Gadis Cantik Berbusana Adat Kombo Wolio Menyuapi Setiap Pengunjung – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Feature

Gadis Cantik Berbusana Adat Kombo Wolio Menyuapi Setiap Pengunjung

-Tradisi Kande-kandea Tolondona Buteng Usai Idul Fitri
   
Masyarakat Buton memiliki beragam budaya yang masih terus dilestarikan hingga saat ini. Salah satu tradisi tahunan yang digelar sebagai rangkaian Hari Raya Idul Fitri yakni Kande-kandea. Momentum itu dijadikan sebagai wadah silaturahmi dalam memperkuat tali persaudaraan.

10390979_10202849207350590_3447647811401299927_n

La Ode Aswarlin
    
Buton kaya dengan warisan budaya leluhur yang berhasil dipertahankan dari ganasnya pengaruh kehidupan modern. Kentalnya aroma adat istiadat masih terus dipertahankan dan digelar pada waktu atau bulan tertentu. Usai perayaan Idul Fitri, salah satu ritual adat yang kerap diselenggarakan yakni ritual Kande-kandea di Desa Tolandona Kecamatan Sangiawambulu Kabupaten Buton Tengah.

Pesta adat Kande-kandea bukan hanya menjadi ajang untuk bersilaturahmi antara sesama masyarakat Tolandona dalam momen perayaan Idhul Fitri. Warga dari Kota Baubau dan Kabupaten Buton ikut ambil bagian dengan berbondong-bondong mendatangi desa yang bisa ditempuh dengan perjalanan 20 menit menggunakan transportasi laut dari Jembatan Batu (Pelabuhan Rakyat Kota Baubau).

Warga Buton Tengah yang mudik tak mau buru-buru kembali ke daerah rantau. Mereka tak ingin melewatkan momen pesta adat yang digelar sekali setahun itu. Ada beberapa hal unik yang bisa disaksikan dalam ritual tersebut, diantaranya kesibukan para gadis cantik yang berbusana adat Kombo Wolio menyuapi setiap pengunjung. Layaknya seorang ibu yang sedang memberi makan anaknya.

Makanan yang disajikan tersimpan di talam, tertutup tudung saji berhias. Dalam talam tersedia aneka makanan tradisional. Lapa-lapa atau nasi beras ketan merah yang dicampur beras biasa dan dibungkus daun kelapa muda, aneka lauk yang disajikan dengan bumbu khas Buton seperti ayam nasu wolio ditambah berbagai jenis kue seperti onde-onde, sanggara (pisang goreng), ngkaowi-owi (ubi), cucur dan waje. Selama prosesi tradisi berlansung, pengunjung yang datang akan dihibur lantunan lagu dan musik daerah dengan tabuna beduk. Setiap yang ikut menikmati makanan tersebut dapat memberikan sejumlah uang sesuai kerelaan kepada para gadis tersebut sebagai bentuk terima kasih.

Dahulu, ritual pekande-kandea awalnya dilaksanakan di Kesultanan Buton pada abad ke-16 oleh perangkat Masjid Kesultanan setelah melaksanakan puasa Ramadan. Ritual itu dilaksanakan untuk mengenang perjalanan hidup manusia atau proses kejadian diri manusia dari alam roh ke alam nyata sehingga menjadi sempurna. “Seperti diketahui, Kerajaan Buton adalah negeri yang berdaulat sejak abad ke-13 dan mengubah status pemerintahan menjadi Kesultanan Buton pada saat Ramadan 948 Hijriah atau 9 Desember 1541 Masehi. Ketika itu, agama Islam resmi dijadikan agama negara yang memiliki kedaulatan tiga abad lamanya,” jelas salah seorang tokoh masyarakat Tolandona saat membacakan sinopsis kande-kandea Tolandona.

Selama Buton dipimpin enam raja dan 37 Sultan dan Wolio sebagai pusat pemerintahan. Pada masa pemerintahan Sultan Kobadiana yakni Muhamad Idrus Kaimuddin sempat terjadi pergolakan di wilayah Kesultanan Buton maka dari utusan Kesultanan mengambil beberapa kesatria Tolandona. Kedatangan empat kesatria asal Tolandona itu yang selanjutnya dapat meredam pergolakan dan akhirnya melakukan gencatan senjata untuk mewujudkan perdamaian. Atas kemenangan empat kesatria tersebut, pemerintah melakukan penjemputan berupa makan-makan bersama atau yang lebih dikenang dengan kande-kandea. Ritual ini kemudian terus berlanjut dan dipertahankan hingga saat ini untuk mengenang empat kesatria Tolandona yang gagah berani berjuang mempertahankan keutuhan Kesultanan Buton dalam konflik yang menelan banyak korban jiwa.

Selanjutnya, atas jasa keempat kesatria tersebut, Kesultanan Buton memberikan penghargaan fatun berupa tongkat yang digunakan pada saat khotbah Jumat. Tongkat itu merupakan tongkat keenam setelah Masjid Keraton Buton, Katuko Barata Wuna yang sekarang wilayah Kabupaten Muna, Katuko Barata Tiworo yang sekarang wilayah Kabupaten Muna Barat, Katuko Barata Kulinsusu wilayah Buton Utara, Katuko Barata Kaledupa wilayah Kabupaten Wakatobi dan Katuko Tolandona yang sekarang wilayah Kabupaten Buton Tengah. Pemerintah Kesultanan juga memberikan penghargaan dengan hadiah berupa sebidang tanah katampai yang terletak di sebuah pulau yang hari ini menjadi wilayah Kecamatan Kapuntori dan berhadapan dengan Desa Barangka.

Dari rentetan peristiwa sejarah Kesultanan Buton selalu tampil putra terbaik Tolandona di antaranya Sangiawambulu di masa Sultan Dayanu Ikhsanuddin, lelaki Tolandona La Ode Hasan, empat kasatria Tolandona di masa Sultan Idrus Kaimuddin termasuk Lakina Limbo La Ode Mboho dimasa Sultan La Ode Asikin dan masih banyak lagi. Mereka selalu tampil mengambil peran dalam memberikan solusi dalam setiap kisruh yang terjadi demi terjaga dan terpeliharanya wilayah teritorial Kesultanan Buton.

Tidak berlebihan jika masyarakat Sangiawambulu mengukuhkan Samsu Umar Abdul Samiun sebagai bapak pemekaran dalam momentum Kande-kandea yang dihelat akhir pekan lalu di Desa Tolandona. “Ini membuktikan bahwa dalam setiap perjalanan pemerintahan putra Tolandona selalu ada untuk menambah catatan sejarah perjalanan dari generasi Kesultanan Buton hingga pemerintahan yang modern,” tambahnya.

Dalam momentum pekande-kandea tahun ini, masyarakat Tolandona berharap para penerima tongkat Kesultanan khotbah Jumat dari pemerintah Kesultanan Buton bisa selalu kompak dan bersatu padu melahirkan tongkat ketujuh yakni Provinsi Kepulauan Buton sebagai negeri Wawoangi atau negeri yang berkuasa dibawah angin. (*/b)

Komentar

komentar


Notice: Trying to get property of non-object in /home/kendaripos/public_html/wp-content/themes/flex-mag 1.13/functions.php on line 1001
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top