Ciptakan MOS yang Edukatif dan Menyenangkan – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Opini

Ciptakan MOS yang Edukatif dan Menyenangkan

masa-orientasi-siswa-76

Oleh: Asmuddin, M.Pd

Pelaksanaan masa orientasi siswa (MOS) tahun pelajaran 2015/2016 dimulai sejak 27-29 Juli. Oritensi ini diharapkan jauh dari tindakan kekerasan atau perpeloncoan serta kegiatan-kegiatan yang tidak bernuansa pendidikan. Sekolah-sekolah diharapkan mengisi masa orientasi dengan beragam kegiatan yang berfokus pada pengenalan lingkungan dan budaya sekolah guna menyiapkan siswa baru mampu agar beradaptasi dengan sekolah baru mereka masing-masing.

Pelaksanaan MOS di sekolah seyogyanya menjadi tanggung jawab guru. Keterlibatan siswa senior, seperti pengurus OSIS, hanya untuk mendampingi dan mengenalkan kegiatan-kegiatan di sekolah. Cara ini untuk memutus rantai perpeloncoan yang mungkin bisa dilakukan senior kepada yuniornya, Saatnya menghentikan kebiasaan-kebiasaan yang dinilai tidak berkaitan dengan pendidikan, seperti penggunaan atribut yang aneh-aneh oleh siswa baru.

Modelmodel persyaratan yang harus dipersiapkan siswa baru yang serba merepotkan seperti, wajib menggunakan ular hitam melingkar, bungkus kepala, prahu darat bersimpul hitam, pelindung ceker setengah tiang warna putih, permen diikat jadi kalung, buku gelatik untuk jurnal, sampul buku hijau muda, rompi dari koran dengan gambar logo sekolah di dada kiri, tas dari kantong beras 25 kg dengan logo sekolah ukuran A4 full warna, telur asin, dan seterusnya. Persyaratan itu, saatnya dihilangkan karena semuanya tidak bernilai edukatif. Hal ini tentunya diperlukan pengawasan guru yang ketat guna menghindari senior berlaku aneh atau berbau ”kekerasan” kepada siswa baru yang berimplikasi pada traumatis siswa baru yang terkesan di kepalanya seakan-akan berada di sekolah itu sebuah momok yang menakutkan.

MOS tidak berfungsi sebagai sarana memuaskan keinginan para senior akan tetapi MOS dapat berfungsi atau bermanfaat sebagai: pertama, mengingatkan siswa sesuatu yang baru, menjadi warga sekolah yang baru akan mengingatkan siswa kepada hal-hal baru. Semangat dan cara belajar, seragam sekolah, lingkungan sekolah, aturan dan tata tertib yang baru, termasuk cara bersikap dan bertingkah laku di sekolah baru. Kedua, mengenalkan siswa pada lingkungan baru. Siswa baru perlu mengenal semua lingkungan baru di sekolah, karena dengan mengenal lingkungan, siswa akan bersemangat untuk belajar.

Ketiga, mengarahkan siswa pada program dan cara belajar. Di sekolah baru, siswa akan mengalami program dan cara belajar yang baru. Pengarahan ini bertujuan agar siswa dapat memulai belajar dengan penuh semangat untuk meraih prestasi belajar yang baik. Prestasi belajar dimaksud adalah prestasi akademik dan prestasi non akademik sebagai wujud pengembangan diri siswa. Lalu, ke empat yakni menumbuhkan budi pekerti yang baik. Siswa baru diharapkan dibiasakan pada perilaku-perilaku positif, seperti berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, mengenalkan pola hidup bersih, pola hidup sederhana, keteraturan, kedisiplinan serta menjalin keakraban sesama siswa baru dan senior ataupun warga sekolah pada umumnya.

Selama MOS berlangsung, siswa baru harus diperkenalkan kultur sekolah serta jenis karakter seperti apa yang ingin dikembangkan di sekolah tersebut. Penjelasan tentang visi dan misi sekolah penjabarannya dalam bentuk kurikulum menjadi sarana untuk menyampaikan kultur macam apa yang hendak dibangun kepada para siswa baru. Kegiatan-kegiatan, seperti olah kreativitas, baris berbaris, olah raga, dan sebagainya, dapat melatih siswa baru mengembangkan karakternya menjadi ciri khas sekolah. Hal perlu diperhatikan dalam kegiatan MOS yakni :

Persiapan Kepanitiaan yang baik

Persiapan yang baik dari segi kepanitian MOS mutlak harus dilakukan. Para siswa yang akan membimbing siswa baru itu perlu dipilih dari pribadi-pribadi yang siap dan mampu memahami materi yang akan diberikan. Seluruh unsur panitia MOS harus dilatih dengan benar, agar nantinya dapat mendampingi para siswa baru selaku juniornya. Penguasaan mereka terhadap materi juga perlu ditekankan,agar penyampaiannya tepat sasaran. Bahkan dari pihak guru sebeulnya idealnya adalah panitia.

Kegiatan MOS sebagai penjabaran visi dan misi sekolah

Segala kegiatan yang dilaksanakan dalam kegiatan MOS seharusnya merupakan penjabaran dari visi dan misi sekolah. Dan itu artinya, semua kegiatan yang tidak relevan dengan visi dan misi sekolah harus dihilangkan. Inilah yang harus diperhatikan, agar tidak terjadi penyelewengan kegiatan MOS kepada hal-hal yang cenderung mengarah pada kekerasan serta bersifat “perpeloncoan”. Bahkan terkadang MOS dimanfaatkan sebagai ajang “balas dendam” atas perlakuan kakak kelas mereka di masa lalu. Karena itulah perlu adanya pemahaman yang baik terhadap visi dan misi sekolah.

Pendampingan dan pengawasan guru terhadap siswa senior

Panitia MOS dari unsur siswa senior perlu mendapatkan pengarahan yang baik dari para guru sebagai panitia utama yang bertanggung jawab menyelenggarakan kegiatan MOS. Para siswa yang menjadi panitia tersebut perlu dilatih untuk mampu melaksanakan tugasnya sesuai kesepakatan bersama dalam kepanitiaan agar MOS dapat dilaksanakan dengan baik. Tanpa adanya pendampingan dan pengawasan dari guru, biasanya akan memunculkan kegiatan-kegiatan yang menyimpang.

Perlunya panduan atau teknis pelaksanaan MOS

Panduan MOS perlu disusun oleh pihak sekolah dan pihak Dinas Pendidikan setempat untuk dijadikan pedoman pelaksanaan bagi semua peserta maupun panitia. Rangkaian kegiatan dan prosedurnya perlu disusun dengan jelas, supaya panitia dapat menjalankan kegiatan secara kompak untuk semua siswa baru. Panduan pelaksanaan ini juga dapat dijadikan rujukan dalam membuat kegiatan serupa di tahun-tahun berikutnya.

Harus diingat bahwa MOS merupakan wahana pengenalan kultur dan karakter sekolah kepada para siswa baru. Kegiatan yang diberikan kepada peserta MOS hendaknya yang berkaitan dengan pengenalan budaya dan lingkungan sekolah atau yang mendidik dan menambah wawasan peserta. Sekolah harus menjamin tidak boleh ada kekerasan atau tindakan-tindakan yang berefek pada fisik dan mental siswa baru. Tentunya pihak terkait seperti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan wajib memantau pelaksanaan MOS untuk memastikan bahwa MOS dilaksanakan di sekolah sesuai tujuan, fungsi dan manfaatnya.

Penulis adalah Pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI) Sultra

Komentar

komentar


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 1001
1 Comment

1 Comment

  1. Daniela

    20 Nov 15 17:16 at 17:16

    If you have postpartum diseepsron, you have had five or more depressive symptoms (including one of the first two listed below) for most of the past 2 weeks, including:1 * Depressed mood-tearfulness, hopelessness, and feeling empty inside, with or without severe anxiety. * Loss of pleasure in either all or almost all of your daily activities. * Appetite and weight change-usually a drop in appetite and weight, but sometimes the opposite. * Sleep problems-usually trouble with sleeping, even when your baby is sleeping. * Noticeable change in how you walk and talk-usually restlessness, but sometimes sluggishness. * Extreme fatigue or loss of energy. * Feelings of worthlessness or guilt, with no reasonable cause. * Difficulty concentrating and making decisions. * Thoughts about death or suicide. Some women with PPD have fleeting, frightening thoughts of harming their babies: these thoughts tend to be fearful thoughts, rather than urges to harm.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top