Sukses Kumpulkan 67 Medali Emas, Kejayaan Dayung Sultra Sejak 1980-an – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Feature

Sukses Kumpulkan 67 Medali Emas, Kejayaan Dayung Sultra Sejak 1980-an

//Abdul Razak, Atlet Dayung Pertama Indonesia yang Lolos Olimpiade
    
Sulawesi Tenggara cukup disegani di kancah nasional untuk bidang olahraga dayung. Sejak tahun tahun 1980-an, masa kejayaan Cabang Olahraga (Cabor) Dayung Sultra sudah menaklukkan nusantara. Bahkan, tahun 1992, atlet dayung yang lolos olimpiade Barcelona, Spanyol berasal dari Sultra.

Abdul Razak, pendayung Indonesia Pertama yang menembus ajang olimpiade

Erlin Ipo-Akhirman
    
Cabor dayung memang menjadi salah satu cabor andalan setiap event olahraga baik level nasional maupun internasional saat ini. Sudah puluhan putra putri daerah yang mengharumkan nama Sultra dan Indonesia dari Cabor yang akrab dengan perahu ini. Ada nama Julianti yang meraih emas di Searf Malaysia 2013 lalu. Teranyar, Marzuki dan Alidarta yang memboyong medali emas dalam ajang Sea Games di Singapura 2015, Mei lalu.

Tiga nama itu, hanya sebagian kecil yang mengibarkan bendera merah putih diberbagai negara melalui perlombaan dayung. Namun tidak banyak yang tahu jika anak-anak muda berprestasi itu terinsipirasi dari seniornya yang kini menjadi pelatih mereka, Abdul Razak.

Abdul Razak menjadi atlet Indonesia pertama yang menembus olimpiade. Kala itu, Barcelona, Spanyol menjadi tuan rumah pegelaran ajang olahraga terbesar dunia, tepatnya tahun 1992. Meski hanya lolos 22 besar dunia untuk Cabor Dayung, namum ayah 6 orang anak itu tetap bangga karena dia menjadi putra Indonesia pertama yang menginjakan kaki di Olimpiade.

Razak berkisah, perjuangannya menjadi atlet dayung nasional melalui proses yang sangat panjang. Dia harus menaklukan ratusan event lomba dayung untuk mewujudkan mimpinya menjadi wakil Indonesia kala itu. Anak keempat dari pasangan La Ringgi dan Dami itu memulai karirnya pada Cabor Dayung sejak usia 18 tahun. Razak langsung terpilih sebagai atlet dayung Sultra dari hasil penjaringan yang dilakukan oleh TNI Angkatan Laut tahun 1987 silam. “Soalnya sudah menyatu dengan perahu sejak kelas III SD. Saya sering ikut bapak melaut. Kalau ada pertandingan tujuhbelasan (HUT Kemerdekaan, red) sering juara di Wanci. Begitu ada seleksi, langsung ikut dan dipanggil ke Kendari waktu itu sama tentara,” ceritanya.

Saat itu, keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya tak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Menekuni olahraga dayung menjadi pilihan yang tepat baginya. Apalagi dengan lolosnya dia pada keseleksi tingkat kabupaten menjadi kesempatan emas. “Hanya lulus SD, karena tidak ada biaya. Jadi hanya mancing saja dan ikut lomba dayung di kampung. Bapakku sendiri yang latih. Setelah lolos seleksi, saya memutuskan untuk benar-benar serius menjadi atlet kebanggaan,” jelasnya.

Tak tanggung-tanggung, sejak terpilih dia langsung menargetkan menjadi pedayung Indonesia pertama yang terlibat dalam Olimpiade. “Pernah saya ikut berlayar cari ikan sampai di Australia. Karena kesasar, dipulangkan ke Kupang sama Polisi Perairan Sydney. Di sana saya baca koran, pedayung putri dari Sultra yang meraih emas pada kejuaraan Sea Games Korea Selatan tahun 1985. Jadi saya langsung punya mimpi ingin ke Olimpiade, dan menjadi atlet Sultra itulah pintunya,” ungkapnya.

Mimpinya itu semakin dekat dengan kenyataan ketika dia menjadi yang terbaik di Sultra melalui Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ke VII di Kolaka yang memberinya kesempatan menuju Kejurnas Senior di Semarang. Di ajang itu, ia juga sukses naik ke podium tertinggi setelah mengakhiri rekor tak terkalahkan pedayung nasional asal Kalimantan Timur, Subandi. Prestasinya itu mulai memikat seluruh pelatih dayung nasional. Hingga akhirnya tahun 1990, ia didaulat menjadi atlet dayung nasional yang memperjuangkan Merah Putih di Singapura dan selanjutnya di Filipina pada ajang bergengsi Sea Games. “Di Singapura dapat 3 emas dari nomor lomba yang berbeda. Dua tahun berikutnya, di Filipina dapat 4 emas lagi,”  ujarnya. Tak hanya itu, pada perhelatan Asian Games di Cina pada tahun yang sama, bendera Indonesia juga berkibar di sana berkat medali emas yang diraihnya.

Ajang Internasional yang diikutinya adalah Asian Games yang digelar di Hirosima, Jepang. Kala itu Razak hanya mampu mempersembahkan medali perak untuk negaranya. Total medali yang sudah dikumpulkan dari ajang dayung nasional dan internasional sudah 67 medali. “Saya merasa dayung ini bagian dari hidup saya, bahkan masa depan saya cerah karena cabor ini,” syukurnya.

Karena usia, energi Abdul Razak untuk bertahan menjadi atlet dayung sudah berkurang. Nasibnya terbilang baik dibandingkan dengan atlet-atlet lainnya yang kadang tak mendapat perhatian lagi dari pemerintah setelah pensiun sebagai atlet. Abdul Razak langsung diangkat menjadi PNS oleh Pemrov Sultra sepulangnya dari kejuaraan dayung di Jepang. Pemrov saat itu tak ingin kehilangan bakat dan pengalaman seorang Razak, karenanya ia dipercaya menjadi pelatih dayung di Pusat Pendidikan Latihan Pelajar (PPLP) Sultra. (*/b)

Komentar

komentar


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 1001
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top