Pariwara
Opini

Media Jangan Hanya Mengejar Rating

dewan pers

Oleh : Fitriani Rasyid*

[dropcap]P[/dropcap]idato Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo pada sidang tahunan MPR, menyentil media untuk tidak hanya sekedar mengejar rating dan mencari sensasi. Pernyataan tersebut menarik dan mendapat apresiasi oleh banyak pihak, bahkan menjadi topik perbincangan dibeberapa media konvensional maupun media sosial. Memang sejatinya media massa baik itu televisi, radio, majalah ataupun koran memiliki fungsi positif pada penyebaran informasi baik dibidang pendidikan, pemerintahan, hiburan, termasuk melakukan kontrol ataupun pengawasan. Akan tetapi harus diakui pula bahwa media juga rawan terseret dan melenceng dari fungsinya atau mengalami disfungsi ketika merasa menjadi super power dan bebas dari kontrol. Hal ini tentu saja bisa menjadi preseden buruk karena akan membawa pada kondisi media yang tidak netral alias tidak berimbang dalam pemberitaan, serta sarat sensasi dalam menghibur.

Dalam hal pemberitaan, keberadaan dan netralitas media massa dalam kurun waktu terakhir ini terutama menjelang dan sesudah berlangsungnya Pilpres tahun 2014, patut dipertanyakan. Kepemilikan media oleh petinggi partai secara langsung maupun tidak, dirasakan berdampak pada isi pemberitaan. Sebagai contoh, sebut saja sebuah stasiun TVyang sangat keras dan kritis akan kebijakan pemerintah di zaman SBY, secara tiba-tiba berubah menjadi lebih soft dan cenderung kehilangan daya kritis terhadap kebijakan pemerintah saat ini.

Kenaikan BBM beberapa waktu lalu juga menyuguhkan pertarungan opini bagi media massa tertentu. Sebut saja stasiun TV X yang dikenal memiliki haluan politik lebih “pro” kepada pemerintah akan menonjolkan kebijakan tersebut dari sisi positifnya dan minim info dampak negatifnya. Wacana yang dibangun adalah bahwa dengan kenaikan harga BBM bisa digunakan untuk membangun sarana prasarana jalan, pendidikan, kesehatan dan lainnya. Untuk memperkuat argumentasi dan menarik opini dan simpati masyarakat maka stasiun televise tersebut menghadirkan narasumber yang mengaminkan kebijakan tersebut lengkap dengan penyajian data-data yang masuk akal.

Sebaliknya dipihak lain, stasiun TV Y yang dikenal “berseberangan” justru mengungkap dan mengulas fakta sebaliknya. Kenaikan harga BBM dianggap justru makin memperberat beban masyarakat karena kenaikan itu berdampak pada kenaikan harga sembako dan lainya. Setting narasumber, penderitaan masyarakat akan kenaikan harga BBM menjadi angle pemberitaannya. Suguhan opini yang bertolak belakang tersebut, tentu saja lebih mudah dibaca sebagai pertarungan dua haluan politik yang berbeda ketimbang memberikan pencerahan informasi kebijakan kepada masyarakat.

Tidak dapat dipungkiri pula bahwa pemberitaan media sangat tergantung pada ideologinya. Sebuah media bisa memframing (membingkai) berita sesuai ideologinya, seperti halnya yang dilakukan oleh dua stasiun televisi swasta tersebut. Stasiun TV X misalnya lebih senang menggunakan istilah “lumpur Sidoarjo“ sedangkan pada sisi lainnya stasiun TV Y lebih memilih istilah “lumpur Lapindo“ ketika memberitakan hal yang berkaitan dengan peristiwa lumpur panas di Porong-Sidoarjo. Bingkai berita pada suatu fakta bukanlah tanpa maksud, “lumpur Sidoarjo“ akan mudah dikaitkan dengan fakta bahwa meluapnya lumpur adalah akibat bencana alam yang terjadi di Sidoarjo, menyamakan dengan bencana alam semisal gempa Aceh. Sedangkan istilah ”lumpur Lapindo“ akan lebih mudah diarahkan pada penyebab meluapnya lumpur sebagai akibat kesalahan perusahaan Lapindo Brantas.

Lapindo Brantas adalah perusahaan yang dimiliki Bakrie Group yang juga pemilik salah satu stasiun televisi swasta dan sekaligus duduk sebagai ketua umum salah satu partai politik. Selain itu, media juga bisa membuat agenda setting pada suatu isu dengan harapan agenda media bisa menjadi agenda masyarakat. Sebagai contoh disebuah stasiun TV swasta lainnya yang setiap hari gencar mengiklankan partai pendatang baru. Apakah masyarakat akan mengikut arahan/agenda sebuah media tersebut? Tentu semuanya tergantung pada sikap masyarakat, apakah dapat dipengaruhi atau tidak.

Pidato Presiden bagi stasiun TV yang mengkhususkan pada pemberitaan harusnya dijadikan acuan bahwa media sekarang ini, dengan salah satu fungsinya sebagai alat kontrol haruslah bisa lebih arif dalam memberitakan dan tanpa tendensi apapun. Media diharapkan tetap dalam posisi netral, tidak berat kepada satu pihak dan tidak pula menjadi corong yang membenarkan apa yang “keliru”. Patut dicatat, jika media sampai terjebak dalam posisi tersebut, pertanyaan yang akan muncul adalah apa bedanya dengan keberadaan media sekarang dengan di masa orde baru. Media tertentu hanya gencar memberitakan huru hara parpol yang berseberangan tapi tidak memberitakan beberapa kasus yang menimpa kader yang berafiliasi politik dengannya, dan media menjadi pandai mengkirtisi tanpa mampu memberi solusi.

Pada sisi lain, media massa dalam hal ini televisi dalam menjalankan fungsi menghibur, pun terasa sarat dengan aroma sensasional dan terkesan mengejar rating. Setiap hari kita dihadapkan pada tayangan berbau mistis, kekerasan yang terjadi dalam keluarga maupun di sekolah, infotaiment yang membuka aib seseorang, iklan mengajarkan hedonisme, sinetron dengan latar anak SMU dengan menonjolkan seputar asmara dengan seragam modis rok di atas lutut, kerap dibumbuhi adengan kekerasan namun justru minim adegan proses belajar mengajar. Mengherankan lagi di sebuah stasiun TV, setiap hari diangkat kisah seorang artis karbitan dengan kemampuannya mengobrak abrik bahasa, plus dengan kisah percintaannya dengan beberapa wanita ditambah derai air mata korban PHP sang artis. Aneh tapi nyata inilah realitas acara hiburan, pihak stasiun TV berdalih masyarakat menyukainya sehingga meningkatkan rating.

Lebih miris lagi, ditengah gencarnya para pendidik maupun aktifis anak dalam memperjuangkan stop bullying. Sebuah perilaku nyeleneh yang secara harfiah berarti menggertak atau mengganggu pihak yang lemah baik lisan maupun dengan perilaku fisik. Pada sisi lain, stasiun TV ramai-ramai menayangkan sinetron yang sarat mempertontonkan adegan yang mengandung unsur bullying. Kekurangan fisik yang dimiliki seseorang menjadi bahan candaan. Menjadi pertanyaan besar dalam masyarakat adalah apakah media yang ada saat ini telah mengambil peran dalam mendidik masyarakat? Ataukah justru mengamini pernyataan Pak Presiden bahwa media lebih condong hanya mencari rating, yang tentu saja ujung-ujungnya duit.

Harus diakui pula bahwa media massa memiliki pengaruh dan kekuasaan terhadap masyarakat. Oleh karena itu, media dalam fungsi dan disfungsi membutuhkan sebuah lembaga yang dapat mengendalikan dan mengontrolnya. Amerika Serikat memiliki Parents TV Council yang memantau program-program TV dan menilai apakah program tersebut mengandung muatan seks dan kekerasan, sedangkan Indonesia memiliki KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang berfungsi sebagai regulator penyelenggaraan penyiaran. KPI merupakan wujud peran serta masyarakat yang berfungsi mewadahi aspirasi serta mewakili kepentingan masyarakat akan penyiaran.

Membentuk masyarakat yang melek media menjadi penting, seperti diungkap oleh Kellner bahwa dengan melek media akan memberikan kemampuan kepada seseorang untuk menggunakan media secara cerdas, mampu membedakan dan mengevaluasi isi media, secara kritis menelaah bentuk-bentuk media, meneliti efek dan kegunaan media. Dengan demikian, masyarakat dengan sendirinya bisa memilah acara yang menghibur tapi mendidik, bukan menghibur tapi tidak mendidik, sekaligus mampu melepaskan diri dari jebakan tayangan yang sekedar mengejar rating dan sensasional semata.***

*Penulis adalah alumni FISIP UHO. Bekerja sebagai staf LPMP Prov. Sultra


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 982
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top