Pariwara
Opini

Menggagas Model Pendampingan Kurikulum 2013

Kurikulum-2013-logo

Oleh : La Rudi, S.PdI., M.Pd*

Kurikulum 2013 (K13), meskipun secara de jure telah diberhentikan pemberlakuannya pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah melalui SK Mendikbud Nomor 160 Tahun 2014, tetapi secara de facto masih berlaku. Kenyataannya, pemberhentian tersebut hanya berlaku pada sekolah yang baru menerapkan K13 selama satu semester. Adapun sekolah yang telah menerapkan selama tiga semester maka boleh melanjutkan penerapan K13. Artinya, penerapan kurikulum pada sekolah dasar dan menengah masih variatif. Ada sekolah yang kembali menerapkan Kurikulum 2006 (KTSP), ada yang tetap menerapkan K13, dan ada yang menerapkan kombinasi KTSP dan K13. Apakah kebijakan ini salah? Tentu tidak. Karena keputusan pemberhentian K13 tidak berlaku permanen, sehingga ada ruang pengkajian dan evaluasi lebih mendalam sebelum K13 betul-betul ditetapkan berlaku secara permanen.

Pengkajian dan evaluasi K13 menyangkut empat hal, yaitu kesesuaian antara ide kurikulum dengan desain kurikulum; kesesuaian antara desain kurikulum dengan dokumen kurikulum; kesesuaian antara dokumen kurikulum dengan implementasi kurikulum; serta kesesuaian antara ide kurikulum, hasil kurikulum, dan dampak kurikulum.

Hal ini mengandung makna bahwa, K13 cepat atau lambat pasti akan kembali diterapkan (Kemendikbud memproyeksikan K13 akan diberlakukan pada semua satuan pendidikan pada Tahun 2018). Dengan demikian, terhitung saat ini hingga tahun 2017 adalah ruang bagi Satuan Pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK) untuk melakukan penyiapan guna menyongsong pemberlakuan kembali K13. Maka pada konteks inilah pentingnya dilakukan pendampingan.

Mengapa harus ada pendampingan?

Dalam Permendikbud Nomor 105 Tahun 2014 dikatakan bahwa pendampingan pelaksanaan Kurikulum 2013 yang selanjutnya disebut Pendampingan adalah proses pemberian bantuan penguatan pelaksanaan Kurikulum 2013 pada Satuan Pendidikan.

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dipahami bahwa substansi pendampingan adalah dalam rangka penguatan. Siapa yang diberi penguatan ? Adalah guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Karena merekalah yang menjadi pilar-pilar penyangga kesuksesan implementasi K13. Oleh karena itu, ada hal penting yang perlu menjadi penekanan dalam pelaksanaan pendampingan K13.

Pertama, pendampingan berarti bukan sosialisasi. Meskipun K13 adalah produk baru tetapi pada prinsipnya sudah tidak baru. Kenyataannya produk tersebut sudah pernah diberlakukan pada satuan pendidikan, meskipun kemudian diberhentikan sementara. Dengan demikian, sosialisasi atau pengenalan, apakah dilaksanakan di kantor, di hotel, atau di sekolah sekalipun, sudah tidak penting. Mengapa? Karena yang diperlukan oleh sekolah saat ini adalah bagaimana difasilitasi agar proses adopsi K13 pada tingkat satuan pendidikan dapat terlaksana baik. Agar proses adopsi terlaksana baik, maka dalam kegiatan pendampingan, prinsip profesionalitas harus dikedepankan. Artinya, hubungan yang terjadi antara pemberi dan penerima dampingan adalah untuk peningkatan kemampuan profesional dan bukan atas dasar hubungan personal. Indikatornya, pendampingan dilakukan dengan kriteria dan prosedur keahlian.

Kedua, Pendampingan berarti bukan workshop. Antara kegiatan pendampingan dan kegiatan workshop sangat berbeda meskipun sedikit memiliki persamaan. Persamaannya, sama-sama menghasilkan produk. Perbedaannya pada aspek kontinuitas. Artinya, kegiatan workshop tidak berkesinambungan, berbeda kegiatan pendampingan. Dalam pelaksanaan pendampingan, hubungan antara yang mendampingi dengan yang didampingi adalah hubungan profesional. Sifatnya berkelanjutan, setelah pemberi pendampingan secara fisik sudah tidak lagi berada dilapangan, dilanjutkan dengan komunikasi non fisik melalui e-mail, sms, atau alat komunikasi lain yang tersedia.

Ketiga, pendampingan berarti bukan bimbingan teknis (bintek). Mengapa kegiatan pendampingan bukan bintek? Karena dalam pelaksanaan bintek, posisi antara yang membimbing dengan yang dibimbing tidak sama, peran pembimbing lebih dominan atas terbimbing. Karena prinsip bimbingan adalah transfer of knowledge, maka terbimbing bersifat pasif sedangkan pembimbing sangat aktif. Sedangkan dalam pelaksanaan pendampingan, prinsip yang digunakan adalah kolegial. Artinya, hubungan yang terjadi antara pemberi dampingan dan penerima dampingan adalah hubungan kesejawatan. Prinsip kolegial ini akan memperkuat pemahaman dan membangun kepercayaan diri guru, kepala sekolah maupun pengawas dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis Kurikulum 2013.

Menggagas Model Pendampingan

Secara sederhana, model dapat diartikan sebagai pola atau contoh dari sebuah hal yang dihasilkan. Model pendampingan adalah pola atau desain yang digunakan sebagai acuan dalam pemberian bantuan penguatan pelaksanaan Kurikulum 2013 pada Satuan Pendidikan. Dengan begitu maka akan ada kesesuaian antara content (isi) kurikulum, proses atau implementasi kurikulum dengan tujuan kurikulum. Oleh karena itu, penting untuk digarisbawahi bahwa dalam pendampingan K13 tidak boleh mengabaikan isi penting kegiatan dampingan. Pada konteks inilah pentingnya menggagas model pendampingan K13. Lalu, model dampingan bagaimana yang dapat digunakan sekolah? Pertama, model In-On. Pendampingan pada model in-on dikategorisasi menjadi 2 (dua) tahapan, yaitu tahap in dan tahap on.

Tahap in adalah tahapan dimana tim pendamping akan melakukan pembinaan kepada yang menerima dampingan (guru, kepala sekolah dan pengawas) di dalam ruangan terkait dengan lima kontent pokok pendampingan k13. Selanjutnya adalah tahap on. Pada tahap ini, penerima dampingan akan menerapkan langsung K13 di kelas. Tim pendamping tidak lagi ikut terlibat sampai kelas, tetapi hanya memantau serta membuat instrumen penilaian untuk mengukur tingkat penerapan K13 pasca kegiatan dampingan (tahap in). Jika tahap on sudah selesai, maka tim pendamping akan mengevaluasi. Evaluasi ini untuk mengetahui content yang dianggap belum maksimal pada tahap in, berbagai kendala yang ditemukan selama tahap on, serta menentukan proyeksi untuk kegiatan pendampingan selanjutnya. Model ini termuat dalam juknis pendampingan K13 yang dikeluarkan oleh Kemendikbud.

Kedua, pendampingan model Siklus. Paradigma yang digunakan pada model ini adalah PAR (pasticipatory action research). Karena kegiatan pendampingan pada dasarnya adalah pemberian tindakan agar dewan guru, kepala sekolah dan pengawas dapat lebih berdaya dalam penerapan K13. Oleh karena itu, dampingan dilakukan secara bersiklus. Misalnya, pendampingan siklus 1 dilakukan pada awal semester dengan fokus pada substansi bahan ajar untuk setiap mata pelajaran dan /tema pembelajaran serta perencanaan pembelajaran. Siklus 2 dilakukan ketika proses belajar mengajar sudah berjalan dengan fokus pada sistem pembelajaran dan penelusuran minat dan bakat peserta didik, dan siklus 3 dilakukan pada akhir semester dengan fokus pada sistem penilaian hasil belajar berbasis 2013 dan pengisian laporan hasil belajar peserta didik. Dengan demikian, maka kegiatan dampingan dapat berjalan aktif dan efektif serta langsung masuk pada substansi pendampingan.

Ketiga, pendampingan model Integratif-kolaboratif. Model ini, aspek yang menjadi penekanan adalah pendampingan secara menyeluruh dan terintegratif. Artinya, dampingan dilaksanakan secara paket (menyangkut seluruh materi substansi pendampingan), terjadwal, tetapi dilakukan secara kolaboratif. Oleh karena itu, dampingan harus dilakukan bertim dengan latar belakang profesi yang berbeda. Misalnya; kolaborasi antara akademisi, widyaiswara, dan guru senior (sudah mengikuti diklat K13).

Dalam tulisan ini hanya diketengahkan tiga model. Tentu masih banyak model pendampingan yang dapat menjadi pilihan, tergantung pada kebutuhan dan pilihan sekolah sebagai penerima jasa dampingan. Tetapi, yang penting dalam kegiatan pendampingan adalah, agar sekolah mengumumkan ke publik. Sekolah dapat menentukan model pendampingan yang dibutuhkan kepada yang akan memberi dampingan, atau tim pendamping dapat menawarkan model yang akan diberikan. Dengan begitu, maka sekolah yang akan menerapkan K13 dapat lebih berdaya. Wallahu a’lam bish-shawab.

*Penulis adalah Kasi Pendidikan Islam Kantor Kemenag Kab.Wakatobi


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 982
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top