top