Pariwara
Opini

Menggugat Budaya Politik Sultra

Oleh: Falihin Barakati

budaya-politik-sosialisasi-politik-partisipasi-politik-di-indonesia[dropcap]S[/dropcap]alah satu buah dari “Reformasi 1998” adalah terhapusnya sistem pemerintahan yang sentralistik menjadi sistem pemerintahan yang desentralistik, dimana daerah lebih memiiki kewenangan penuh menentukan pemerintahannya. Bagian dari proses demokratisasi ini pun menjadikan masyarakat di daerah sebagai obyek sekaligus subyek politik yang mau tidak mau terlibat langsung dalam setiap kontestasi politik di daerah salah satunya pemilihan kepala daerah (Pilkada). Sebagai salah satu prosedural demokrasi, Pilkada tampil menjadi momentum seksi di daerah dalam perspektif perebutan kepentingan dan kekuasaan. Apalagi kini Pilkada telah mengalami perubahan prosedural yang perlu diacungkan jempol. Tetapi satu hal yang menjadi harapan kita bersama bahwa perubahan prosedural tersebut juga diikuti dengan perubahan kultural sebagai upaya menjalankan demokrasi politik yang substansial.

Meningkatnya peran politik masyarakat di daerah khususnya dalam hal menentukan pemimpin, melahirkan suatu budaya politik yang terus bertahan dan hadir di setiap momentum Pilkada menghampiri. Apalagi kalau budaya politik yang terus dipertahankan ini dapat mencederai hakikat partisipasi masyarakat dalam berpolitik dan berdemokrasi. Perlu suatu sikap keberanian masyarakat untuk menggugat budaya politik yang hanya mengotori kehidupan politik dan demokratisasi, Olehnya itu, melalui tulisan ini penulis mencoba mengajak kepada kita semua, khususnya masyarakat yang hidup dan tumbuh dalam nuansa politik di jazirah tenggara pulau sulawesi ini untuk mengamati berbagai budaya politik di sekitar kita yang bahkan sadar atau tidak sadar kita pun menjadi pelaku-pelaku dari budaya politik itu sendiri. Yang paling anehnya lahir anggapan bahwa budaya-budaya politik yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan demokrasi di Sultra ini menjadi penentu kemenangan dalam setiap kontestasi politik seperti Pilkada.

Mengamati Budaya Politik di Sultra

Perhelatan Pilkada Serentak akan meramaikan situasi politik daerah-daerah di Sultra. Pada 9 Desember 2015 tepatnya dan disusul Februari 2017, kompetisi politik begitu terasa menjelang pelaksanaannya. Paling tidak ada beberapa budaya politik di Sultra yang bisa kita lihat dari pengalaman-pengalaman Pilkada sebelumnya dan yang sekarang mulai tampak di mata.

Pertama, politik uang (money politic). Budaya politik yang satu ini bukan saja menjadi kebiasaan politik di Sultra tetapi bahkan mayoritas di daerah Indonesia. Anehnya politik uang dikemas dalam rekayasa bahasa menjadi “serangan fajar”. Uang berubah menjadi senjata ampuh dalam serangan merebut suara.

Kedua, politik virtual atau juga biasa disebut politik pencitraan. Budaya politik yang hakikatnya menampakkan keindahan dalam pandangan mata namun menyembunyikan kelemahan di bawah meja. Kedermawanan diekspos kemana-mana, keberhasilan disuarakan dengan menggema dan gambar di pasang dimana-mana biar masyarakat simpatik atau paling tidak ditahu sebagai seorang figur pemimpin yang siap mengorbankan diri demi masyarakatnya.

Ketiga, politik rame-rame. Budaya politik yang menitik beratkan seberapa besar jumlah masyarakat yang mampu dikumpulkan dalam suatu momentum baik kampanye maupun kegiatan politik lainnya. Tak jarang konsolidasi masyarakat pun diperkuat dengan senjata yang biasa dikeluarkan pada saat penyerangan di kala serangan fajar tiba yaitu uang. Jalanan macet sini-sana, lapangan tumpah ruah dan anak-anak tak punya hak suara juga ikut serta.

Keempat, politik hitam atau dengan kata lain the black campaign. Ini budaya politik yang paling sering diprakekkan oleh mereka yang suka mencela, mengadu-domba dan termasuk suka memfitnah. Yang paling menyedikan lagi, aib yang seharusnya ditutup rapat di umbar dari mulut ke mulut hingga sampai di telinga, yang terkadang kebenarannya pun masih tanda tanya. Dan yang kelima, politik primodial. Budaya politik yang terakhir ini menjadi isu yang sangat sensitif bahkan cenderung melahirkan anarkis. Budaya politik yang pada intinya memandang seseorang dari perbedaan suku, agama termasuk asal-usul keberadaannya. Sultra sebagai tanah yang didiami oleh multi-etnis seharusnya memandang perbedaan-perbedaan yang ada menjadi kekayaan dan pemersatu rasa, bukan malah dikelolah menjadi isu dalam kontestasi politik tanpa tenggang rasa.

Bentuk Gugatan Budaya Politik di Sultra

Mengingat Pilkada di Sultra yang akan dilaksanakan serentak beberapa daerah, maka penting kiranya kita menggugat budaya-budaya politik yang penulis terangkan di atas. Menggugat budaya politik yang bisa menghancurkan kehidupan demokrasi di Sultra perlu suatu langkah atau tindakan sehingga tidak berhenti pada teriakan-teriakan menggugat belaka. Paling tidak ada beberapa bentuk gugatan yang bisa dilakukan masyarakat sultra sebagai suatu upaya meminimalisir praktik budaya-budaya politik tersebut.

Pertama, tidak ikut serta berpartisipasi atau menjadi pelaku-pelaku dari lima budaya politik tersebut. Berusaha menghindarkan diri atas nama kehidupan demokrasi dan politik yang bersih. Kedua, tidak terpengaruh akan trik dan intrik politik yang melibatkan lima budaya politik tersebut. Sebagai pemilik kedaulatan, masyarakat memiliki hak penuh untuk menentukan pilihan atas dasar pertimbangan intelektrual maupun moral tanpa harus terpengaruh dengan budaya politik yang bisa menjerumuskan kita dalam lubang hitam kekuasaan. Dan yang terakhir, tidak kalah pentingnya adalah pelaksanaan pendidikan politik terhadap masyarakat sultra yang dilakukan oleh kalangan intelektual-independen bukan oleh parpol atau pihak yang memiliki kepentingan langsung terhadap pelaksanaan Pilkada. ***

*Penulis adalah Wakil Ketua PKC PMII Sultra


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 982
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top