Rektor, Wali Kota, DPRD dan Polisi Berbagi Pengalaman – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
UHO Cup Iklan Iklan 10 Iklan 23
Feature

Rektor, Wali Kota, DPRD dan Polisi Berbagi Pengalaman

Muh Yusuf/KP__Ribuan peserta MOS terpadu jenjang SMA/SMK se Kota Kendari di Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo (UHO), kemarin (27/7).

Muh Yusuf/KP__Ribuan peserta MOS terpadu jenjang SMA/SMK se Kota Kendari di Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo (UHO), kemarin (27/7).aman

-Revolusi Mental Melalui MOS Terpadu SMA Sederajat se Kota Kendari
   
Sebuah inovasi dunia pendidikan di Kota Kendari untuk tahun ajaran baru 2015/2016, khususnya jenjang SMA dan sederajat. Sebanyak 5.873 siswa baru berkumpul dalam satu tempat untuk memulai Masa Orientasi Siswa (MOS). Revolusi mental ditanamkan dalam diri mereka agar tetap menjaga kekompakan, silaturahim, dan keakraban guna mencegah konflik antar kelompok pelajar di Kota Kendari.

Mas Jaya
    
Hari masih cukup pagi. Waktu baru menunjukan pukul 06.30 Wita, namun suasana Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo (UHO) sudah ramai. Ribuan pelajar berseragam putih abu-abu menyesaki lokasi tersebut. Ada juga diantara mereka yang memilih seragam putih biru (seragam SMP, red) dan seragam olahraga.

Mereka bukanlah 8 ribuan mahasiswa baru yang diterima UHO pada SNMPTN, SBMPTN, dan seleksi lokal. Namun, mereka adalah siswa baru jenjang SMA dan SMK se Kota Kendari. Ribuan siswa baru itu sedang mengikuti pembukaan MOS. Sebuah gebrakan pada masa pengenalan siswa baru di Kota Kendari yang telah diterapkan dalam dua tahun terakhir.

Hujan rintik pagi kemarin, tidak menyurutkan semangat mereka. Ada yang posisi sikap tegap dalam barisan kelompoknya masing-masing, ada pula yang sibuk mencari rombongan siswa dari sekolah yang sama. Wajah mereka berseri-seri dalam balutan seragam baru, suasana baru di sekolah baru, teman baru, pada jenjang pendidikan yang baru dimasukinya.

Pemkot Kendari melalui Dinas Dikbud telah menerapkan penyelenggaraan MOS serentak sejak tahun ajaran 2014/2015. MOS serentak tersebut diikuti 24 SMA dan 22 SMK baik negeri maupun swasta. Tapi, Madrasah Aliah (MA) tidak ikut dengan alasan mereka berada di bawah payung Kementerian Agama, bukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jumlah siswa yang hadir mencapai 5.873 orang.

MOS hari pertama tersebut merupakan bagian dari pembukaan dari pengenalan sekolah yang akan berlangsung hingga tanggal 29 Juli. Seremoni tersebut mengambil tema, “MOS Cerdas, Mendukung Revolusi Mental”. Tema tersebut diambil dalam rangka mendukung slogan revolusi mental Presiden RI, Joko Widodo. Tak heran jika para siswa diajak untuk berkenalan dengan berbagai hal-hal baru. MOS pun dikemas dengan lebih edukatif dan penuh dengan hiburan.

Salah satu hiburan yang ditampilkan dan mengundang banyak decak kagum peserta adalah penampilan musik bambu. Pertunjukan tersebut dibawakan oleh anak-anak dari salah satu SD di Kendari. Musik bambu sengaja ditampilkan dalam ajang tersebut, mengingat permainan musik tradisional ini adalah salah satu permainan musik yang khas di Sultra. Dinas Dikbud Kota Kendari ingin menunjukan bagian dari kearifan lokal Sultra yang perlu diketahui dan dilestarikan oleh generasi mendatang.

Selain pertunjukan itu, penampilan Master of Ceremoni (MC) juga tidak kalah memukau. Salah satu MC yang membacakan susunan acara dengan menggunakan bahasa Jepang. Makanya hal tersebut terlihat sangat berbeda dalam menyemarakan acara. Menurut penuturan panitia, bahasa Jepang sengaja ditampilkan sebagai representasi dari globalisasi. Di mana, Jepang telah menjadi salah satu kiblat industri dunia, sehingga penting bagi generasi muda Kendari untuk bisa meniru semangat negara Sakura itu dalam hal membangun negaranya.

Pada momen tersebut, empat tokoh penting di Bumi Anoa didaulat untuk menjadi pembicara. Mereka itu, Wali Kota Kendari yang diwakili Sekot, Alamsyah Latunoni, Ketua DPRD Kendari, Abd. Razak, Kapolda Sultra yang diwakili Kabid Humas AKBP Sunarto, serta Rektor UHO yang diwakili PR I, Prof. Larianda. Masing-masing pembicara memberikan pandangannya dalam menggapai impian. Mereka juga menekankan bagaimana pentingnya karakter revolusi mental yang dibangun sedini mungkin ke generasi muda. Seperti yang dungkapkan Alamsyah. Jenderal PNS di Kota Lulo itu menceritakan bagaimana perjalanan karirnya dipacu oleh impian saat masih muda. Dikatakannya, bahwa dulu ia juga memiliki mimpi untuk menjadi orang besar. Mimpi itulah yang ia jaga, menjalani pekerjaannya dengan tekun dan sabar. Buah dari kerja-kerja tersebut adalah dipercayanya akan menghasilkan jabatan prestisius sebagaimana yang ia pegang saat ini. Katanya, setiap mimpi besar saat ini akan menjadikan setiap orang menjadi besar pula dikemudian hari. Asalkan impian itu dipupuk dan jalani dengan penuh komitmen untuk bisa menjadi yang bermanfaat bagi orang banyak.

Sementara itu, ketua panitia kegiatan, Muhidin menuturkan, MOS serentak tersebut bisa menjadi ajang silaturahmi bagi para siswa antar sekolah. Katanya, model pendekatan seperti itu juga merupakan bagian dari penanaman karakter revolusi mental. Hal itu juga sekaligus untuk menunjukan kepada para siswa bahwa MOS tidak selalunya indentik dengan perpeloncoan yang tidak edukatif.

“Kita ingin mengubah mindset mereka bahwa MOS yang baik itu seperti ini. Dengan harapan, hal tersebut bisa membentuk karakter mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan mustahil, bisa kebaikan-kebaikan yang mereka perbuat ke depannya juga adalah hasil dari mengikuti pembelajaran dan pengalaman hari ini. Ini yang akan terus kita support,” harapnya. (*/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top