Pariwara
Opini

Aedes Aegypty di era ASEAN Economic Community

Aedes Aegypty

Aedes Aegypty

Oleh : Ramadhan Tosepu*
[dropcap]I[/dropcap]ndonesia sebagai salah satu negara yang berada di kawasan ASEAN memiliki peranan sangat strategis. Kesiapan negara ini menghadapi AEC 2015 melibatkan semua unsur masyarakat. Hal ini disebabkan karena Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Secara ekonomi, Indonesia harus mampu bersaing dengan negera kawasan ASEAN, sumber daya manusia juga harus disiapakan untuk menghadapi era ini.

Disisi lain, pergeseran dan perpindahan penduduk antar negara akan semakin meningkat, ini bisa menjadi ancaman bagi suatu negara. Bagi negara yang sudah siap dengan sumber daya manusianya maka itu akan menjadi nilai positif, tetapi yang belum siap maka itu akan menjadi sebuah kelemahan. Era AEC bukan saja kekuatan ekonomi yang harus menjadi perhatian, tetapi masalah kesehatan juga menjadi prioritas, Indonesia memiliki kasus penyakit Aedes Aegypti yang masih tinggi.

Strategi untuk menurunkan penyakit ini juga akan menjadi fokus pemerintah. Konsep utama dari ASEAN Economic Community adalah menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi. Dimana terjadi free low atas barang, jasa, faktor produksi, investasi dan modal serta penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN yang kemudian diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi diantara negara-negara anggotanya melalui sejumlah kerjasama yang saling menguntungkan.

Kehadiran ASEAN Economic Community bisa membantu ketidakberdayaan negara-negara ASEAN dalam persaingan global ekonomi dunia yaitu dengan membentuk pasar tunggal yang berbasis di kawasan Asia Tenggara. Pada era AEC pegeseran penduduk dari satu negara ke negara lain akan sangat terbuka dan bebas. Dari segi kesehatan hal ini akan memberikan dampak yang besar karena masyarakat yang rentan dengan penyakit akan dengan mudah terjangkit penyakit. Terlebih Indonesia saat ini masih menghadapi tingginya berbagai macam penyakit seperti Aedes aegypti. Penanganan penyakit ini harus serius dan melibatkan banyak pihak.

Salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia sampai saat ini ialah penyakit Demam Berdarah Dengue yang semakin lama semakin meningkat jumlah pasien serta penyebarannya semakin luas. Penyakit ini ditemukan hampir di seluruh belahan dunia terutama di negara-negara tropik dan subtropik, baik sebagai penyakit endemik maupun epidemic. Penyakit Aedes aegypti adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Penyakit ini dapat muncul sepanjang tahun dan dapat menyerang seluruh kelompok umur. Penyakit ini berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat.

Pengendalian penyakit Aedes aegypti adalah serangkaian kegiatan pencegahan dan penanggulangan untuk memutus mata rantai penularan penyakit Aedes aegypti dengan cara melakukan pemberantasan nyamuk dan jentik nyamuk Aedes aegypti. Pencegahan Aedes aegypti adalah serangkaian tindakan yang dilakukan sebelum timbul kasus atau terjadinya kasus Aedes aegypti, sedangkan penanggulangan Aedes aegypti adalah segala upaya yang ditujukan setelah terjadinya kasus Aedes aegypti.

Kasus Dengue fever di kawasan ASEAN menyebar secara merata, sebaran tertinggi di negera Indonesia yakni 7.6 million kasus, dan kasus terendah di Negara Brunei Darussalam yakni 12.732 juta kasus. Pada tahun 2013, jumlah penderita Aedes aegypty yang dilaporkan sebanyak 112.511 kasus dengan jumlah kematian 871 orang (Incidence Rate/Angka kesakitan yakni 45,85 per 100.000 penduduk dan CFR/angka kematian sebesar 0,77 persen). Terjadi peningkatan jumlah kasus pada tahun 2013 dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 90.245 kasus dengan IR 37,27. Target Renstra Kementerian Kesehatan untuk angka kesakitan Aedes aegypty tahun 2013 sebesar = 52 per 100.000 penduduk, dengan demikian Indonesia telah mencapai target Renstra 2013.

Aedes aegypty merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sampai saat ini masih menjadi permasalahan yang sulit untuk diatasi. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit Aedes aegypty merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah maupun masyarakat. Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya pemberantasan penyakit Aedes aegypty antara lain membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit Aedes aegypty, mengembangkan teknologi pemberantasan, mengembangkan pedoman pemberantasan, memberikan pelatihan dan bantuan teknis, melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta penggerakan masyarakat.

Program pemberantasan vektor Aedes aegypty ditekankan pada pembersihan jentik nyamuk, hal ini membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat agar pemberantasan nyamuk dapat bersifat lebih panjang dan berkesinambungan. Model penyadaran pada masyarakat dapat lebih efektif jika dilakukan oleh kader kesehatan yang tersebar di seluruh lapisan masyarakat.

Program ini fokus pada proses peningkatan pengetahuan dan memberikan keasadaran kepada masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Pengetahuan tersebut berupa tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, tempat untuk berkembang biaknya yakni pada tempat penampungan air bersih atau air hujan seperti bak mandi, tangki penampungan air, vas bunga (di rumah, sekolah, kantor, atau perkuburan), kaleng atau kantung plastik bekas, di atas lantai gedung terbuka, talang rumah, bambu pagar, kulit buah seperti kulit buah rambutan, tempurung kelapa, ban bekas, dan semua bentuk kontainer yang dapat menampung air bersih.

Faktor yang menyebabkan terjadinya suatu penyakit adalah lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan hereditas. Banyak hal yang mendasari sulitnya pemberantasan Aedes aegypty di Indonesia, diantaranya kurang pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk berprilaku hidup sehat dan memperhatikan keadaan lingkungan sekitar tempat tinggal sehingga banyak tempat perindukan nyamuk. Hal ini dikarenakan kurangnya keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan persoalan Aedes aegypty dan sosialisasi pemerintah terhadap masyarakat tentang cara pemberantasan Aedes aegypty serta pencegahannya yang tepat dan sesuai dengan keadaan lingkungan sekitarnya.

Pemberian pengetahuan pada anak usia dini merupakan salah satu langkah yang tepat bagai anak-anak Indonesia, salah satu program tersebut yaitu Program Jumantik Cilik. Program ini melibatkan murid sekolah dasar yang terpilih untuk dilatih agar mengerti dasar-dasar pencegahan demam berdarah, berbagi ilmu ke lingkungan teman-teman dan keluarga serta melakukan kegiatan-kegiatan pemberantasan sarang nyamuk di sekolah dan di rumah. Melalui aksi Jumantik Cilik ini, anak-anak dilatih untuk tidak lagi menjadi korban demam berdarah tapi mampu untuk menjadi agen perubahan dan inspirasi bagi lingkungannya.

Kegiatan pemberantasan jentik nyamuk dilakukan di tempat berkembang biaknya jentik, baik dengan cara kimia (larvasida), cara biologi (memelihara ikan pemakan jentik atau bakteri), ataupun dengan cara fisik (kegiatan 3M – menguras, menutup, mengubur). Pengendalian Aedes aegypty bukan saja peran dari pemerintah, strategy dalam menurunkan kasus Aedes aegypty di Indonesia harus melibatkan semua elemen pemerintahan negara Indonesia. Pelibatan masyarakat, organisasi profesi kesehatan, akan mempercepat turunya kasus Aedes aegypty. Pada era ASEAN Economi Community ini semua harus bekerja sama menangani penyakit ini. ***

*Penulis adalah Dosen Fak.Kesmas UHO, Kendari


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 982
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top