Hasil-hasil Pertanian Melimpah tapi Terkendala Akses ke Pangsa Pasar – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
UHO Cup Iklan Iklan 10 Iklan 23
Feature

Hasil-hasil Pertanian Melimpah tapi Terkendala Akses ke Pangsa Pasar

//Kondisi Kecamatan Routa, Daerah Terisolir di Kabupaten Konawe

Sulawesi Tenggara cukup kaya dengan komoditi pertaniannya. Seperti Kecamatan Routa Kabupaten Konawe yang memiliki lahan pertanian yang subur, hasil perkebunan yang melimpah. Daerah itu menjadi kawasan penghasil lada (merica) dan kakao. Namun, hasil-hasil pertanian sangat sulit dipasarkan karena akses jalan yang tidak memadai.

Dedi Finafiskar/KP__Suasana perkebunan lada (merica) masyarakat Routa Kabupaten Konawe. Daerah ini menjadi penghasil merica yang cukup besar di Sultra, namun terkendala pangsa pasar.

Dedi Finafiskar/KP__Suasana perkebunan lada (merica) masyarakat Routa Kabupaten Konawe. Daerah ini menjadi penghasil merica yang cukup besar di Sultra, namun terkendala pangsa pasar.

 

Dedi Finafiskar
    
Kecamatan Routa merupakan daerah terjauh yang ada di Kabupaten Konawe. Daerah tersebut hanya dapat diakses melalui jalur darat. Namun, dukungan infrastruktur jalan belum memadai sehingga sangat sulit mencapainya. Jaraknya dari ibu kota kabupaten sekira 200 kilometer dengan waktu tempuh bisa mencapai 12 jam atau lebih.

Tidak ada akses jalan langsung dari Unaaha. Jika ingin ke Routa, harus melalui Kabupaten Konawe Utara atau alternatif lain yakni lewat Kolaka Utara. Jalan masuk ke Routa pun rusak dan terputus-putus. Letak geografis perkampungan, infrastruktur jalan dan jembatan, listrik dan jaringan telekomunikasi belum memadai. Banyak PNS menolak mengabdikan diri di kampung terisolir ini.

Routa ibarat lembah yang disulap menjadi perkampungan. Di sebelah kiri dan kanan perkampuangan diapit oleh pegunungan, bukit Utara berbatasan langsung Sulawesi  Selatan (Sulsel), sudut Barat berbatasan Sulawesi Tengah (Sulteng). Di balik pegunungan bagian Barat itu Kecamatan Latoma (Konawe), sebelah Timurnya berbatasan Konawe Utara (Konut).

Informasinya, Kampung Routa sejak puluhan tahun silam telah dihuni oleh orang pedalaman yang moyoritasnya suku Tolaki yang menyelamatkan diri dari para penjajahan kolonial Belanda. Namun saat ini, kampung tersebut sudah mulai dihuni dari berbagai suku diantaranya Makassar dan Toraja. Ceritanya, kedatangan orang Makassar dan Toraja ke Routa untuk mencari damar karena saat itu Konawe dikenal dengan potensi alamnya.

Camat Routa, Lapanggili mengungkapkan, daerah yang dipimpinnya itu dihuni beberapa suku yakni Tolaki, Bugis, Toraja dan Luwu. Sesuai data pemerintah 2015, penduduknya berjumlah 700 KK. Kehidupan masyarakat yang mulai heterogen tetap hidup dalam kedamaian. “Pendatang itu melakukan penyesuaian terhadap lingkungan sehingga saling menguasai budaya dan bahasa, sehingga warga yang di sini saling mengenal satu sama lain meskipun berbeda suku,” jelasnya. Migrasi yang terjadi membuat pertumbuhan penduduk cukup pesat. Atas Perkembangan sosial dan demografi berhasil membentuk daerah administrasi yang otonom di bawah naungan Pemerintah Daerah Konawe  dengan jumlah satu kelurahan dan delapan desa binaan yakni Kelurahan Routa, Desa Tirawonua, Parudongka, Tanggola, Puwiwiwrano, Walandawe, Lalomeui dan Wiau. “warga yang bermukim di Routa merupakan pekerja keras. Sehingga hasil komoditas dari sektor perkebunan, seperti kakao, lada dan ternak menjadi andalan penghasilan masyarakat setempat,” ceritanya.

Potensi perkebunan di Routa sangat besar, sub sektor pertanian yang paling diandalkan tanaman komoditas lada dan kakao. Tetapi hasil produksi pertanian sulit dipasarkan karena terkendala mobilisasi hasil-hasil pertanian ke pangsa pasar sangat terbatas. Lahan perkebunan lada yang diusahakan masyarakat dan sudah mulai produksi seluas 5 ribu hektar. Belum termasuk 2 ribu hektar yang masih dalam masa pemeliharaan. Setiap kali masa panen, hasi perkebunan lada bisa mencapai Rp 2 miliar. Memiliki tanaman lada 2 ribu pohon saja bisa memetik hasil Rp 120 juta, dengan pendapatan perbulan Rp 10 juta. Namun sayangnya, besarnya hasil produksi pertanian di Kecamatan Routa justru berputar di daerah tetangga seperti Sulteng dan Sulsel.

Kendala para petani bukan saja soal pemasaran, tetapi juga pemeliharaan tanaman tersebut. Pupuk yang paling dibutuhkan, tapi sulit diperoleh. Para petani harus bekerjasama dahulu oleh para tengkulak. Sistemnya, para pemodal ini mendistribusi sesuai permintaan petani. Pada saat panen, harga pupuk barulah dibayar dengan memotong dari hasil produksinya nanti. Ini cukup memberatkan masyarakat karena sekitar 3/4 hasil pertanian itu hanya untuk pupuk. Mekanisme pasar ini sekaligus mengikat para petani untuk tidak menjual ke tempat lain. “Tidak hanya lada, warga juga pernah mengusahakan tanaman Kakao namun hasil tidak terlalu memuaskan, sehingga warga lebih cenderung pada tanaman lada. Namun masih ada 500 hektar kakao yang masih tersisa, serta sawah 50 hektar. Tapi usaha sawah kurang diminati untuk dikembangkan. Hasil produksi tidak dijual, melainkan untuk kebutuhan sehari-hari,” jelas Camat Routa.

Kurangnya perhatian Pemerintah Daerah didaerah tersebut membuat beberapa masyarakat mengganggap Kecamatan Routa harus memisahkan menjadi daerah otonomi baru. Dalam kunjungan seluruh SKPD di Routa beberapa waktu lalu warga menyampaikan beberapa keluhan. Bahar, Tokoh Pemuda Kec Routa mengatakan jika selama ini wilayah yang kaya akan SDA tidak pernah diperhatikan Pemda maupun pemprov, hal ini dapat dilihat dari inprastuktur penunjang yang kurang memadai.

“Kalau memang pemerintah sudah tidak sanggup mengurus Kecamatan Routa, karena mungkin jauh dari pusat pemerintahan, silahkan dilepas saja, Sulawesi Selatan (sulsel) siap menerima kecamatan Routa, apalagi selama ini perut kami sangat berhubungan dengan Sulsel, mulai dari hasil panen petani sampai kebutuhan masyarakat kami dapatkan dari Sulsel,” kesalnya.

Selain itu, pelayanan kesehatan juga sangat minim karena tidak adanya mobil operasional sehingga pasien yang gawat harus dirujuk ke provinsi tetangga untuk mendapatkan perawatan medis. Belum lagi pendidikan yang juga masih kurang memadai, wilayah tersebut hanya memiliki tiga sekolah dasar (SD) dan satu sekolah menegah pertama (SMP). Ironisnya, satu diantaranya yakni SD Baru Bela hanya memiliki satu tenaga pengajar yang juga menjabat sebagai kepala sekolah, sementara jumlah siswanya mencapai 67 orang. “Ada guru honor tetapi sudah berhenti, karena tidak pernah menerima upah, terpaksa orang tua siswa harus membayar iuran sebesar Rp 30 ribu setiap bulannya untuk membayar guru honor, agar anak-anak kami bisa mendapatkan pendidikan yang layak,” lanjut Rusdin, warga lainnya. (*/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top