Pariwara
Opini

Sarjana : Pencari Kerja atau Pencipta Kerja?

sarjana+bingung

Oleh : Duliaman*

[dropcap]S[/dropcap]arjana merupakan sebuah predikat prestisius yang diperoleh bagi orang-orang yang meluluskan pendidikan di bangku kuliah. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang yang bersangkutan maupun keluarga, begitu kira-kira yang dirasakan oleh sarjana muda. Pada tataran predikat sarjana, seseorang akan diperhadapkan pada kondisi realitas tentang kehidupanya di masa yang akan datang yang sangat jauh berbeda dengan dunia mahasiswa semasa di kampus. Pada kondisi tersebut, seorang sarjana muda akan banyak terfokus seluruh potensi yang dimilikinya memikirkan serta akan bertindak tentang bagaimana agar bisa memperoleh kehidupan layak dari pekerjaan dikemudian hari. Pertanyaan yang muncul kemudian pekerjaan seperti apa yang layak bagi sarjana yang notabene merupakan kaum intelektual yang lahir dari kampus?

Dunia Pendidikan Tinggi setiap tahun terus mencetak para sarjana muda yang diharapkan mampu mengisi pembangunan di negara ini minimal dia (sarjana) mampu menghidupi dirinya sendiri. Persoalan yang sampai hari ini belum tuntas jawabannya yaitu setiap tahun angka pencari kerja yang lahir dari kampus terus mengalami peningkatan. Data terbaru mengenai ini seperti yang dirilis BPS bahwa pengangguran terdidik pada periode Februari 2014 sampai Februari 2015 sebesar 7,45 juta orang. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa hal itu bisa terjadi, apakah dunia pendidikan yang sudah keliru mendidik para generasi penerus atau seperti apa?

Kalau melihat kondisi pendidikan yang sedang terjadi saat ini cenderung mahasiswa didesain untuk belajar giat agar mampu memperoleh nilai yang ‘baik’ pada saat ujian. Betapa tidak sistem yang dipakai saat ini dikemas sedemikian rupa sehingga hanya memberikan ruang penilaian akademik pada kecerdasan intelektual yang dijejalkan dalam angka-angka yang tertera pada IPK(Indeks Prestasi Kumulatif). Hanya yang menjadi persoalan adalah apakah benar nilai baik yang tertera pada IPK mampu menjadi andalan bagi sarjana muda menjawab kondisi realitas yang akan dihadapi setelah keluar(tamat kuliah) dari kampus, selanjutnya bagaimana dengan orang yang kecerdasan intelektualnya pas-pasan apa ia tidak dapat berbuat apa-apa? Beberapa persoalan yang sering dihadapi oleh para sarjana muda termasuk yang penulis alami adalah terkait dengan pertanyaan-pertanyaan diatas. Jawabannya sangat menyesakkan dada. Ternyata nilai ‘baik’ yang tertera pada IPK belum mampu menjawab harapan, minimal bisa memperoleh pekerjaan layak dan tidak sedikit orang yang semasa dikampus IQ-nya pas-pasan ternyata mereka yang mampu sukses setelah kuliah.

Dunia realitas dan dunia kampus seolah seperti dua alam berbeda yang keduanya tidak bisa disatukan. Ilmu pengetahuan yang diperoleh selama dikampus belum mampu menjadi solusi apa yang menjadi kenyataan didepan mata. Harus diakui bahwa didunia pendidikan formal baik dari SD, SMP, SMA, bahkan di Perguruan Tinggi materi-materi yang diberikan termasuk penilaianya hanya terkait dengan kecerdasan intelektual yang jelas-jelas tidak cukup mengantarkan para generasi bangsa menjadi generasi hebat khususnya dalam bidang ekonomi. Maka tidak mengherankan jumlah ‘pengangguran terdidik’ yang lahir dari kampus jumlahnya terus bertambah setiap tahunnya.

Pada buku-buku populer seperti karya Ary Ginanjar dalam bukunya ESQ(Emotional Spiritual Quoetient) menyatakan bahwa kecerdasan intelektual (IQ), hanya mampu mengantarkan kesuksesan seseorang sekitar 20 persen saja, sedangkan 80 persennya ada pada kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ), yang kedua kecerdasan tersebut menurut Herry Putra hampir tidak diberikan ruang pada proses menimba ilmu pengetahuan di bangku pendidikan. Namun demikian, bukan berarti kita (sarjana) tidak bisa berbuat apa-apa setelah selesai kuliah. Masih banyak hal bisa dilakukan, hal ini sudah dipertegas dalam Kitab Suci Al-Qur’an bahwa nasib suatu kaum tidak akan berubah melainkan kaum itu sendiri yang merubahnya. Artinya perubahan itu mesti diupayakan atau dijemput bukan ditunggu.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah merubah cara berpikir yang terlanjur mengakar lama dalam pikiran kita selama ini. Meminjam istilah Iwan Fals ‘Bongkar Kebiasaan Lama’, artinya mesti harus dilihat kembali apa sebenarnya yang diharapkan/dicita-citakan pada saat menempuh pendidikan. Meskipun tidak bisa digeneralkan namun secara kolektif kebanyakan orang yang lahir dari kampus (pernah kuliah) setelah selesai hanya mau menjadi pegawai. Utamanya Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini terlihat pada tiap penerimaan pegawai yang jumlah pelamarnya luar biasa banyaknya. Bukan berarti penulis alergi dengan profesi PNS tetapi peluang diterima sangat kecil dibandingkan dengan jumlah pelamar kerja yang sangat besar. Hal ini bisa dilihat pada saat penerimaan pegawai.

Membuka peluang usaha adalah salah satu pilihan yang bisa dilakukan oleh sarjana dengan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki. Peluang yang ada disekitar kita sangat banyak. Persoalannya adalah mau apa jika tidak memanfaatkan peluang tersebut. Contoh kecil, merintis usaha jagung bakar seperti terlihat di kompleks perumahan dosen UHO, atau memanfaatkan peluang lain, yang penting hal tersebut bisa menghidupi kita. Kalau membaca kisah-kisah orang sukses ternyata banyak dari mereka merintis dari usaha kecil sampai pada akhirnya bisa mapan luar biasa. Jarang diantara mereka yang terlahir dari keluarga kaya. Yang jelas kalau mau sukses harus berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya.

Melawan Gengsi

Penyakit yang masih sulit disembuhkan yang dialami oleh seorang sarjana adalah penyakit ‘gengsi’. Oleh karena ‘gengsi’ itulah sehingga peluang-peluang didepan mata lewat begitu saja tanpa dimanfaatkan dengan baik. Maklum sarjana, kerjanya harus yang relevan seperti kerja di kantoran, begitu kurang lebih anggapan kebanyakan sarjana. Penyakit ‘gengsi’ ini harus disembuhkan secepatnya karena kalau tidak maka banyak orang terdidik yang tidak mampu menyelamatkan dirinya dari kehidupan yang penuh dengan persaingan dan pada akhirnya akan menjadi beban negara juga.

Kita (sarjana) tidak berada lagi di dunia kampus, yang ada didepan mata adalah kehidupan realitas, dan yang dibutuhkan adalah bukan lagi IPK yang tertera pada transkrip nilai akan tetapi bagaimana agar mampu bertahan hidup ditengah kehidupan yang sudah serba sulit. Gengsi gede-gedean harus cepat dirubah. Sederhanakanlah cara berpikir. Jangan muluk-muluk lagi. Gelar akademik, dan semisalnya jangan dijadikan beban sehingga tidak mau melakukan usaha apapun. Justru harus dijadikan sebagai kekuatan yang mampu mengantarkan kita digerbang kesuksesan. Abaikan saja anggapan kebanyakan orang, yang jelas pintu rezeki seorang sarjana bukan hanya di dunia kantoran. Membuka usaha adalah alternatif yang bisa ditempuh.

Entrepreneur Caracter Building

Karakter wirausaha sudah menjadi keharusan terbangun pada seorang sarjana muda. Mumpung usia masih muda, semangatnya masih menggebu-gebu maka ini merupakan modal yang bisa dimanfaatkan untuk membuka suatu usaha. Pokoknya segala sesuatu yang bisa menghasilkan(uang halal) segera rebut dan eksekusi secepatnya. Dengan membuka suatu usaha maka kita punya kesempatan memperoleh penghasilan yang lebih besar. Nabi besar Muhammad adalah sosok teladan umat manusia sampai akhir zaman. Selain sebagai pendakwah, beliau juga berprofesi sebagai pedagang. Bahkan beliau berpesan kepada umatnya bahwa sembilan dari sepuluh sumber kehidupan adalah berniaga.

Oleh karena itu, semoga penulis dan seluruh sarjana muda yang ada di Indonesia mampu mengikuti pesan Nabi yang sangat agung tersebut. Yang harus diakui, mengutip dari tulisan Ippho Santosa bahwa dalam kehidupan realitas bukan Indeks Prestasi Kumulatif yang menjadi ukuran kesuksesan akan tetapi Indeks Pendapatan Kumulatif.

*Penulis adalah Alumni Universitas Halu Oleo, Kendari


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 982
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top